Powered By Blogger

Minggu, 20 Maret 2011

Adil Sejak Dalam Pikiran



Katanya kebahagian itu kalau kita punya uang seratusan dolar satu gerobak, dan yang dorongnya ceweq-ceweq seksi macam Mulan Ratu. Tapi, siapa yang jamin kebahagiaan itu begitu?. Bagaimana kalau kita lihat perkataannya Rumi:

“Seandainya kamu memiliki ribuan kepingan uang emas, Kemudian kamu pergi membawa kepingan uang emas itu, menggembolnya ke dalam hutan sementara kamu tidak membawa makanan, apa kamu bakal memakan kepingan-kepingan uang itu seandainya kamu lapar?.”

Kemudian saya bertanya, lalu kebahagiaan itu apa?.
Jangan-jangan kebahagiaan itu, punya banyak makanan.
Ternyata nggak juga. Banyak orang yang memiliki makanan, tapi hidupnya resah, gelisah. Jiwanya seperti berada di balik jeruji. Hidupnya seperti terpenjara.

Saya sendiri bingung, untuk mendefinisikan kebahagiaan itu apa.
Kemudian saya baca lirik-liriknya penyair Persia bernama Saadi. Dia berkata

“Aku menangis karena aku tak memiliki sepatu dan aku berhenti menangis, saat aku melihat orang yang tak memiliki kaki.

Apa kebahagiaan itu ada manakala kita menggunakan kaus kaki dan memiliki sepatu atau manakala kita memiliki kaki?.
Rasanya tidak. Banyak orang yang punya kaki juga nggak bahagia.

Lalu Saya berfikir. Dulu saya sering sekali naik mobil pribadi meski mobil pribadi itu milik bapa. Sekarang waktu niat ngembara, saya tidak memiliki kendaraan pribadi. Motor tidak. Sepeda tidak, bahkan kuda pun tidak. Saya seringnya jalan kaki dengan adik saya dari kontrakan menuju toko buku yang kami buat bersama.

Satu waktu saya cape. Saya sudah gak kuat lagi jalan jauh. Begitu pula dengan dia. Akhirnya, pas toko tutup, saya setop itu angkot. Dan di dalam colt yang sesungguhya mirip box, Adik saya senyam senyum. Dia cengengesan dan bilang kalau naek angkot itu, termyata enak. Nggak jalan kaki itu enak.

Saya ketawa. Bener kata dia.
Pada jam 10 malam kami mendapat kebahagiaan.
Termasuk pas pulang, menuju kontrakannya.
Emang ada apa dengan kontrakan?.

Begini. Pagar kontrakan selalu terkunci kalau kami pulang. Pasalnya pagar itu digembok tepat jam 9 malam. Karena nggak punya kunci untuk masuk ke dalam, kontrakan kami harus lompat kayak maling celana dalam. Tapi, pas udah siap-siap melintir-melintir celana jeans, dan Adik saya sedikit ngangkat rok lebarnya supaya gak robek, saya nengok. Eh ternyata pintu pager gak di gembok. Wah senengnya bukan main. Pada jam 10 malam itu kami mendapat kebahagiaan (lagi),

“Tapi ... kebahagiaan itu apa?.”
Kami sendiri tidak tahu. Hingga akhirnya beberapa waktu kemudian, Adik saya tertawa,
“Aku tau kebahagiaan itu apa!.”
“Ya apa?.”
“Kebahagiaan itu bukan sesuatu yang dapat didefinisikan. Kebahagiaan itu ada di hati!?.”
Saya tunjuk dadanya. “Ada di sana?.”
Dengan mantap ia mengatakan
“Ya!.”
Acin cemburu melihsat ….
Suatu saat, mungkin saya akan bertemu dan berkenADIL SEMENJAK DI KEPALA

Malam yang rintik. Dia disampingku. Namanya Ragoe. Sebuah sepeda motor yang pekak, melewati kami. Knalpotnya mencungkili telinga membuat hati kami keruh. Aku katakan pada sahabat di sampingku itu.
“Orang itu aneh-aneh aja. Udah tau idup manusia banyak dosa, dia malah nambah buat dosa”.
“Dosa apa?”.
“Knalpot racing seperti itu mengotori hati orang. Membuat hati keruh dan gendang telinga rusak”.
Ia tidak memberikan tanggapan tapi saya tahu dia berfikir.
Tak berapa lama, setelah melewati jembatan sebuah razia terjadi. Beberapa orang polisi menyetop pengendara motor. Saya kembali berkomentar.
“Malam-malam gini cari duit”.
“Nyari Nurdin M Top kali”.
Aku tertawa. “Polisi kayak gitu lagi cari duit tau. Mereka lagi ngobyek. Berharap ada orang yang tidak bawa SIM”.
“Lalu mereka berharap orang yang tidak bawa SIM itu nyogok?. Dan mereka dapet uang haram untuk sekedar beli rokok atau makan di warung pinggiran?”.
“Begitulah polisi Indonesia. Itu pasti!”.
Tiba-tiba Ragoe membalikkan kata-kata saya. “Kamu itu aneh-aneh aja. Udah tau idup manusia banyak dosa kamu malah nambah-nambahi dosa aja”.
Sialan. Saya berusaha mencari waktu untuk bisa berfikir dengan bertanya padanya.
“Dosa apa?”.
“Dosa berburuk sangka”.
“Saya masih coba mengelak”.
“Berburuk sangka gimana?.”
“Itu memang tugas mereka bukan?. Siapa tau mereka memang ikhlas melakukannya”
Ah, saya salah lagi.
“Ya, ya, ya. Saya memang salah”.
Ragoe tersenyum gemilang.

Esoknya, dia datang lagi. Memberi secangkir kopi susu, tanpa gula serta setangkup roti berisi abon diolesi mentega. Saya berniat balas dendam karena kegemilangannya membalikan kata-kata yang saya keluarkan tadi malam.

“Saya pernah dengar, beberapa hari lalu ada orang yang bilang kalau Gramedia itu Kapitalis, karena menjual buku dengan sampul plastik sehingga tak ada orang yang bisa membacanya”.
Ragoe mengakui itu perkataannya. Saya katakan.
“Bagaimana itu bisa disebut kapitalis?. Bukankah sah-sah saja menjual buku dengan sampul plastik”.
“itu salahnya. Itu kapitalisnya. Orang kapitalis kepentingannya hanya jualan saja”.
“Lho apa salahnya jualan saja. Asal jualan itu dengan aturan, kan tidak masalah. Apakah dalam sistem keyakinan kita hal itu bisa dikatakan salah. Menjual buku dengan sampul plastik tanpa bisa dibuka adalah salah?”.

Tanpa perlu mengutip hadis ini dan ayat tertentu, tampaknya Ragoe gamang juga dengan perkataannya yang kemaren. Saya melanjutkannya.

“Berjualan itu tidak masalah. Berjualan itu tidak menjadi soal caranya. Asal dalam sistem keyakinan kita cara itu diperbolekan. Kita tidak serta merta, bisa mengatakan bahwa apa yang tidak sesuai dengan pandangan kita itu Kapitalis. Kapitalis itu jelas. Suatu tindakan mengumpulkan uang tanpa memperdulikan aturan yang kita yakini. Tanpa memperdulikan kemanusiaan yang manusia yakini universal. Sekelompok orang menjual sumber daya alam sebuah negeri untuk membesarkan perusahannya padahal seperti yang kita yakini sumber daya alam itu milik rakyat bukan milik perusahaan. Tindakan sepert ini yang bisa dikatakan tindakan Kapitalis”.

Saya tak tahu dia menerima pendapat saya atau tidak tapi yang pasti cara penerimaan saya akan pendapat orang berbeda dengan cara penerimaan dia terhadap pedapat orang. Kalau saya merasa salah maka di tempat itu pula saya akan mengatakan bahwa saya salah, kalau Ragoe salah, biasanya dia cuma diam tapi lain waktu saat menemui permasalahan yang sama dia akan menjawab dengan jawaban baru yang disampaikan oleh orang yang ia anggap telah meluruskan argumentasinya.

Tiap manusia berbeda bukan? Kita tidak bisa mengharapkan ada orang yang mengakui kesalahan saat itu juga karena ini masalah karakter. Sama halnya ketika saya berdiskusi dengan seseorang berambut dread lock. Gimbal De La Rocha itu mengatakan bahwa masyarakat terbagi ke dalam dua golongan. Satu kaum kaya, lainnya kaum miskin. Kaum kaya sudah lama menindas kaum miskin oleh sebab itu kita harus membela kaum miskin.

Saya tidak sepenuhnya sepakat tentang hal ini. Dalam pandangan saya, suatu kaum itu benar manakala mereka benar, dan satu kaum itu salah manakala mereka salah. Setiap kaum memiliki potensi untuk menjadi salah dan menjadi benar.

Realitanya memang demikian kok. Sudah berpuluh kali saya ditindas oleh kaum yang biasa disebut miskin. Beberapa kali saya ditipu oleh mereka saat saya mengupahinya untuk sekedar membeli pot bunga, air mineral, makan nasi kucing dan lain sebagainya. Atau pas saya hendak berangkat dari kosan di Kanayakan menuju ITB. Waktu itu saya marah-marah karena supir angkutan kota menaikan tarif seenaknya.

Teman saya yang kebetulan waktu itu ikut pergi, sinis karena sikap dingin saya pada supir angkutan kota itu.
“Alah tibang dua ratus doang. Niatin aja nyumbang!”.
Mendengar itu saya diam. Saya berniat untuk memberitahukannya setelah emosinya reda melihat kengototan saya.

Hingga saat ini saya tidak pernah merasa apa yang saya lakukan saat turun dari angkutan kota adalah kesalahan. Biar saya diteror bingkisan upil sekantung kresek, demi Allah saya nggak akan mengakuinya sebagai kesalahan. Uang sekecil apapun, duaratus rupiah sekalipun adalah hak saya. Jika hak seseorang telah dilanggar apa yang harus dilakukan?.

Saya memang harus menuntut, memperingatkan orang yang sudah merampas hak saya. Apa saya salah? Mengapa tidak niatkan saja sedekah seperti yang dikatakan teman saya. Supaya tidak disebut pelit?

Enak aja! Seumur-umur ibu bapak tidak pernah mengajarkan saya pelit. Kalau saya pelit, saya durhaka sama kebenaran yang sudah berpuluh tahun mereka contohkan ke saya.
Coba difikir, apakah sedekah namanya kalau hak kita dirampas kemudian kita merelakannya?. Itu bukan sedekah. Itu namanya melazimkan penindasan. Itu namanya nggak berniat, melakukan upaya meluruskan, mengingatkan kesalahan.

Kalau sedekah bukan begitu caranya. Sedekah itu memberi orang dengan niat ikhlas, bukan membiarkan orang merampas hak kita kemudian mengatakannya sebagai sedekah.
Teman saya itu tak sadar. Di dunia ini yang harus dibela bukanlah kaum miskin atau kaya. Yang harus dibela adalah kebenaran. Kebenaran dari kaum manapun juga. Entah kaya ataupun miskin.

Islam mengajarkan keadilan dan sikap fair. Saya meyakini itu. Saya meyakini bahwa setiap manusia akan selalu melakukan dosa kecuali Muhammad. Saya meyakini bahwa manusia seharusnya menyepakati keadilan dan sikap fair karena manusia sudah seharusnya begitu meski dalam praktiknya kita terkadang keluar dr konsep yang kita yakini.

Manusia akan selalu melakukan kesalahan. Bangun dan jatuh untuk meluruskan tindakannya sendiri atau tindakan orang lain. Manusia akan merasa melakukan kesalahan. Merasa salah seperti sejenak saat saya tidak adil terhadap polisi yang melakukan razia.

Ya, keadilan sudah seharusnya ada semenjak dalam kepala. Demikian Pramoedya Ananta Toer mengatakannya. Dan saya akan mengingat baik-baik perkataan itu sampai saya mati. Sebab saya berusaha fair, bahwa orang yang berada di luar jalur fikiran dengan sayapun memiliki kebaikan dan kebaikan itu selaras dengan apa yang dikatakan keyakinan fundamental saya.
Maukah kita bersikap adil atau setidaknya mengatakan mana yang adil dan mana yang tidak meski kita melakukan kesalahan. Maukah kita bersikap fair terhadap orang diluar keyakinan kita?. Maukah kita kembali pada ajaran suci yang telah mengajarkan itu pada umat manusia, berabad lamanya?. [tebsiturasanyakayakbir]

Selasa, 15 Maret 2011

Frustasi part 3

"Ya, Allah, jadikanlah aku memiliki keteguhan hati untuk menjadi pembunuh.

Demikian doaku dalam hati.

"Jika tidak, ya Allah jadikanlah kami memiliki kesabaran untuk memperbaiki diri, memperbaiki keluarga, memperbaiki lingkungan sebelum kapak Ibrahim itu benar-benar berada ditangan dan kami gunakan untuk mengkapak berhala."

Frustasi part 2

(Beberapa waktu lalu)

Tak terhitung orang yang memutuskan mengakhiri hidupnya dengan meminum racun, lompat dari escalator mall, memasukan laras bareta dan meledakkan kepalan karena frustasi, atau menjadi pemabuk ketika harus berhadapan dengan teka-teki yang tak bisa di ratakan oleh palu atau godam itu.

Seorang filsuf yang tak mempercayai wahyu pernah mengatakan bahwa dilahirkan ke dunia adalah kutukan, karena manusia harus menanggung pertanyaan berat yang sudah membuat banyak orang gila. Tapi tampaknya kegilaan itu bukan hanya ada dalam hal-hal yang eksistensialis. Bisikan-bisikan itu menyergap dimana-mana. Kehidupan yang kita jalani pun sarat akan aktivitas yang bisa membuat gila.

***

Beberapa waktu lalu, aku melihat transkrip pembicaraan antara Denny Indrayana dengan Miliana istrinya Gayus Tambunan. Transkrip itu memuat bujukan dan –di beberapa tempat—ancaman pengadilan, ancaman Allah bagi Milea tatkala ia menyembunyikan informasi yang –demi keadilan-- seharusnya dibuka. Lalu berhamburanlah kalimat-kalimat religius dari bibir Miliana:

“Hanya karena Allah saya masih bisa bangkit dan berdiri.”
“Allah Al Bashiir.”
“Hanya Allah Yang Maha Tahu tentang kedekatan saya dengan Dia.”

Apakah itu tak membuat frustasi?

Ketika wartawan megerubungi Gayus serupa rametuk atau lebah yang menyengat Gayus dengan pertanyaan konfirmasi mengenai dugaan kepergian dia ke Hongkong, Taiwan, Singapura, Gayus sang superhuman itu menepis: Mau apa sih kalian itu! Kalian wartawan tidak mau melihat Indonesia lebih baik ya! Ujar Gayus geram.

Mengutip kata-kata anak-anak pergaulan, “OMG!” logika macam apa itu? Maling teriak maling. Dengan mulutnya penjahat berubah menjadi seorang patriotis.

Dan apakah hal ini tidak membuatmu frustasi?

Apa hal ini tidak mendorongmu untuk lebih memilih acara petualangan menyelam di Raja Ampat, kuliner di Semarang atau makan geco (toge tauco) di Bogor ketimbang mencermati berita-berita ekonomi politik bangsat yang membuat suasana hati kita sepanas karburator yang membuat kendaraan mogok di jalan tol Jagorawi.

Adalagi ketika Musdah Mulia, atau aktivis gender lainnya mengatakan bahwa jilbab adalah budaya Arab. Feminis UI mengatakan, itu karena di Arab panas dan banyak debu.
Lho, bukankah karena panas justru seharusnya budaya berpakaian orang Arab seperti halnya budaya berpakaian negeri katulistiwa.

Di masa lalu para wanita pulau Bali tidak mengenakan bra, tidak menutupi payudaranya seperti halnya suku-suku di Papua. Bukankah harusnya wanita-wanita di jazirah Arab yang panas menggunakan pakaian seperti halnya pakaian belly dancer, penari perut yang memperlihatkan punggung, bahu dan pusar?

Kenyataanya memang seperti itu sebelum masa Rasulullah, namun wahyu kemudian turun, dan memerintahkan wanita muslimah menutup tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Sebelum itu, para wanita di jazirah Arab tidak mempedulikan apakah tubuhnya terbuka atau tidak? Kaum wanitanya memperlihatkan lekuk lekuk dan goyangan tubuhnya di kawasan terbuka, seperti pasar dan di kedai-kedai tempat bersantai.

Terlihat sudah mana yang asal bicara mengenai hijab, dan mana yang bersandarkan rujukan yang otentik. Tapi, meskipun sudah kita tunjukkan rujukan itu adakah perubahan pandangan mereka mengenai hijab selama beberapa dekade ini? Tidak.

Apakah kengeyelan itu tidak membuat frustasi?

Kemudian, suatu hari DPR ingin membuat gedung dengan biaya trilyunan. SBY ngeluh, kenaikan gaji, segera ditindaklanjuti dengan naiknya gaji.

Apa itu pun tidak bisa membuat kita gila?

Melihat kondisi bangsa ini, Sapardi Djoko Damono, sama: stress. Ketika ditanya sebuah Koran nasional mengenai kondisi bangsa ini, jawaban-jawabannya kelam. Ia pesimis. Sama seperti aku, sahabat-sahabatku, dan mungkin Kamu.

Indonesia di ambang kehancuran. Reformasi adalah tai babi. Lembaga POLRI, Pengadilan, DPR, Presiden, sudah tidak perlu diharapkan. Negeri ini berputar-putar di dalam hurricane kerakusan.

Kita masuk di masa kegelapan, tak ada harapan untuk reformasi. Kita masuk ke dalam sebuah gua yang gelap. Satu satunya harapan adalah memotong beberapa generasi. Menembak mati menggantung para pendengki, menggorok politisi negeri ini sebelum kita menjadi gila.

***

Islam datang untuk memuliakan manusia,
untuk merubah kondisi. Islam menyiapkan perangkat,
yang memberikan ketenangan dalam panasnya tungku pertarungan.

Frustasi part 1

Di penghujung malam, ia mengajakku berbincang. Tentang cinta? Tidak. Bukan itu. ini mengenai alam semesta yang seolah tak terbatas.

Sebuah penelaahan anak bangsa ini mengungkapkan. Melalui teleskop canggih, anak bangsa itu menemukan ratusan planet seperti bumi dari ribuan galaksi yang ada, dan mungkin akan bertambah.

“Apa planet seperti bumi itu dihuni oleh manusia seperti kita?”
Aku mengangkat bahu. “Mungkin saja.”
“Islam adalah untuk rahmat sekalian alam. Apa di planet-planet itu Al Quran diturunkan?”

Ia bertamasya. Kami bertamasya pikiran. Kami tau, tak ada kepastian atas jawaban yang berusaha kami temukan di malam itu.

“Apakah planet-planet seperti bumi itu menjadi tempat tinggal mahluk halus, semisal jin. Atau mungkin alien?”

Mungkin saja. Kita tidak pernah tahu mengenai hal itu. Jin mungkin memiliki kecepatan berpindah menyerupai mesin teleportasi seperti dalam film star trex karena di katakan quran mereka mampu mencuri dengar perbincangan di langit, lalu menyampaikan perbincangan itu ke bumi dan meletakkan bisikkan-bisikan kepada para cenayang, shaman atau dukun-dukun kampung yang acapkali berhasil menebak angka dadu yang keluar dalam ajang perjudian. Dan jarak antara bumi dan lapisan-lapisan langit tinggi itu tak terbayangkan. Manusia masa kini hanya sanggup mengukurnya menggunakan ukuran tahun cahaya. Mungkin jaraknya seperti itu, atau bahkan mungkin. Kita tak tahu.

Lalu, hati ini seperti disiram air yang membuat gigil. Ada goda kehampaan.

“Manusia,” ujarnya mengutip seorang ilmuwan. “Adalah replica alam semesta. Sosok atom, dengan pasangan proton dan neutronnya, dengan sel dan serat-serat di kulitnya, dengan jaringan sarafnya itu seperti alam semesta. Tubuh manusia adalah proyeksi keagungan alam semesta.”

Dan hal itu kadang membuat kami bimbang. Ada bisikan, ada godaan kehampaan yang tercampur oleh keimanan mengenai keagungan Allah sang pencipta dan keterbatasan kami selaku manusia. “Bisa saja ternyata bumi, matahari hanyalah sel-sel atau atom-atom yang merupakan salah satu bahan penyusun sebuah tubuh maha raksasa. Dan manusia?”
“Apalah artinya,” sambung dia.

Ia bernafas seolah-olah alam semesta hendak dihirup olehnya. “Apa mungkin planet planet seperti bumi itu adalah surga? Bukankah Rasulullah mengatakan bahwa jarak antara satu surge dengan surge yang lain adalah seperti halnya jarak ketika kita menatap bintang-bintang?”

Sebuah hela nafas eksistensial sekali lagi terdengar.

Aku pun pernah memikirkan hal yang sama. Dulu, dia pun demikian. Kamu? Mungkin saja. Aku tak tahu sampai kapan pertanyaan ini akaan menghilang. Kami hanya berharap suatu saat kami bisa dipertemukan di surganya, menuju arrasy-singgasana dan memandang wajah pemilik misteri alam, dan mengunduh jawaban dari lisan-Nya, langsung tanpa perantara.

Jika Rapid Eye Movement (REM) bernyanyi “If you believe there's nothing up my sleeve, then nothing is cool.” Yang dikutip oleh para atheis mengenai tidak ada sesuatu yang cool dari penciptaan, maka. “Otak orang atheis pasti ada dilututnya,” ucap dia sinis. “Mungkin ada di lubang pantatnya.”

Aku tak tertawa. Tak ada yang perlu ditertawakan dari gurauan itu.


***
Memikirkan alam semesta,
jika tak dilandasi oleh keimanan yang berpangkal pada sebuah keyakinan
bisa menimbulkan frustasi.
Allah, sang Pencipta adalah satu-satunya pengharapan.

Sabtu, 05 Maret 2011

Cerita Kita

seorang nenek tua tertatih-tatih memapah tubuhnya yang mulai renta, menyusuri kerumunan jalanan kota metropolitan kawasan lampu merah sambil menadahkan tangan keriputnya, menunjukkan wajah sesedih-sedihnya,

"pak... uangnya pak.. saya sudah tiga hari ndak makan... 1000.. aja" sambil memanjangkan intonasi di angka rupiah yang sangat dibutuhkannya itu...
sang pemilik mobil BMW seri 6 keluaran terbaru yang harganya sekitar 1,2 milyar itu, mendongakkan kepala ke luar. Wajahnya yang dipenuhi rambut-rambut halus.. memandang sekilas pada si nenek dan nenek-nenek serta anak-anak lainnya di sekitaran lampu merah... dia.. sang pemilik mobil memasukkan kepalanya kembali dan menyuruh sopirnya turun seraya memanggil beberapa anak-anak dan nenek-nenek itu untuk bersama-sama menikmati mobil BMW seri 6 yang baru dibelinya kemarin... nenek-nenek dan anak-anak pengemis itu kebingungan, menoleh kiri-kanan, siapa tahu aja ada kamera, kayak yang di tv-tv itu... nggak ada tuh.. oh.. mungkin disembunyiin...

mobil melaju dengan kecepatan sedang membawa nenek-nenek dan anak-anak pengemis itu menuju sebuah tempat yang misterius... entah.. yang pastinya bukan ke antah berantah...

setelah tiba di tujuan, sang sopir diperintahkan oleh majikan yang berwajah seram untuk segera menuju lampu merah dan angkut sebisa mungkin, kalau bisa sampai habis semua pengemis-pengemis amatiran itu...

Satu jam kemudian RESTORAN BINTAMG LIMA di kota metropolitan itu dipenuhi orang-orang yang seharusnya tak berada di sana... lahap menikmati santapannya.. bersama seorang pria berjanggut yang selalu menghiasi bibirnya dengan bisikan dan senyuman. Adzan berkumandang mengingatkan setiap umatnya untuk bersegera... mesjid hari ini dipenuhi oleh para konglomerat, pengusaha, bisnismen terkenal, dan aktor-aktor kawakan, berdiri bersama dalam satu barisan menyembah DZAT yang sama, di antara orang-orang hebat ini terselip kakek jompo yang kemarin ditemui di persimpangan lampu merah, namun dengan penampilan yang pantas... nampak pula seorang penyandang cacat yang kemarin bersama-sama seorang pria berkulit sawo matang di RESTORAN bintang lima menikmati santapan terlezat yang pernah dirasakannya.. ada pula seorang pemuda yang tampak mengeluarkan buliran-buliran bening dari mata sembabnya...

hari yang cerah tanpa satupun peminta-minta di jalanan...
sore ini nampak seorang wanita lansia yang kemarin menadahkan tangan keriputnya berada di atas kereta dorongnya yang didorong oleh seorang wanita anggun berjilbab biru dan kerudung senada bermotif anggrek bulan...
si nenek berbalik menatap wanita anggun berjilbab itu sambil meneriakkan kata-kata yang membingungkan dengan cipratan-cipratan liur bening bak gerimis dari mulutnya.

"Kyu.. bangun!! udah jam 4 mau tahajjud nggak?" bangun.... Kyu.. bangun....
kursi dorong nenek berguncang hebat... bumi serasa goyah... keseimbangan badanku tak bisa seimbang lagi... aku memegang kursi dorong nenek erat... mendongak.. dan tampak langit-langit kamarku yang bertaburan bintang dari plastik...
nenek meletakkan kembali gayung berisi air yang disemprotkan ke wajahku sambil tersenyum
"sana.. wudhu.. nenek tunggu"

Apa Adanya..

Disudut, ruang dan waktu…….

Kita duduk sambil menuangkan pikiran. Banyak hal yang ingin disampaikan tapi kata-kataku tak bisa bersuara, aku hanya diam mendengarkannya. Sempat beberapa patah kata terucap tapi tidak bisa tersampaikan seperti yang ku mau. Saat itu aku seperti bukan diriku. Rasanya terlalu cepat. Bagaimanapun semua harus berputar.

Setelahnya pergi…….

Risau menjenguk dalam hati. Gelisah. Tidak tahu apa yang di khawatirkan. Sampai terlahir takut kehilangan. Padahal aku tidak pernah memilikinya. Sampai kapanpun. Tuhan hanya akan menitipkan padaku atau menitipkan pada orang lain. Dia mengamanahkan dirinya untuk orang yang sanggup mengembannya. Kalaupun Ia "memberikan" kepada ku, tentu Ia ingin menguji apakah aku sanggup menuntunnya atau tidak.

Apa adanya…….

Menyayanginya. Berarti memaklumi segala kekurangannya. Mencintainya. Berarti sejauh mana aku bersedia berkorban untuk dirinya tanpa melihat apakah akan dibalas seperti harapan atau tidak. Dia mahluk sempurna. Tercipta dengan dua sisi.

Bahagia…….

Menghitung untung rugi, itu kesenangan. Bila ku sanggup tetap positif dengan kondisi hitam dan putih yang menghapiri. Maka aku telah bahagia.

Pada Siapa Kamu Jatuh Cinta ???

Sebenarnya ide ini bermula dari seorang teman yang “menghakimi” aku bahwa aku tidak pernah benar – benar mencintai orang yang selama ini aku rasa aku cintai dengan tulus. Lancang? Memang, tapi aku yakin dia punya teori yang mendukung pendapatnya itu, meski terkadang aku tidak pernah bisa mengerti apalagi mengikuti cara berpikirnya, jadi aku beri dia kesempatan buat menjelaskan maksudnya.

Menurut dia, aku ga pernah jatuh cinta pada siapapun, kecuali diri sendiri, ego dan prasangka – prasangkaku atas segala sesuatu yang kemudian dikonsumsi oleh AKU sebagai obat penenang. Sadar atau tidak ( kebanyakan tidak ) kita sebenarnya hanya mementingkan diri sendiri. Kenapa AKU mengkonsumsi obat penenang? Manusia secara naluriah berusaha mencari kebahagiaan, rasa nyaman dan ketenangan, kebanyakan dari mereka mencarinya di luar diri mereka sendiri, misalnya harta benda, kekasih, dll.

Ada sebuah kejadian yang dia ambil sebagai contoh, suatu hari salah satu teman kami bertemu dengan mantan kekasihnya, si mantan ini berkali – kali memohon dengan seribu macam rayuan. “Aku cinta kamu, aku ga mau kehilangan kamu”, “Aku butuh kamu”, “Cuma sama kamu hari – hariku bahagia”. Sekarang coba kita analisa kata – kata diatas, semuanya menunjukkan kepentingan si mantan seorang. Hanya kepentingan si mantan. Please lord show her the right way. Ini bukan cinta, bukan teman kami yang dia cintai, tapi dirinya sendiri. Dia tidak mau kehilangan rasa nyamannya, obat penenangnya. Seperti sakau, si mantan ini menjadi gila dan akhirnya menggunakan kekerasan, dia memukul dan menendang teman kami yang katanya dia sayang. Inikah yang namanya cinta? Sayang? BULLSHIT!!! What a crap!! Go to hell !! ( maaf terbawa emosi ). Dia cuma sayang pada dirinya sendiri!

Jadi selama ini dia anggap aku, memanipulasi kenyataan yang sering kali ga aku sadari, memanipulasi orang yang aku rasa aku cintai dengan tulus, hanya untuk kepentingan ego aku semata. Ada lagi kasus yang dia ambil, sahabat kami mergokin kekasihnya sedang jalan mesra dengan orang lain, dalam keadaan marah sahabat kami bilang “Kenapa kamu kecewain aku? Selama ini aku percaya ma kamu”. “Selama ini aku percaya sama kamu”, sebenarnya dia tidak pernah percaya pada siapapun, dia hanya percaya pada anggapan dia mengenai kekasihnya itu, bukan kekasihnya yang dia percaya. Ini ego yang berbicara.

**Bingung** Jadi aku ini jatuh cinta pada siapa? Apapun yang dia bilang, aku tetep yakin kalo aku mencintai dia yang aku cintai selama ini dengan tulus, bukan seperti yang dia tuduhkan. Namun jujur aku akui, ada ego yang membuatku tidak ingin kehilangan dia dan rasa nyaman yang dia berikan. Dalam hal ini sepertinya kita harus maklum, karena kita manusia sebagai makhluk sosial akan selalu bergantung pada orang lain, baik fisik, psikologis, ataupun emosi.

Kalo kamu? Siapa yang kamu cintai ?