Powered By Blogger

Rabu, 26 Januari 2011

Sepenggal Doa Untukmu...

Robb,...
Aku datang pada Mu dengan penuh kepasrahan
Ketika dihadapkan kepada pilihan terberat

Robb,...
Beri ketetapan hati untukku
Hati yang terbaik yang sama-sama kita lihat
Hati yang bukan saja menyejukkan dalam pandanganku
Tapi hati yang telah kau lihat sampai menembus relung kalbunya...

Alloh yang Maha Kuasa,
Maha melihat masa depan,
Maha mengetahui yang akan terjadi
Engkau jua yang mengetahui keinginan terdalam hatiku

Ya Alloh,...
Jika mendambanya adalah kesalahan
dan merindunya adalah kekeliruan
Tolong jangan biarkan hati ini terbuai dalam keindahan fatamorgana semu...

Jika kesempurnaannya bukan untukku...
Tolong bawa jauh dari relung hati...
Hapuskan khayalan keindahan tentangnya
dan jangan biarkan aku terlena dalam keindahannya...
Gantikan aku dengan kesempurnaan yang sebenarnya untuk dia

Tapi Tuhan,...
Jika kesempurnaanku adalah bersamanya
Beri aku kekuatan menentukan pilihan
Beri aku kesabaran dalam menjalani proses menggapainya
Jika dia memang untukku...
Jangan biarkan aku menyerah & terpuruk dalam belenggu masa lalu............

Smoga kau ridhoi kami untuk bersatu
Mengarungi sisa umur...
Menapaki jalan kearah Mu...
Dan melukis keindahan untuk dunia dan akhirat kami...

Tolong beri kesabaran yang penuh...
dalam melalui detik-detik waktu yang berjalan...

Amien......

Doa ini untuk seseorang yang telah mengingatkan tentang kekuasaan-Nya, menjadikan aku kembali merindukan cinta-Nya. Terimakasih atas semua yg pernah kita lalui.....
Smoga Alloh slalu membimbing & membahagiakan mu... Amien

Lain Dunia

Duk... duk...!!! Ia membenturkan kepalanya berulang kali di lantai sebuah swalayan. Tubuhnya yang terlentang tampak tegang, nafasnya tersengal-sengal dengan wajah merah menahan marah. Beberapa orang berusaha membujuk, tapi sia-sia, ia terus mengamuk. Gigi mengatup, menggeretak dan dengan geram diayunkannya kaki serta tangan ke segala arah. Baginya, selain orang terdekat dan tersayang, semua adalah ancaman yang mengusik dunianya.
Bergegas seorang wanita menghampiri dan segera membujuk. Tubuh itu didekapnya, seraya membelai lembut buah hati tercinta. Namun anak laki-laki itu masih mencoba meronta, bahkan dicengkramnya tangan ibunda dengan kuat. Wanita itu meringis kesakitan, tapi pelukannya tak dilepaskan. Lalu sang ibunda membisikkan beberapa patah kata, dan perlahan amukannya mereda.
Anak itu duduk terhenyak. Matanya sejenak menatap binar cinta dari ibunda. Namun tak lama, bola mata itu pun berpindah ke sudut mata, dan menatap pojok ruangan dengan pandangan hampa. Terdengar ia bergumam tak jelas, dan digoyangkan tubuhnya ke depan serta ke belakang berulang-ulang. Asyik berbicara dan bermain dengan sahabat-sahabat di dunianya.
Tak urung tetesan bening jatuh dari telaga mata wanita yang berwajah teduh tersebut. Ajaib, bola mata anak lelaki itu tiba-tiba beralih menatap wajah ibundanya kembali. Lalu dengan susah payah tangannya menyentuh, dan jari telunjuk menyeka air mata yang membasahi pipi.
Terhempas...
Jiwaku serasa dihempaskan ke dasar jurang oleh sebuah kenyataan. Mereka ada, dan nyata di sekitar kita. Dunia mereka memang terselubung kabut tebal, memisahkan raga yang tampak jelas di depan mata, namun jiwanya terbang entah kemana. Melayang, meninggalkan dunia nyata, lalu bermain dengan ilusi dan fantasi di alam khayal.
Mereka pun terbuai dan terlelap di lain dunia. Dininabobokkan bidadari-bidadari yang baik hati membuatnya jatuh hati, lalu lupa dengan ayah bunda, saudara, teman serta raga yang teronggok di alam nyata. Bahkan diacuhkannya kegembiraan membuat burung dari lipatan kertas, bermain bola, berlarian di tanah lapang, atau pun sekedar bertepuk tangan.
Namun, bukankah tak ada satu pun ciptaan Allah Subhanahu wa Ta'ala di alam ini yang sia-sia. Di balik kekurangan dirinya, pasti ada keistimewaan. Mereka pasti diciptakan sebagai bagian dari sebuah rencana indah untuk orang-orang terdekat dan mengenalinya. Dengan kehadiran mereka, akan terbentang luas ladang pahala yang siap untuk disemai.
Kehadiran mereka pun membuat ketakjuban akan ajaibnya do'a dan cinta seorang ibunda. Beberapa patah kata yang lahir dari bening hati seorang ibunda selalu sejuk dan teduh, menyimpan berjuta kasih sayang serta cinta. Layaknya sebuah mantera yang sakti mandraguna, mampu membangunkan buah hati dari tidur lelap di lain dunia.
Kiat di buku-buku, majalah dan artikel ilmiah seakan sia-sia untuk mengusik dunianya. Dekapan yang erat dan kencang pun tak mampu meredakan amukan mereka. Bahkan, ucapan para ahli yang disarankan sulit membuat mereka sedikitpun beranjak. Hanya sebentuk do'a yang mustajabah dari ibunda, tak ada hijab kepada yang Maha Menyembuhkan.
Indah... Sungguh teramat indah setiap rencana dan ciptaan-Mu, duhai Allah.
Kau berikan amanah istimewa hanya kepada hamba-Mu yang istimewa pula, dan dari mereka aku rengkuh seribu satu hikmah.
ALLAHua'lam bi shawab.
*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*
Al-Hubb FiLLAH wa LiLLAH,

(Terhatur untuk anak-anak istimewa dan kedua orangtuanya yang juga istimewa)

Aku Dimakamkan Hari ini...

Perlahan, tubuhku ditutup tanah,
perlahan, semua pergi meninggalkanku,
masih terdengar jelas langkah langkah terakhir mereka
aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,
sendiri, menunggu keputusan...

Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,
Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,
Apatah lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat,
rekan bisnis, atau orang-orang lain,
aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,
Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,
Tangan kananku menghibur mereka,
kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,
tetapi aku tetap sendiri, disini,
menunggu perhitungan ...

Menyesal sudah tak mungkin,
Tobat tak lagi dianggap,
dan ma'af pun tak bakal didengar,
aku benar-benar harus sendiri...

Tuhanku,
(entah dari mana kekuatan itu datang,
setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),
jika kau beri aku satu lagi kesempatan,
jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,
beberapa hari saja...

Aku harus berkeliling, memohon ma'af pada mereka,
yang selama ini telah merasakan zalimku,
yang selama ini sengsara karena aku,
yang tertindas dalam kuasaku.
yang selama ini telah aku sakiti hati nya
yang selama ini telah aku bohongi

Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,
yang kukumpulkan dengan wajah gembira,
yang kukuras dari sumber yang tak jelas,
yang kumakan, bahkan yang kutelan.
Aku harus tuntaskan janji janji palsu yg sering ku umbar dulu

Dan Tuhan,
beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta ,
teringat kata kata kasar dan keras yg menyakitkan hati mereka ,
maafkan aku ayah dan ibu ,
mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang mu
beri juga aku waktu,
untuk berkumpul dengan istri dan anakku,
untuk sungguh sungguh beramal soleh ,
Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,
bersama mereka ...

begitu sesal diri ini
karena hari hari telah berlalu tanpa makna
penuh kesia sia an
kesenangan yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya
sama sekali mengapa ku sia sia saja ,
waktu hidup yg hanya sekali itu
andai ku bisa putar ulang waktu itu ...

Aku dimakamkan hari ini,
dan semua menjadi tak terma'afkan,
dan semua menjadi terlambat,
dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terbayangkan ...

Cinta Alam Semesta..

Sesungguhnya, tak pernah pencinta mencari tanpa dicari pula oleh kekasihnya.
Apabila kilat cinta telah membakar hati yang ini,
ketahuilah bahwa dihati yang itu pun cinta telah bersemayam penuh gelora.

Apabila cinta Tuhan telah membara direlung hatimu, pastilah Dia telah mencintaimu.
Tiada suara tepukan terdengar hanya dari sebelah tangan.
Hikmah Tuhan dalam takdir dan hukum yang menjadikan kita saling mencinta.

Oleh karena itulah setiap bagian dari dunia diberi pasangan.
Dimata orang bijak, langit adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan;
bumi memupuk seluruh yang telah langit turunkan.

Apabila bumi kekurangan panas, langit mengirimkannya;
jika ia kehilangan embun dan dan kesegarannya, langit memulihkannya.

Langit berkeliling, laksana seorang suami yang mencari nafkah demi istrinya.
Sedangkan bumi sibuk mengurus rumah tangganya;
ia merawat yang lahir dan menyusui apa yang telah ia lahirkan.

Pandanglah bumi dan langit sebagai makluk yang dikaruniai kecerdasan,
karena mereka melakukan pekerjaan mahluk yang berakal pikiran.

Jikalau pasangan ini tidak merasakan kebahagiaan dari satu dengan lainnya,
mengapa mereka melangkah bersama laksana sepasang kekasih yang saling mencinta?

Tanpa bumi, bagaimana bunga dan pepohonan akan tumbuh?
lalu, air dan panas langit akan menghasilkan apa?
Karena Tuhan meletakan gairah dalam diri pria dan wanita lewat persatuanyalah bumi terselamatkan.
Maka Dia menanamkan gairah kedalam setiap jenis makluknya yang lain.

Secara lahir siang dan malam saling bertentangan ;
namun keduanya saling membantu demi satu tujuan.
Masing-masing saling mencinta demi kesempurnaan pekerjaan mereka yang saling membutuhkan.

Tanpa malam, watak manusia takkan menerima penghasilan,
sehingga sehingga takkan ada siang guna dibelanjakan.

Jiwa berkata kepada tubuh, " Penghasilanku lebih pahit dari padamu; aku adalah penghuni surga".
Tubuh menginginkan tumbuh-tumbuhan hujan dan siraman air, karena dia berasal daripadanya;
Jiwa menginginkan kehidupan dan Tuhan Yang Maha Hidup, karena ia berasal dari Jiwa Yang Tak Terhingga.
Hasrat jiwa adalah pendakian keagungan, hasrat tubuh adalah harta dan kepuasan.

Dan Yang Maha Luhur itu menginginkan dan mencintai jiwa;
perhatikanlah ayat "Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya.

Pokoknya ialah bila seorang mencari, jiwa yang dicarinya pun menginginkanya.
Namun kalau gairah pencinta membuatnya kurus kering,
maka gairah dari dicinta akan membuatnya indah dan semakin mempesona.

Cinta, yang membuat pipi sang kekasih semakin merekah, memakan jiwa sang pencinta.

Ambar mencintai jerami kelihatan tak menghasratkan apa-apa,
sementara jerami berjuang untuk dapat melangkah maju dijalan yang panjang!

Kembalikan Cintaku..

Ya Rabb maafkan daku kalau cintaku sempat memudar
Ampuni daku kalau cintaku sempat surut, sempat minipis
terkikis oleh nuansa kebebasan, sekulersime, liberalisme
materialisme dan langkanya nuansa Islami.
Aku bagai sebuah lilin terbakar oleh apinya sendiri, kedasar,
alas kakiku terlepas hingga begitu mudahnya aku tergelincir
basyirah dan naluri tauhidku luruh terdismantel
tatkala kita jadi minoritas disuatu negeri.
Hingga suatu hari kami terlempar di keterjalannya karang
hingga kami terhempas oleh gemuruh gelegarnya gedung
oleh sebuah rekayasa teknologi yang biasnya kami dapati
hingga kami, aku, kita terlindas oleh roda roda kenistaan.
***
Dulu kami mencoba menata misi Muhibbah. Jalanan kami telusuri
mulai dari Dover, Belgia, Humberg, Austria, Croatia dan berakhir
di Mostar di Timur Eropa, sekedar menebar rasa cinta dan empati
untuk saudara kami yang terkapar tak berdaya.
Lanjut kuarungi bahari luas ke gugusan pulau-pulau seribu.
Kutelusuri lorong lorong gelap pengap, diiringi bau anyir
lalu ke dibukit-bukit, desa-desa dan kota-kota
hingga tiba dibatas antara dua komunitas
bersama unggunan karung karung berisi pasir
dan moncong senjata siap menyembur setiap saat.

Disana...kutemui pemilik piala hati janda-janda syuhada
bersama ribuan yatim terlantar yang duka laranya
diredam oleh media untuk dan atas nama stabilitas negeri.
Yang Izzah Islam mereka punah diinjak dan dicabik
oleh sebuah agenda keji durjana tak terperikan
yang konon diatas namakan kecemburun sosial
hingga dua komunitas berseteru saling memburu nyawa
Padahal politik kejilah memoles semua agenda ini.
Semua ini telah membuat kami terpana, bangkit dan tergugah
akan tragedi dan nista akan dosa yang lalai dan terlena
oleh dan atas nama toleran, kerukunan dan silodaritas
hingga menyisakan demarkasi dan batas dari dua komunitas
dari tiada, kini ada.
***
Dibelahan barat Engkau telah tunjukan kebesaranMu
dengan meluluh lantakan lewat gempa dahsyat, seiring
dengan Tsunami-Mu disuatu Dhuha dalam kurun satu jam.
Kau tunjukan murkaMu sekaligus cintaMu untukku, kami
yang lalai, terlena dan larut oleh fatamorgana duniya
akan keserakahan, kedzaliman selama setengah abad.
Darinya terlahir rasa cinta ukhuwah dan empati kami
untuk menyampaikan peduli yang selama ini kami peram
membiarkan jerit tangis dan duka lara mereka.
Ya Rabbb ampunilah kami.
" Maka dengan nikmatNya kamu menjadi bersaudara "
(Al-Imron :103)
***
Dari semua kemelut dan tragedi dijagat raya ini membuatku tersadar,
Lalu kubertandang kesetiap sudut sudut hati derita para korban
Disana....kutemukan Cintaku, disana kutemukan cinta hakiki
yang sempat menipis dan pudar, disana kutemukan kebesarnaMu

Hai Pemilik Cinta... kembalikan cintaku, kembalikan cintaku
sematkan kembali kedadaku, semaikan kembali ke qalbuku
semi-kan kembali ke lubuk lahan hatiku.
***
Kala kudengar namamu ya Kekasih, denyut nadiku berlari,
Kala kusebut namaMu seolah tulang sekujur tubuh luluh
bersit cinta itu membias pada relung lekuk hatiku.
Lalu dimalam kelam temaram, kala kurebahkan tubuhku
dengan lembut syahdu kesebut namaMu, kubisikan penuh mesra
Kuberjanji ku ta'kan menduakan Engkau dengan selainnya
Engkau yang Esa, Engkau yang Maha Rahim dan Karim
Ya Rabb kuserahkan semua hatiku, kaffah dan totalitas.
"Islam itu ialah penyerahan hatimu kepada Allah dan selamatnya
kaum Muslim dari lidah dan tanganmu"

Ada Apa Dengan Perempuanku ?

Tidakkah kau lihat langit begitu cerah? Tidakkah kau rasakan udara yang berhembus perlahan, sungguh segar dan membuat nyaman. Bukankah kau selalu jatuh cinta pada pagi yang hangat? Rasakan, pagi ini matahari pun mengajakmu kembali dalam pelukannya yang hangat, burung-burung bernyanyi riuh, seakan rindu akan senandungmu. Tapi, mengapa kulihat kabut dimatamu?

Duh, seandainya saja kau membutuhkan tempat untuk berbagi, mengapa tidak kau percayai aku? Berbagilah denganku, jangan ragu untuk berbagi duka itu, jangan sungkan untuk membagi nestapa itu.

Perempuanku, aku ingin melihatmu tersenyum, aku ingin mendengarmu tertawa. Aku ingin melihat kau bercanda kembali seperti hari-hari lalu yang pernah terlewati. Tersenyumlah padaku, tertawalah bersamaku, bercandalah denganku, karena luka itu akan segera berlalu.

Bukankah setiap kita tak pernah luput dari salah dan khilaf, lalu mengapa kau salahkan diri atas semua duka yang kini singgah dalam kehidupanmu? Tak ada gunanya untuk bersikap seperti itu terus menerus, berjuanglah untuk bangkit. Ia tahu jika kau menyesal, Ia paham kau merasa berdosa, dan kau pun tahu bahwa Ia Maha Pengampun.

Percayalah, Ia sangat menyayangimu, seperti ia menyayangi yang lainnya. Jangan merasa diperlakukan tidak adil, jangan merasa hina, dirimu adalah pribadi yang mandiri yang tidak bisa disamakan dengan orang lain. Kau mungkin tidak memiliki kecantikan, mungkin juga tidak punya kepandaian, atau bahkan kau mungkin tidak berharta, bisa juga kau tidak bergelar apapun, tapi bukankah kau selalu berusaha untuk mencintaiNya, kau selalu belajar agar selalu dekat denganNya?

Aku tahu kau tak pernah berhenti mengingatNya, dalam setiap napas selalu kau sebut namaNya. Adakah yang lebih penting dari mencintaiNya dengan sungguh-sungguh? Adakah yang lebih penting dari mendapatkan cintaNya?

Karena itu perempuanku, saat hatimu terluka, atau saat hidupmu terasa sempit, aku tahu kau mengerti bagaimana menghadapi luka, bagaimana cara menyikapi kesempitan, meski saat ini kau merasa terpuruk, merasa sendiri, merasa tak ada yang peduli, tak ingatkah kau? Bahwa Ia selalu bersamamu.

Ayolah perempuanku, saatnya kini untuk bangkit, untuk berjuang melawan kesempitan, saatnya kembali tersenyum ketika pagi tiba, saatnya kembali memulai hari dengan semangat. Biarkan luka itu menempa dirimu menjadi kuat, menjadi tegar, menjadi tangguh.

Air Mata Dan Cinta

Katanya nih, cinta bikin apa yg dicintai itu bener-bener masuk ke lubuk hati. Bicara lubuk hati, apalagi yg terdalam, pasti berkaitan banget ama yg namanya kelembutan. Hati tuh lembuuuttt banget. Kalo dah kayak gini nich, cinta itu deket ama yang namanya air mata, nangis dech... Makanya, orang yg lagi jatuh cinta, bakal gampang nangis kalo inget ama yg dicintainye, ya kagak? Ngaku dech!
Ngomong-ngomong soal nangis nich, A'a BOY punya cerita. Cerita ini cerita jadul. Ada 2 cerita.
Cerita pertama. Dulu, ada negeri kafir yg mo nyerang negeri Islam. Ketua kafir itu atur siasat. Sebelum nyerang, diselidiki dulu negeri Islam itu. So, si ketua ngutus seorang mata-mata ke negeri Islam itu. Si mata-mata tadi nyamar jadi orang Islam. Trus dia masuk ke negeri Islam itu. Tampangnya pokoke Islam banget dah, pake janggut segala kali! Tiba-tiba dia ngeliat ada seorang anak muda yg lagi nangis di pojokan dinding. Penasaran, si mata-mata tadi ngedeketin tuh anak muda. Trus dia nanya : " Kenapa kamu nangis?" Jawab anak muda tadi : "Aku nangis karena tadi aku ketinggalan shalat berjama'ah di masjid." Kagetlah si mata-mata. Trus dia balik ke negerinya dan laporan ke ketua. Dia nyeritain apa yg diliatnya di negeri Islam. Trus kata ketua : "OK, kita jangan nyerang Islam dulu. Tunggu kalo saatnya dah tepat."
Cerita kedua. Sebetulnya ini lanjutan dari cerita pertama tadi. Beberapa tahun kemudian, diutus lagi dech mata-mata. Then, si mata-mata nyamar jadi orang Islam. Pokoknya kayak cerita pertama. Trus dia ngeliat ada anak muda yg nangis lagi duduk. Si mata-mata ngedatengin tuh anak trus nanya : "Kenapa kamu nangis?" Jawab si anak muda : " Aku nangis karena baru aja ditinggal ama kekasihku?" Ngedenger jawaban kayak gini, si mata-mata balik ke negerinya. Dia lapor ke ketua tentang apa yg diliatnya di negeri Islam. Trus, sang ketua berkata : "OK, saatnya kita serang mereka!"
Bener, negeri kafir kemudian nyerang negeri Islam tadi . Dan apa yg terjadi, soddara-soddara? Maka, hancur-lebur dan luluh-lantaklah negeri Islam itu. Masya Allah...
Kenapa hayo koq bisa kayak gitu? Ketua kafir tadi ngeliat kalo yg pertama, pemuda-pemuda Islam-nya sholeh-sholeh. Mereka cinta benget ama Allah. Sampe-sampe mereka sedih & nangis gara-gara ketinggalan shalat berjama'ah di masjid. So, kalo negeri kafir nyerang saat itu, pasti orang kafir kalah.
Trus, setelah beberapa tahun, ada yg berubah di negeri Islam itu. Anak-anak mudanya dah ga sholeh lagi (atw mungkin kurang sholeh kali ya...). Ini bisa diliat ada anak muda Islam yg nangis gara-gara ditinggal pacarnya. Pasti, hari-harinya dihabisin bwt kekasihnya, bwt nemenin, bwt mikirin, en bwt-bwt yg laen. Knapa waktunya kagak dihabisin bwt Allah & Islam yak? Ini pertanda kalo negeri Islam tadi dah lemah. Ini dia saatnya buat nyerang.  
Gitu, Pren. Generasi yg pertama nangis ngeluarin air mata (ya iyalah, masak ngeluarin ingus) gara-gara cinta ama Allah. Generasi yg kedua nangis ngeluarin air mata (air mata buaya bukan ya?) gara-gara cinta ama pacarnya.
Nah, Pren, air mata kita termasuk yg mana nich? Kalo kita nangis gara-gara siapa hayo?? Yg jelas bukan gara-gara A'a BOY! Hwehehe.. Moga2 air mata & nangis kita hanya karena Allah! (a2i)
TAHUKAH KAMU?
KECEPATAN CAHAYA
"...Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu." [Q.S. Al Hajj : 47]
Satu hari seperti 1000 tahun. Dgn menggunakan hitungan ini, kita dapat merumuskan bahwa rumus kecepatan cahaya itu c=3x100.000. Al Quran keren kan?
 

Selasa, 25 Januari 2011

Jenuh

Disaat ingin menulis, Rasanya jenuh sekali.. seolah-olah hilang semua apa yang ada dalam pikiran..

Senin, 10 Januari 2011

PEMENANG VS PECUNDANG

Pemenang melakukan apa yang harus dilakukan,
Pecundang melakukan apa yang suka dilakukan.

Pemenang jadi bagian dari jawaban;
Pecundang jadi bagian dari masalah.

Pemenang membuat masalah besar menjadi kecil
Pecundang membuat masalah kecil menjadi besar

Pemenang mengecilngecilkan masalah besar
Pecundang membesarbesarkan masalah kecil

Pemenang melihat jawaban dalam setiap masalah;
Pecundang melihat masalah dalam setiap jawaban.

Pemenang melihat peluang dalam setiap permasalahan
Pecundang melihat permasalahan dalam setiap peluang

Pemenang melihat hal yang mungkin dalam setiap kemustahilan
Pecundang melihat hal yang mustahil dalam setiap kemungkinan

Pemenang berkata, "Itu memang sulit, tapi mungkin bisa"
Pecundang berkata, "Itu mungkin bisa, tapi memang sulit"

Pemenang berkata, "Gampang-gampang susah!"
Pecundang berkata, "Susah-susah gampang!" (susahnya dua kali)

Pemenang berpikir, kalau bisa dipermudah kena harus dipersulit?
Pecundang bilang, kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah?

Pemenang berpikir, bagaimana bisa memberikan pelayanan sebaik mungkin untuk orang/ lembaga
Pecundang berpikir, bagaimana orang/lembaga bisa melayani saya

Pemenang berkata, "Biarkan saya yang mengerjakannya"
Pecundang berkata, "Itu bukan pekerjaan saya"

Pemenang membuat komitmen-komitmen,
Pecundang membuat janji-janji.

Pemenang berani ambil resiko sekalipun dengan tanggung sendiri akibatnya
Pecundang berani ambil resiko sepanjang ditanggung orang lain akibatnya

Pemenang membuat rencana untuk menghindari bencana.
Pecundang membuat bencana karena menghindari rencana.

Pemenang selalu mengutamakan rencana untuk berhasil
Pecundang selalu menyiapkan rencana bagaimana kalau gagal.

Pemenang membuat sesuatu terjadi,
Pecundang membiarkan sesuatu terjadi.

Pemenang selalu mengakui kesalahan.
Pecundang selalu mencari siapa yang disalahkan.

Pemenang selalu memperbaiki diri
Pecundang selalu merasa dirinya baik

Pemenang belajar dari kegagalan
Pecundang gagal dari pembelajaran

Pemenang belajar dari masa lalu
Pecundang trauma atas masa lalu

Pemenang berkata, "Saya harus melakukan sesuatu"
Pecundang berkata, "Seseorang harus melakukan sesuatu".

Pemenang percaya pada menang-menang (win-win solution);
Pecundang percaya, jika ingin menang, orang lain harus kalah.

Pemenang seperti thermostat (mengatur suhu),
Pecundang seperti thermometer (sekedar mencatat suhu).

Pemenang menggunakan argumentasi kuat dengan kata2 yang lunak;
Pecundang menggunakan argumentasi lemah dengan kata2 yang keras.

Pemenang berpegang teguh pada visi tapi bersedia berkompromi pada hal-hal remeh;
Pecundang bersikeras pada hal-hal remeh tapi bersedia mengkompromikan visi.

Pemenang berempati, "Jangan berbuat pada orang lain apa yang Anda tidak ingin orang lain perbuat pada Anda";
Pecundang berfilosofi, "Lakukan pada orang lain sebelum mereka melakukannya pada Anda".

Pemenang merasa sukses adalah perjalanan,
Pecundang merasa sukses adalah tujuan.

so, are you winner or loser..?

Minggu, 09 Januari 2011

I Want To Believe..

David Beckam itu berasal dari Tegal, Banyumas, bapaknya orang Malang dan ibunya orang Cianjur, pas kecil dia pernah kejepit pintu, sampai sipit-sipit ganteng gitu.
Briitney spears itu sebel banget sama Inul, karena sebenernya Britney kan pengen nyanyiin lagu goyang dombret!
Waktu konser di Jakarta kemaren, Linkin Park sebenernya pengen banget pentas satu panggung ama Bang Haji roma Irama, tapi dibatalin, kenapa e kenapa?
Karena ’e karena...Bang Haji Rhoma Irama encoknya kumat!
Madonna berniat pensiun karena pengen nerusin usaha ibunya bikin jamu gendong.
Winky, sebelum maen film jelangkung pernah ditawari main The Lord of The ring, tapi dia nolak karena lokasi shotingnya kejauhan, padahal tiap sore dia harus les biola sama Idris Sardi supaya impiannya untuk jadi salah satu personel group band segera terwujud.
Jose Groband ngefans banget sama Meggy Z dan ngotot banget pengen bikin album kolaborasi.
Leonardo Da Vinci pas bikin lukisan Monalisa itu sebenernya agak ga sreg ngegambarnya, soalnya dia pengen modelnya Merlyn Monroe, sayang salah jaman.
Bjork kalo nyanyi pasti bawa boneka unyil
Gary Kasparow lebih jago maen halma daripada maen catur.
Hamlet itu nama aslinya Omelet
Manis, asem, kecut dan Guede apa hayo? Manisan traktor! (Loh kok jadi tebak-tebakan gini?!)
Kuda itu dulu namanya nyamuk, nyamuk dulu namanya lumba-lumba, lumba-lumba dulu namanya gajah, gajah dulu namanya kuda.
Megantropus paleojavanicus itu sebenarnya tengkoraknya columbus.
Spanyol itu berasal dari bahasa Indonesia yang berarti spanduk.

Ya. Kalo kalian ga percaya itu, mestinya kalian juga ga percaya kalo :
Indonesia itu sarang teroris, dan orang-orangnya pada sadis gitu.
Amerika Serikat nyerang Irak karena pengen memusnahkan senjata Kimia padahal alasan yang bener adalah karena Amerika negara kapitalis yang rakus sehingga pengen menguasai minyak di Irak.
Amerika Serikat itu polisi dunia yang akan menjaga keamanan dunia. Yang bener tuh, Amerika Serikat adalah negara berideologi kapitalis penebar teror di dunia.
Merika Serikat negara adidaya, sehingga bisa berlaku seenaknya dan memutarbalikkan fakta dengan pemberitaan yang tidak sesuai dengan fakta, menyebarkan berita bohong!
Emangnya kita bego?! Buat kalian yang juga ngerasa gak bego, kita harus melawan opini-opini sesat mereka! Waspadalah...waspadalah.

Dimana Kau Berada Kini ??

(Backsound : firasat by Marcell)

Kemarin....
Kulihat awan membentuk wajahmu
Desau angin meniupkan namamu
Tubuhku terpaku


Kupejamkan mataku
Dan kubayangkan wajahmu
Dalam pelupuk mataku,
Wajahmu begitu teduh,
Air mukamu pun begitu sejuk,
Namun aku hanya bisa membayangkanmu,
Aku tak pernah melihat wajahmu.

Semalam.....

Bulan sabit melengkungkan senyummu
Tabur bintang serupa kilau auramu


Sahabat, aku berharap saat ini kau disana
Sedang tersenyum walau badai kehidupan
menerpamu.
Kau tetap tegar karena kau yakin Allah tak kan menimpakan beban kecuali sesuai dengan kemampuanmu.
Namun, aku hanya bisa membayangkan
Senyum tegarmu. Aku tak pernah melihat wajahmu dan akupun tak pernah mendengar suaramu.

Aku mulai mengenalmu, ketika aku melihat
sederet nama di lembaran kertas.
Kupilih namamu.
Subhannallah.. teknologi karunia Allah,
Menghantarkanku mengenalmu yang jauh
di seberang sana hanya dengan sebuah sms.
Aku mengenal saudaraku seiman.
Aku mencintaimu karena Allah.
Tahukah kau? Saat ini aku bahagia sekali.
Aku berharap, perkenalanku denganmu dapat meneguhkan keimananku.

Kini setelah sekian lama
Aku menanti kabar darimu,
Sebetik berita darimu pun
Tak pernah sampai
Aku merindukanmu.

Aku pun sadari,,,,Ku segera berlari

Aku terus memburu kabar tentangmu.
Aku ingin bertanya pada angin
Yang pernah menghirup aromamu,
Pada malam yang menyelimutimu.
Aku merindukanmu.

Cepat pulang, cepat kembali
Jangan pergi lagi
Firasatku inginkan kau tuk
Cepat pulang....cepat kembali
Jangan pergi lagi


Sahabat, seandainya kutahu dimana dirimu, ingin rasanya ku segera berlari menerjang ruang dan waktu.
Aku ingin mendekapmu erat dan menumpahkan kerinduanku di pelukanmu.
Ingin kubisikkan ke telingamu
Di sela isak tangis haruku,
...aku selalu ada untukmu..,.
Sahabat, aku sungguh tak rela
bila engkau bersedih
aku ingin menjelma menjadi perisai dalam
hidupmu, bersama kita menerjang badai
kehidupan.

Akhirnya...
Bagai sungai yang mendamba samudera
Kutahu pasti, kemana ku kan bermuara
Smoga ada waktu.....


Aku selalu mendoakanmu.
Aku berharap sesaat saja mendengar suaramu, ”...aku baik-baik saja...”
Sebelum kita bertemu di [perjamuan Nya.
Kepada Allah, hanya kepada Nya
Aku bisa menitipkanmu.

Sayangku...
Kupercaya alampun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini....Rasa rindukah ?
Ataukah tanda bahaya...?
Aku tak peduli....Ku terus berlari....


Tahu kah kau?
Kala terjaga aku gelisah, tidurpun gundah. Seakan kuingin berlari ke tepian pantai dan
Berteriak bersaing dengan deru ombak

Cepat pulang... cepat kemali
Jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau tuk
Cepat pulang....Cepat kembali
Jangan pergi lagi


Aku terkulai lemas. Aku berharap,
Kau yang diseberang sana mendengar suara hatiku yang kutitipkan pada angin.
Aku merindukanmu.

Hujan turun membasahi
Seolah kuberair mata

Dua mataku mencair mencemaskanmu

Cepat pulang... cepat kemali
Jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau tuk
Cepat pulang....Cepat kembali
Jangan pergi lagi


Sahabat, setetes berita darimu
Melautkan sahara rinduku.

Akupun sadari...engkaulah fiasat hati...

(diambil dari OpenminD)

Cerpen Pertamaku (kana sang outlier)

Hoi...met nangkring di blog ku yang asyik ni. Selama beberapa minggu kedepan, aku bakal menampilkan beberapa tulisan dari minimagz OPENMIND. Tapi ni aku ada cerpen pertamaku yang dibukukan. Tapi ada yang aneh dalam cerita ini silahkan diamati. Judulnya aku Dolly.
Apa anehnya ya?..selamat menikmati.


AKU DOLLY
Desember. Saatnya musim dingin di UK. Hawa dingin serasa menikam tubuhku yang ngilu. Kubalut tubuhku dengan coat yang biasa kupakai keluar rumah. Tapi tetap saja dingin. Kupakai syal dan long jhon, alat termal untuk menghangatkan tubuh, tapi beku itu masih ada. Mataku mulai melihat ke luar. Jalan-jalan tampak lengang. Hanya sekali dua kali ada mobil lewat. Selebihnya adalah pejalan kaki dengan pakaian tebal. Badan mereka menggigil. Tapi semburat wajah mereka tak sedikitpun mengisyaratkan kemalasan bekerja. Dasar workaholic!!.

Bundaran salju putih berkilau turun kecil-kecil seperti air mata. Jatuh ke genting lalu ke tanah. Menyembunyikan jalan-jalan besar. Aku masih berada di flat. Hanya sesekali melongok ke bawah, barangkali Prof Albert datang. Mataku masih berat. Semalam aku terjaga. Tak tahu kenapa akhir-akhir ini aku susah sekali tidur. Kuarahkan pandanganku ke sudut kamar. Lampu duduk kubiarkan padam. Aku ingin bermalasan hari ini. Menikmati musim dingin yang parau.

If I see u next or never
How can we see forever
Wherever You go
Whatever you do
I’ll be right here waiting for you
I’ll be right here waiting for you


Alunan musik Richard Marx itu semakin menyayat hati. Waiting for whom?. I did’nt know. Suasana flat semakin sunyi. Hanya sesekali terdengar suara ribut di seberang. Mungkin Lucy. Gadis kecil malang yang setiap pagi menangis. Aku tidak seberapa menghiraukan. Toh setelah ini pasti lucy sudah menghentikan tangisannya. Dasar anak kecil. Disuap coklat sudah cukup baginya untuk merelakan mamanya pergi bekerja. Aku hanya berfikir, kenapa musti menangis? Aku sudah terbiasa hidup sendiri, jadi tidak tahu bagaimana rasanya ditinggal mama bekerja padahal kita sedang ingin bermain. Jangankan merasakan hal itu, mamaku sendiri aku belum pernah melihatnya.

Perutku mulai lapar. There’s nothing. Roti panggang bekas kemarin pun tak luput dari sasaran mulutku. Kulumat dengan sangat cepat kemudian aku berbaring lagi. Kertas-kertas berserakan di kamar. Kuambil salah satu. Terpampang banyak resep yang harus aku tebus. Hah…aku mendesah, Nafasku berat. Wajah Prof. Albert kembali membayangiku. Apa benar semudah itu memvonis mati seseorang? Bukankah itu hanya prediksi manusia? Aku seringkali membaca banyak pasien yang divonis mati tapi ternyata mereka masih hidup dalam waktu yang lama. Bukankah hidup semuanya ada di tangan Tuhan? Ya ditangan Tuhan, setidaknya itulah ucapan yang sering aku dengar dari Maria, gadis Moslem yang telah 2 tahun terakhir ini menempati flat atas. Senyumnya senantiasa merekah tiap kali aku ketemu. Padahal kami tidak saling kenal waktu itu. Keluarga Maria sangat bahagia. Setidaknya begitulah menurut pndanganku. Mrs. Nanny, mama Maria, tidak bekerja. Dia mengurusi Maria dan 3 adiknya. Seorang mama yang perilakunya tidak banyak aku temui di Inggris ini. Kebanyakan mama, menitipkan anak mereka ke penitipan anak atau diasuh oleh pembantu mereka di rumah. Tapi Mrs. Nanny tidak. Setiap pagi aku selalu melihat dia dan 4 anaknya duduk disekitar taman kota dan seringkali mereka menghafal sesuatu. Saat aku tanyakan ke Maria. Dia menjawab bahwa mereka sedang menghafalkan kitab sucinya. Maria sendiri telah menghafal 30 surat. Ketika kulihat kitab sucinya, ternyata tebal juga.

“Jane, kamu percaya Tuhan tidak?”
Pertanyaan yang menurutku konyol itu pernah Maria ungkapkan kepadaku saat aku mengantarnya ke ORIENTAL CITY Food Court. Aku hanya mengangguk ragu. Dia tersenyum sambil memandangiku. Aku tidak paham apa yang ada dalam pikirannya.
“Maria, kenapa orang Moslem suka hidup susah?
“What do you mean, Jane?”
“Misalnya, belanja saja, kamu mesti datang ke sini. Bukankah di dekat flat juga ada supermarket?”
Dia menoleh padaku. Kemudian tersenyum lagi. Tangan kanannya memegang tangan kiriku lalu mengajakku duduk di waiting room.
“Jane, apa hidupmu bahagia?”
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Bibirku tidak bergerak sama sekali. Selama ini aku masih memikirkan, seperti apa bahagia itu.
“Jane, bagi seorang moslem, kebahagiaan itu adalah saat semua aktivitas kita bisa terikat dengan seluruh hukum Tuhan. Hukum Allah. Salah satunya adalah masalah makanan. Moslem harus makan makanan yang diperbolehkan Tuhan. Makanan yang halal namanya. Perhaps, next time we could discuss it, okay?”
Aku mengangguk. Ku arahkan pandangan ke sekitar. Saat itu ORIENTAL CITY Food Court sangat ramai. Pusat makanan di 399 Edgware Road, Colindale, LONDON, ini selain terdapat food court makanan Asia, juga memiliki supermarket yang menjual produk-produk halal. Pantesan Maria sering kesini.

Jam dinding berdentang 7 kali menyadarkan aku dari lamunan tentang Maria. Aku mulai bersandar di sofa. Berusaha menegakkan badanku yang sudah mulai rapuh. Ya, badanku terasa rapuh, ringkih. Padahal bulan depan, usiaku baru menginjak 17 tahun. Aku mulai merasa takut. Jangan-jangan apa yang dikatakan Maria itu benar. Bahwa saat kita mati, maka akan ada malaikat yang membawa kita dan menanyai satu persatu tentang apa saja yang telah kita lakukan selama ini. Kata Maria akan ada surga tempat orang-orang baik berada disana. Dan neraka, tempat yang aku merasa ngeri kalau memikirkannya. Entahlah, kata-kata Maria sangat mempengaruhiku. Padahal selama ini aku tidak mengenal Tuhan. Prof. Albert selalu mendidikku dengan science, science dan science. Semuanya berlogika.

Suara bel berbunyi. “Come in,.” aku sudah yakin itu pasti prof. Albert. Karena memang tidak ada kemungkinan yang lain. Jam segini, prof. Albert pasti kesini sambil membawakan seplastik obat untuk aku konsumsi.
“Hi, Jane. Morning”
Aku hanya tersenyum kecut. Badanku panas. Pusing.
“This is your medicine. You have to eat twice a day, okay?”
Aku hanya terdiam, tidak seberapa merespon apa yang dia katakan.
“Jane, whats the matter? Don’t worry. Everthing will gonna be fine. Okay. Now, you have to get breakfast first then get your medicine”
Prof. Albert menyodorkan roti daging dan sebungkus obat. Mataku tidak melirik sama sekali.
“Prof, please tell me, what’s happen with me exactly?” prof. Albert masih terdiam.
“Apa yang sebenarnya terjadi prof? Kenapa tubuhku semakin hari semakin ringkih. Kurus. Pipiku semakin tirus. Apa yang terjadi? Apa sebenarnya penyakit yang sedang aku derita? Please tell me, I’m afraid, please……”
Prof. Albert hanya terdiam. Bibirnya terkunci. Aku menatap matanya. Meminta penjelasan. Dia hanya memandangi wajahku. Membelai rambutku dengan halus. Tidak pernah aku dibelainya sedemikian rupa. Seperti ada yang aneh. Seakan ini adalah pertemuan terakhir kami.
“Jane, I’m sorry…., Mungkin kamu sudah berhak mngetahui suatu rahasia.”
“Rahasia apa? Apa yang prof rahasiakan dariku?”
“Sebenarnya…kamu…kamu ..kamu adalah ciptaanku?”
“What do you mean? I don’t understand”
“Ya, kamu adalah ciptaanku. Aku yang membuatmu. Kamu adalah manusia kloning.”
“Apa? Manusia kloning? Aku manusia kloning? Lantas siapa ibuku? Siapa ayahku? Siapa aku? Aku darimana?” aku tidak percaya. Tubuhku semakin lemas. Air mataku menetes tak terbendung.
Prof Albert mendekat kepadaku. Memeluk tubuhku. Kemudian menatapku dengan rasa bersalah yang memuncak.
“Jane, listen to me. You are my girl. You are my daughter.” Prof Albert kemudian berdiri. Mengambil dompet di tas kerjanya. Lalu memperlihatkan sebuah foto.
“This your Mom”
Aku pandangi foto itu. Oh Tuhan,…foto itu sama persis dengan diriku. Aku tidak bisa membedakan sedikitpun antara foto itu dengan aku. Bentuk matanya, hidung, wajah, postur tubuh. “it’s me, isn’t it?”

“Bukan, itu adalah istriku. Her name is Jane, too. Kami menikah di usia yang masih sangat muda. Dia masih berusia 25 tahun saat itu. Ketika pernikahan kami masuk pada tahun ke 5, dia divonis oleh dokter tidak bisa melahirkan. Rahimnya diangkat karena penyakit kanker. Saat itu, aku bekerja di Roslin Institue, Skotlandia, tempat kolega Ian Wilmuth, ‘pencipta’ domba dolly, domba hasil kloning yang pertama kali. Akhirnya, ibumu meyakinkan aku, bahwa sebenarnya dia bisa punya anak dengan cara kloning. Seperti yang telah dilakukan oleh Ian Wilmuth saat menciptakan Dolly. Awalnya aku menolak. Tapi dia memaksa. Hingga akhirnya aku melakukannya. Aku ambil inti sel yang berisi DNA nya, kemudian aku suntikkan ke sel telur seorang ibu sukarelawan yang intinya sudah kubuang. Hingga akhirnya proses itu menjadi embrio. Dan kamulah embrio itu sekarang.”
Aku hanya terperangah. Tidak bisa mengatakan apa-apa. Kami saling terdiam. Baru kemudian aku berkata “Now, where is Jane? Where is my mom? Is she still alive?”

Prof. albert tidak menjawab. Aku semakin mengeraskan suaraku “Is she still alive?”
“Yeah…dia masih hidup. Namun kondisinya semakin mengerikan. Dia terkena kanker yang sangat kronis. Aku sengaja menyembunyikan hal itu dari kamu. Jika kamu ingin melihatnya, mungkin memang sudah saatnya. Akan aku ajak kau kesana.”
Salju di pusat kota New York semakin memadat. Yang ada hanya pemandangan serba putih dan hiasan merry cristmas dijalan-jalan. Aku dibopong prof Albert…maksudku papaku atau penciptaku atau apalah aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Karena aku memang bukan anak siapa-siapa.

London, Still in Desember.
Tepi sungai Thames di sebelah selatan kota London tampak tertutupi salju. Meskipun beberapa ruas jalan disekitarnya sudah dibersihkan petugas jalan, namun karena salju yang sangat deras, hanya dalam hitungan detik, jalan-jalan itu hilang kembali. Bersembunyi dibalik salju. Jika jalan-jalan darat saja seperti itu, bagaimana dengan terowongan bawah tanah. Aku jadi teringat Maria. Ya, Desember tahun lalu, aku dan Maria sempat pergi bersama melalui London underground. Jaringan kereta bawah tanah tertua dan tersibuk didunia ini memang sangat ramai. Bayangkan saja, 3 juta pengguna perhari. Rindu rasanya aku dengan kesempatan itu. Pasti sangat menyenangkan, berputar-putar di kawasan Metropolitan Railway yang sekarang rutenya dilayani oleh Circle Line dan Hammersmith & City Line. Jaringan ini memiliki 274 stasiun serta 253 mil atau 408 km rel aktif. Keren pokoknya.

Saat kereta melaju dengan kecepatan tinggi, maria bertanya kepadaku “Jane, apa kamu takut mati?”
“Hi, come on don’t say like that. Are you joking? Of course everyone afraid with it. You do too, don’t you?”
“No, I’m not. Karena kematian itu sesuatu yang pasti. Pasti datang. Kematian itu sesuatu yang sangat dekat. Bahkan lebih dekat jika dibandingkan dengan urat nadi kita”
Ya, kematian. Apakah itu yang saat ini sedang kutunggu? Dadaku terasa sesak. Prof Albert masih tertidur pulas disampingku. Ruangan ini baunya sangat khas. Bau obat. Yah, begitulah rumah sakit.
“Jane, kau sudah bangun?”
Mata Prof Albert sangat sipit. Menandakan keletihan dan kepayahan yang sangat.
“What about my Mom? Is she still alive? I wanna meet her”
“Jane, I’m sorry. Your Mom was dead an hour ago. Its okay. Everything will gonna be fine”
“Prof. Lantas kapan giliranku? Bukankah aku hasil kloning dari Jane juga?”
“Jangan mengatakan itu. Kamu masih muda. Kamu bisa bertahan menghadapi penyakit ini”
“Prof jujur saja padaku, apa sebenarnya penyakitku ini?”
“Kamu hanya kecapekan, daya tahan tubuhmu sedang menurun. Itu saja”

“Prof. jangan berbohong. Aku sudah tahu semuanya. Aku adalah manusia kloning seperti yang kau katakan. Usiaku sebenarnya adalah usia genetik. Seperti halnya domba Dolly hasil kloning pertama kali. Profesor sangat tahu, sangat paham bukan. Bahwa Dolly tidak bisa bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama. Dolly lahir tahun 1996. Ia berasal dari kloning sel ambing seekor domba jenis Finn Dorset dewasa yang saat itu sudah berumur enam tahun. Ketika Dolly berumur tiga tahun, ia mulai terkena radang sendi, penyakit yang biasanya menyerang domba usia tua. Setelah itu berbagai penyakit lain mendera termasuk radang paru-paru kronis. Penyakit ini pula yang akhirnya membuat seorang dokter hewan diminta "menidurkan" Dolly selama-lamanya. Para ahli di Roslin Institute telah gagal menyembuhkannya. Dolly mati pada umur sekitar 6 tahun, Jumat petang 14 Februari 2003. Karena Dolly berasal dari sel induk yang sudah berusia 6 tahun, maka sebenarnya dia akan mengalami penuaan dini dihitung dari usia kelahirannya. Sehingga umur dia seharusnya dihitung dengan menjumlahkannya dengan usia sel induknya. Dengan demikian umur Dolly sampai dengan kematiannya adalah lebih kurang 12 tahun. Ini sesuai dengan umur domba jenis Finn Dorset, yang rata-rata mencapai 11 tahun.”

Aku menghela nafas panjang. Menghirup kembali kemudian melepaskannya.
“Prof, saat ini usiaku sekitar 17 tahun. Dan ketika Jane, mamaku atau istrimu atau siapalah dia aku tidak bisa menyebutnya sebagai apaku, saat dia mengkloningkan diri, usianya ketika itu 30 tahun bukan? Satu jam yang lalu, dia sudah meninggal, tepat diusianya yang ke 47 tahun. Itu berarti bahwa usiaku sebenarnya sudah 30 tahun ditambah 17 tahun. Yah, usiaku sudah 47 tahun. Pantas saja tubuhku sudah merasa sakit-sakitan. Ya..usiaku adalah usia genetic. Bukan begitu Prof? Kenapa kau tidak jujur padaku?”

Mataku mulai kabur. Aku hanya bisa sedikit meraba wajah prof Albert yang penuh dengan air mata. Aku berusaha mengumpulkan tenaga untuk menghabiskan kata-kataku.
“Jika Dolly ditidurkan selamanya, kenapa kau tidak melakukan itu padaku? Apakah kau takut? Sebenarnya dengan menciptakan aku, engkau telah melawan hak Tuhan. Bagaimana jika saat itu, aku tidak lahir normal? Apakah kau akan membunuhku?”
Kata-kataku tersangkut di tenggorokan. Aku sudah tidak bisa meneruskan kata-kataku. Salju terus turun. Sungai Thames mulai tak nampak lagi kilaunya. Burung-burung enggan terbang. Langit nampak putih. Beku. Aku sudah pergi, ………menyusul Dolly.
(THE END)

...gIMANA ADA YANG ANEH GA? Betul nih cerita settingnya di kota London, tapi kok ada kota New York ya? New York kan ga di London, New York kan sebelahnya Nyugyorkarta, hehehe...apa di Sumenep ya? Waduh OI...NEW YORK DIMANA? ??? Sorri geografi dapet enem. Btw, yang penting nih buku dah nangkring di kumpulan cerpen terbitan BINA ILMU judul kumpulan cerpennya KUTEMUKAN CINTA DALAM TAHAJUDKU. My first short story. BELI YAAA...^_^... (nyopet punyae dek kana) hahahahahahaha

Fresh From The Oven

Adik laki-laki Jupri yang kesal karena tidak jadi disunat (cerita sebelumnya baca OpenMind 7) terpikir untuk ‘ngerjai’ Jupri. Dia mengendap-endap mendekati Jupri yang sedang terlelap diatas dipan bambu dan dibuai angin sepoi-sepoi di halaman belakang. Dia melihat seonggok kotoran ayam yang masih “fresh from the oven” kemudian....
mencoleknya. Benda yang mirip cokelat yang “anget-anget tahi ayam” itu dioleskan ke pucuk hidung Jupri. Setelah berhasil dengan misinya, dia segera meninggalkan Jupri dengan perasaan puas.
Tak lama kemudian, Jupri terbangun karena terganggu dengan adanya aroma sejuta rasa yang menyeruak memasuki rongga hidungnya. ”Kayaknya disini bau tai ayam?” pikir Jupri, Jupri pun pindah ke kamarnya. Tapi bau tai ayam itu tidak juga hilang. ”Masak dikamar gue juga ada bau tahi ayam?!” Jupri keluar menuju pos ronda yang memang tidak jauh dari rumahnya demi melanjutkan episode mimpinya, tapi bau tahi ayam itu masih tercium juga. Kemanapun Jupri melangkah, bau tahi ayam itu tak kunjung sirna. ”Waduh, kayaknya kampung ini emang kena wabah bau tai ayam!”
---

Pren, betapa sering seorang manusia memiliki anggapan yang keliru terhdap orang lain atau sesuatu. Padahal seandainya orang tersebut mau ’melihat’ dirinya, dia akan menemukan bahwa ternyata kekeliruan tersebut ada pada dirinya. Kekliruan itu ada pada persepsinya. Dan dari kekeliruan persepsi tersebut akan mengakibatkan kekeliruan sikap.
Seseorang yang memiliki persepsi bahwa baik-tidaknya seseorang, mulia tidaknya seseorang itu dari penampilan lahiriah saja, bila ia bertemu dengan seseorang yang berpenampilan apa adanya (mis. Celana jeans dan kaos oblong) maa akan beranggapan bahwa orang –yang berpenampilan apa adanya (tapi sesuai syariat)- tersebut tidak baik dan tidak mulia. Padahal, penentu derajat kemuliaan disisi Allah adalah ketakwaan seeorang.
Begitupula bila ada seorang mslim yang tidak memiliki pemahaman yang baik tentang islam, maka dia tidak akan setuju dengan upaya penerapan aturan Allahlah manusia akan dimuliakan.
Saya tidak mengajak untu mencela orang-orang yang memiliki persepsi keliru. Saya mengajak untuk bersikap lebih bijaksana.
Andai saja ada seseorang yang memberitahu Jupri bahwa di hidungnya ada tahi ayam dan kemudian timbul kesadaran dalam diri Jupri – bahwa sumber bau itu ternyata melekat pada dirinya – kemudian menghilangkan tahi ayam tersebut, tentu Jupri tidak akan beranggapan bahwa seluruh kampung bau tahi ayam.
Orang yang memiliki persepsi yang keliru akan terus dengan kekeliruannya seandainya tidak ada orang yang menunjukinya kebenaran.
Bersabarlah, bersikap proporsional, karena mungkin ketika kita berusaha menunjuki nya kebenaran dia tidak langsung menyadari kekeliruan persepsinya kemudian menggantinya dengan persepsi yang benar. Teruslah berusaha. Percayalah, tidak ada usaha yang sia-sia. Allah Maha menyaksikan semua usaha kita. Semoga Allah membimbing dan meridoi kita semua amiin. (dari OPENMIND)

Ga Mempan

Jupri berjalan tergesa-gesa menuju balai desa, dia khawatir akan terlambat karena waktunya sudah sangat mepet sekali. Jupri mempercepat langkahnya sambil terus menggandeng –setengah menarik- lengan adik laki-lakinya melewati ibu-ibu dan bapak-bapak yang membopong anaknya yang baru saja disunat. Rupanya di depan balai desa Arumanis, kampungnya Jupri dan Dodi, baru saja dilaksanakan sunatan massal oleh salah satu partai peserta pemilu.

”Lho?! Pak, katanya ada sunatan massal? ....
Kok cuma tinggal tenda sama meja sunatnya doang? Mantri sunatnya mana nih?” Tanya Jupri kepada salah satu kader partai yang bertugas jadi panitia sunatan massal

”Waduh, mantrinya baru saja pulang sebelum kamu datang tadi. Yah,...kira-kira tiga menit yang lalu. Acaranya kan cuma sampai jam satu?! Ini udah jam satu lewat ” jawab kader partai tersebut sambil menunjuk jam di tangannya.

”Padahal tadi mantrinya udah nunggu lama lho..!” sambung si kader partai.

”Terus adik saya ga jadi disunat nih?”

”Ya harus nunggu sunatan massal berikutnya”

”Kira-kira kapan tuh?” tanya Jupri penuh harap.

”Yah,..paling lima tahun lagi. Sekalian kampanye partai” jawab kader partai polos.

”hah? 5 tahun lagi?? Gila ! adik saya ini udah keas 6 SD, kalo nunggu 5 tahun lagi mungkin kulitnya udah ga mempan disunat !” ceplos Jupri dengan nada kesal. Namun dalam hati, Jupri menyesal terlambat datang hanya karena tadi sebelum berangkat ke acara sunatan massal tersebut ia ingin menikmati lagu sleeping awake nya P.O.D yang sedang diputar di salah satu stasiun televisi favoritnya. Jupri pikir dia tidak akan terlambat kalau dia menunda berangkat ke balai desa untuk menikmati hanya satu lagu saja. Ternyata, waktu yang dia gunakan untuk menikmati satu lagu itu harus dibayar dengan penantian selama 5 tahun. Dalam hati Jupri juga bertanya kesal, kenapa partai-partai itu hanya mau mengadakan sunatan massal ketika menjelang pemilu yang hanya 5 tahun sekali saja?! Dasar ada maunya ! Sebel!


Pren, seperti halnya Jupri, betapa sering kita menunda-nunda melakukan sesuatu yang harusnya segera kita kerjakan- meskipun menyegerakan kebaikan bukan berarti tergesa-gesa. Kita sering berleha-leha dalam melakukan pekerjaan seakan waktu berjalan sesuai dengan keinginan kita. Padahal, waktu ibarat pedang, apabila kita tidak mahir menggunakannya maka kita akan celaka. Waktu tetap berjalan tanpa memperdulikan apapun aktivitas kita, apakah kita sedang melakukan kebaikan atau keburukan. Waktupun tetap berjalan meninggalkan kita meskipun kita tidak melakukan apapun. Waktu tidak pernah berkompromi dengan kemalasan. Berkaitan dengan waktu, Rasulullah saw bersabda :

Peliharalah 5 perkara sebelum (datangnya) 5 perkara. Saat hidupmu sebelum datang saat matimu, saat sehatmu sebelum datang saat sakitmu, saat luangmu sebelum datang saat sempitmu, saat mudamu sebelum datang saat tuamu, dan saat kayamu sebelum datang saat miskinmu (HR. Hakim & Baihaqi)

Waktu adalah nikmat dari Allah yang luar biasa yang harus kita syukuri dengan cara mempergunakannya sebaik mungkin. Kita tentunya tidak ingin bermalas-malasan sementara di waktu yang sama orang lain sedang mengukir kesuksesan untuk dunia dan akhiratnya. Makanya mulai sekarang, kita musti belajar untuk melalui detik demi detik dengan penuh makna. Don’t waste your time, Ok?!(dari OPENMIND)

Balada Sandal JEPIT

Barangkali saya termasuk orang yang mudah sekali menganggap orang lain sebagai teman sejati. Ketika sedang membicarakan agenda masa depan bersama seorang teman dalam sebuah kamar berukuran tidak lebih dari tiga kali dua meter, dimana fentilasi yang ada hanyalah kaca nako yang ketika itu sedang tertutup dan pintupun tertutup, tanpa disengaja dia (teman saya) maaf---kentut dengan aroma yang hampir sama dengan aroma yang dikeluarkan lubang septictank. Kontan saja hal itu mengganggu konsentrasi. Saya tetap berusaha sedapat mungkin untuk menjaga perasaannya dengan tetap bersikap seolah tidak pernah terjadi ledakan dahsyat tanpa suara dan melanjutkan perbincangan. Tapi sejurus kemudian muncul pertunjukan yang luar biasa! Di sela-sela obrolan, dia menghirup udara dalam-dalam seolah-seolah ingin menyaring udara yang telah terkontaminasi tersebut dan menghembuskannya kembali setelah bersih dari aroma yang tak sedap.
 Bagi saya, apa yang dilakukannya cukuplah menjadi salah satu bukti bahwa dia adalah orang yang sangat layak untuk menjadi teman sejati. Pengorbanannya luar biasa! Dia tidak ingin saya merasakan penderitaan karena kentut yang kedahsyatannya mungkin sama dengan senjata kimia yang katanya menjadi alasan invasi Amerika ke irak (Amerika tidak tahu, ternyata teman saya yang punya senjata kimia, bukan Irak)
 Ternyata anggapan saya bahwa dia adalah teman sejati tidaklah salah, dia memahami kegundahan hati yang tidak sepenuhnya saya keluarkan dan mencoba menghibur dengan mengajak refreshing di sungai Citengah yang ada di kaki gunung di Sumedang. Asoy, Citengah memang mampu membuat fresh kembali!
 Sepulang dari Sumedang kami sholat Isya di sebuah masjid kecil di terminal Ledeng, Bandung. Tapi seusai kami sholat berjamaah bertiga, saya terperanjat begitu mendapati sandal jepit saya sudah tidak ada lagi! Di tempat yang tidak begitu jauh dari tempat menyimpan sandal jepit, ada sepasang sandal jepit, tapi bukan milik saya. Ya sudah terpaksa harus beli lagi. Padahal, belum ada seminggu mengalami hal yang sama : tertukar sendal!
 Kejadian yang sama kemudian terulang lagi ketika bermalam di sebuah kota yang lain, saya kaget ketika setelah sholat subuh dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, mendapati sendal jepit yang belum ada satu minggu dibeli –telah raib !! Ini kejadian yang ketiga kalinya dalam sebulan! Seperti biasa, selalu saja ada sendal ”pengganti” yang tersisa di masjid tersebut dan seperti biasa juga, kondisi sendal tersebut tidak sebanding dngan sendal jepit saya yang relatif masih baru. Akhirnya saya memilih berjalan tanpa alas kaki kira-kira hampir satu kilometer sampai kemudian bertemu warung yang menjual sendal jepit.

 Sesaat sempat kesal dalam hati. Hey! Dimana perasaan kalian???! Apakah sendal jepit begitu tidak berharga bagi kalian sehingga kalian tidak bisa meresapi rasa yang berbeda antara sendal milik kalian dan milik orag lain?? Kenapa kalian begitu saja memakai miilik orang lain dan meninggalkan milik kalian? Apakah saya harus membeli rantai khusus untuk mengikat sendal jepit ke tiang atau pagar masjid?? Atau apakah harus memasang alarm di sendal jepit yang akan berbunyi jika ada orang lain yang mencoba menyentuhnya?? Atau harus memasang alat pemindai sidik kaki yang bila ada orang lain yang mencoba memakai sendal jepit saya tapi karena sidik kakinya tidak sesuai dengan sidik kaki saya maka sendal jepit tersebut tidak mau bergerak dari tempatnya?? Atau karena seluruh upaya tadi sangat mahal bila ingin dilakukan maka saya harus meniru cara adik laki-laki saya yang masih kelas satu SD, yang memotong hampir separuh bagian depan dari salah satu sisi sendal jepitnya?? Apakah harus??
 Saya juga kesal, kenapa sering kehilangan sandal jepit di masjid dimana orang-orang yang memasukinya tentu orang-orang yang taat beribadah?? Sebersit ada kekhawatiran dalam diri, jangan-jangan ada diantara saudara-saudara sesama muslim yang tidak memperhatikan kesalahan-kesalahan yang dilakukannya karena menganggap hal itu hanyalah hal-hal kecil.
 Mungkin ada diantara kalian yang menanyakan : Kenapa ga pake sendal jepit yang tersisia? Tidak! Saya akan sangat berusaha dengan keras sekali untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan hak saya. Bukan karena pasangan sendal yang tersisa adalah pasangan sendal perkawinan antara sendal yang jeni skelaminnya sama, sebelah kiri dengan kiri atau kanan dengan kanan. Atau pasangan hasil kawin silang antara sendal jepit warna biru dengan warna merah. Atau hasil perkawinan yang tidak sederajat, yang satu ukuran nomer tujuh dan yang satu lagi nomor sepuluh setengah. malah hasil kawin paksa antara sendal jepit dengan bakiak! Bukan ! Bukan karena itu! Tapi karena memahami betul bahwa itu bukan milik saya! Dan terlarang bagi siapapun untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya. So...Berlakulah jujur pada diri sendiri.