Powered By Blogger

Minggu, 09 Januari 2011

Balada Sandal JEPIT

Barangkali saya termasuk orang yang mudah sekali menganggap orang lain sebagai teman sejati. Ketika sedang membicarakan agenda masa depan bersama seorang teman dalam sebuah kamar berukuran tidak lebih dari tiga kali dua meter, dimana fentilasi yang ada hanyalah kaca nako yang ketika itu sedang tertutup dan pintupun tertutup, tanpa disengaja dia (teman saya) maaf---kentut dengan aroma yang hampir sama dengan aroma yang dikeluarkan lubang septictank. Kontan saja hal itu mengganggu konsentrasi. Saya tetap berusaha sedapat mungkin untuk menjaga perasaannya dengan tetap bersikap seolah tidak pernah terjadi ledakan dahsyat tanpa suara dan melanjutkan perbincangan. Tapi sejurus kemudian muncul pertunjukan yang luar biasa! Di sela-sela obrolan, dia menghirup udara dalam-dalam seolah-seolah ingin menyaring udara yang telah terkontaminasi tersebut dan menghembuskannya kembali setelah bersih dari aroma yang tak sedap.
 Bagi saya, apa yang dilakukannya cukuplah menjadi salah satu bukti bahwa dia adalah orang yang sangat layak untuk menjadi teman sejati. Pengorbanannya luar biasa! Dia tidak ingin saya merasakan penderitaan karena kentut yang kedahsyatannya mungkin sama dengan senjata kimia yang katanya menjadi alasan invasi Amerika ke irak (Amerika tidak tahu, ternyata teman saya yang punya senjata kimia, bukan Irak)
 Ternyata anggapan saya bahwa dia adalah teman sejati tidaklah salah, dia memahami kegundahan hati yang tidak sepenuhnya saya keluarkan dan mencoba menghibur dengan mengajak refreshing di sungai Citengah yang ada di kaki gunung di Sumedang. Asoy, Citengah memang mampu membuat fresh kembali!
 Sepulang dari Sumedang kami sholat Isya di sebuah masjid kecil di terminal Ledeng, Bandung. Tapi seusai kami sholat berjamaah bertiga, saya terperanjat begitu mendapati sandal jepit saya sudah tidak ada lagi! Di tempat yang tidak begitu jauh dari tempat menyimpan sandal jepit, ada sepasang sandal jepit, tapi bukan milik saya. Ya sudah terpaksa harus beli lagi. Padahal, belum ada seminggu mengalami hal yang sama : tertukar sendal!
 Kejadian yang sama kemudian terulang lagi ketika bermalam di sebuah kota yang lain, saya kaget ketika setelah sholat subuh dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, mendapati sendal jepit yang belum ada satu minggu dibeli –telah raib !! Ini kejadian yang ketiga kalinya dalam sebulan! Seperti biasa, selalu saja ada sendal ”pengganti” yang tersisa di masjid tersebut dan seperti biasa juga, kondisi sendal tersebut tidak sebanding dngan sendal jepit saya yang relatif masih baru. Akhirnya saya memilih berjalan tanpa alas kaki kira-kira hampir satu kilometer sampai kemudian bertemu warung yang menjual sendal jepit.

 Sesaat sempat kesal dalam hati. Hey! Dimana perasaan kalian???! Apakah sendal jepit begitu tidak berharga bagi kalian sehingga kalian tidak bisa meresapi rasa yang berbeda antara sendal milik kalian dan milik orag lain?? Kenapa kalian begitu saja memakai miilik orang lain dan meninggalkan milik kalian? Apakah saya harus membeli rantai khusus untuk mengikat sendal jepit ke tiang atau pagar masjid?? Atau apakah harus memasang alarm di sendal jepit yang akan berbunyi jika ada orang lain yang mencoba menyentuhnya?? Atau harus memasang alat pemindai sidik kaki yang bila ada orang lain yang mencoba memakai sendal jepit saya tapi karena sidik kakinya tidak sesuai dengan sidik kaki saya maka sendal jepit tersebut tidak mau bergerak dari tempatnya?? Atau karena seluruh upaya tadi sangat mahal bila ingin dilakukan maka saya harus meniru cara adik laki-laki saya yang masih kelas satu SD, yang memotong hampir separuh bagian depan dari salah satu sisi sendal jepitnya?? Apakah harus??
 Saya juga kesal, kenapa sering kehilangan sandal jepit di masjid dimana orang-orang yang memasukinya tentu orang-orang yang taat beribadah?? Sebersit ada kekhawatiran dalam diri, jangan-jangan ada diantara saudara-saudara sesama muslim yang tidak memperhatikan kesalahan-kesalahan yang dilakukannya karena menganggap hal itu hanyalah hal-hal kecil.
 Mungkin ada diantara kalian yang menanyakan : Kenapa ga pake sendal jepit yang tersisia? Tidak! Saya akan sangat berusaha dengan keras sekali untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan hak saya. Bukan karena pasangan sendal yang tersisa adalah pasangan sendal perkawinan antara sendal yang jeni skelaminnya sama, sebelah kiri dengan kiri atau kanan dengan kanan. Atau pasangan hasil kawin silang antara sendal jepit warna biru dengan warna merah. Atau hasil perkawinan yang tidak sederajat, yang satu ukuran nomer tujuh dan yang satu lagi nomor sepuluh setengah. malah hasil kawin paksa antara sendal jepit dengan bakiak! Bukan ! Bukan karena itu! Tapi karena memahami betul bahwa itu bukan milik saya! Dan terlarang bagi siapapun untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya. So...Berlakulah jujur pada diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar