Powered By Blogger

Sabtu, 24 September 2011

Open Reqruitment

Bab V


Adi saudara termuda Syatir termenung, pikirannya menerobos laiknya peluru senapan SVD Dragunov yang menakut-nakuti tentara USA (kalau perlu dibalik aja ASU) di Afganistan, ia mencari solusi bagaimana bisa menambah jiwa-jiwa pembebas lagi untuk meluaskan penampang kolektif kelompoknya. Membagi waktu untuk mengurus kurcaci-kurcaci jalanan saja sudah membuat pikiran dirinya dan kakaknya berputar-putar melebihi putaran baling-baling ganda Ka-50 Black Shark yang merupakan helikopter Rusia saingan APHACE.
“Semoga saja Bang Syatir punya solusi konyolnya”. Bisik Adi dengan senyuman di bibirnya.
Lantas Adi pun menceritakannya apa yang terpendam di benaknya kepada Syatir, Syatir pun langsung memahaminya dan meresponnya.
“Oke, pemikiran yang bagus, kalau begitu kamu punya teman di media cetak gak?”. Tanya Syatir kepada adiknya
“Sebentar Bang, sepertinya saya ada kenalan waktu ngantarkan anak-anak loper koran waktu itu. Oh iya, namanya Mas Agil Bang. Dia kerja di koran kriminal yang lumayan terkenal di Surabaya, kayaknya sih editor bang”
“Tepat sekali kalau begitu, kita memang butuh orang yang ada di koran-koran kriminal. Kira-kira besok kita bisa ketemu sama Agil gak?”
“Bisa Bang, ntar aku hubungi saja Mas Agil”
***
“Mas Agil ini kenalin Kakak ku yang kemarin ngajak ketemu kamu di sini”
“Oh ini ya Mas Agil, saya Syatir mas, maaf loh mas, tempatnya agak berantakan, ya beginilah tempat anak-anak jalanan.”
“Iya Bang Syatir, ah biasa mas, ini lebih rapi dari pada tempat kost saya. Wah bisa saya wawancarai nih buat diberitakan di media kalau ada yang ngurus anak jalanan di daerah hitam kayak gini”. Ungkap Agil dengan lugu.
“Jangan berlebihan gitulah mas, kalau wawancara mendingan kapan-kapan saja mas”. Ia mencoba tersenyum kepada Agil.
“Oh iya Mas Agil, ini boleh ndak saya minta bantuan buat ngiklanin lowongan kerja di sini? Soalnya di sini kualahan mas buat ngurus anak-anak”. Syatir langsung mengutarakan maksudnya.
“Ndak apa-apa kok mas, saya siap bantu untuk ngiklankan, ya hitung-hitung buat nambah amal saya, hehe. Mana Bang formatnya?”
“Ini mas tulisannya, tapi tolong di kasih gambar sendiri ya, gambar yang bagus mas, yang menarik gitu loh”. Jawab Syatir sambil menyerahkan tulisannya.
“Hah??? Yang bener Bang, masak tulisannya seperti ini, gak pa-pa nih Bang?” Agil terkejut seperti melihat Kapal Induk Kelas Nimitz tiba di Perairan Indonesia.
“Biasa ja lah mas, yang penting banyak yang datang dulu ke sini, oke Mas Agil?” Syatir mencoba menenangkan hati Agil.
“Beres deh Bang, salut deh ama idenya Bang Syatir, kalau begitu saya pamit dulu Bang, besok bisa dilihat di koran pagi bang iklan lowongannya, Assalamualaikum”. Agil pun berpamitan diiringi dengan salam dari Syatir dan Adi.
***
Mentari pagi pun menyapa segenap penghuni rangkaian tata surya. Syatir dan Adi menunggu tukang koran lewat untuk melihat lowongan kerja yang sudah dipesankan.
“wow, sini Bang lihat nih iklannya sudah jadi, keren lagi”, teriak Adi pada Syatir.
“lumayan juga, siap-siap kita pasti banyak penelpon sebentar lagi, ayo siapkan tempat untuk para calon pejuang masa depan”
“oke bang”
Keduanya melangkah beriringan menapaki jalan meninggalkan tukang koran yang juga melihat iklan yang dibaca kedua pemuda tadi. Penjual koranpun juga tergiur untuk mengikuti iklan yang dipasang syatir dan Adi. Bagaimana tidak, iklan itu begitu menyolok mata dengan warna pink dan bertuliskan kata yang menyentuh naluri manusia untuk mengeroyoknya:
Hot Call: Kubiarkan diriku untuk bisa kau nikmati sepuasmu tanpa harus ada uang di kantongmu hanya untuk nanti malam di kamarku. Ku batasi untuk 100 lelaki perkasa yang menelponku di 085 645 068 266.  Salam harum, May-b
Syatir sudah paham benar jika kematian May tidak begitu menyebar di kota pahlawan ini, apalagi nama May juga tidak hanya satu. Kini Syatir begitu sibuk menerima telepon-telepon para lelaki hidung belang yang sudah tidak sabar ingin menumpahkan nafsunya nanti malam.
“halo, sayang, saya lelaki perkasa yang siap membahagiakan kamu nanti malam”
“oh maaf saya asistennya. Baik pekerjaan bapak apa?”
“oho mas, jangan kawatir saya ini anggota dewan mas. Jadi dijamin puas deh mas”
“nama bapak siapa? Berat dan tinggi badan bapak?”
“oh nama saya Simo mas, berat 50 dan tinggi 160”
“oke pak Sikomo, nama bapak sudah saya catat. Trimakasih pak, nanti malam bisa datang ketempat saya di gang dolly gang 19 no.24”
“nama saya bukan Sikomo mas!”
“oke pak Komodo, tut..tut..tut”
Tidak hanya 100 orang yang menggetarkan handphone syatir melainkan dua kali lipatnya hingga pukul 17.00 Wib setelah HP Syatir benar-benar mati. Berbagai macam latar belakang orang yang bangkit naluri seksualnya mulai dari penjual minyak wangi hingga pemilik pabriknya, dari penjahat sampai pejabatnya penjahat semuanya menelpon dengan mempromosikan dirinya. Syatir juga menyiapkan keamanan dirinya, ia memasang tirai kawat di dalam gedung yang nanti dijadikan pertemuan para hidung belang. Tirai kawat tersebut menjadi pemisah antara dirinya yang nanti bicara diatas panggung dengan para pencari sahwat. Dan untuk kemanan dirinya dan teman-temannya di sana, maka kawat tersebut juga dialiri listrik.
***
Semuanya sudah berkumpul, pertarungan mental akan segera dimulai. Syatir, Adi dan Rekan-rekannya termasuk wartawan Agil menyaksikan acara tersebut. Mereka berada di balik kawat jeruji beraliran listrik. Sebisa mungkin mereka mengendalikan emosi, emosi ketakutan, emosi kegugupan dan emosi kemarahan yang menyatakan mengapa bisa begitu banyak orang yang mendatangi majelis untuk kemaksiatan dari pada majelis ilmu Alloh.
Suasana dalam mirip diskotik yang dibangun almarhum may itu begitu gaduh dengan celoteh dan tawa para pencinta Sahwat yang kira-kira berjumlah lebih dari 200 orang. Dengan perasaan yang bercampur-campur, Syatir mulai mendekati microfon dan berpidato diantara para undangan itu.
“Saudara-saudara selamat datang dalam area menuju kebahagiaan dan kenikmatan yang sesungguhnya, Selamat datang!”
Semua yang hadir terpanah lalu bertepok tangan dan bersiul keras.
“Semuanya tanpa kecuali yang hadir disini akan merasakan kenikmatan yang luar biasa, bukan kenikmatan semu akan tetapi kenikmatan yang sesungguhnya. namun sebelum itu, saya harap kawan-kawan tenang dan tanpa ada suara, silahkan lihat ke atas, dan silahkan tonton video yang diputar panitia hingga akhir”
Setelah Syatir mengkondisikan para pencinta sahwat maka lampupun dimatikan, suara menggema yang muncul dari sounds menyihir setiap telinga yang mendengar. Perlahan cahaya LCD menyorot ke layar LCD yang diletakkan di atas gedung. Permainan animasi flash dan 3Ds Max begitu memukau mata yang memandang. Begitu attraktifnya tulisan WELCOME to The Real Paradise. Lalu penonton kembali bersorak sorai.
Perlahan-lahan mulai di tayangkan sebuah video yang mengajak para penonton bertamasya dalam pikirannya. Tamasya itu dimulai dari cerita kecambah kecil yang merupakan sperma berenang lalu bertemu dengan sel telur dan keduanya menyatu berkembang dengan cepat menjadi manusia. Manusia yang masih suci dan akan menjalani kehidupannya sebagai seorang manusia di setiap masa-masanya. Dalam video itu digambarkan pula tentang cita-cita mereka. Cita-cita mereka yang tidak mungkin menjadi seorang pelacur, menjadi seorang mucikari, menjadi pemerkosa, menjadi lelaki hidung belang tentu tidak ada sedikitpun dalam benak seorang anak memiliki cita-cita sehina itu. Ya sekalipun para orang tuanya adalah pelacur,  merekapun tidak rela jika buah hatinya mengikuti jejak langkahnya.
Tamasya hati itupun berlanjut, dikisahkan perjalanan hidup manusia secara global. Sudah menjadi sesuatu yang umum jika kebanyakan manusia menjalani hidupnya selaik air yang mengalir, mengikuti keadaan. Ada yang memiliki prinsip hanya saja prinsipnya adalah mencari kebahgiaan pada materi dan uang. Ada pula yang mencari jalan kebahagiaan mengikuti naluri seksnya. Dari tamasya itu kemudian ditampilkan pula orang-orang kaya seperti  Charles Schwab, presiden perusahaan baja terbesar, lima tahun sebelum ia mengalami kebangkrutan harus hidup dengan modal pinjaman. Howard Habson, presiden perusahaan gas terbesar bahkan sampai menjadi orang gila. Jessi Livermoe, broker terbesar di Wall Street, dinyatakan bunuh diri. Ivan Krueger, presiden monopoli terbesar di dunia, bunuh diri. Leon Fraser, presiden the Bank of International Settlement juga bunuh diri. Termasuk anak seorang direktur OPEL jerman yang bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri setelah merasakan kegelisahan dari hidupnya yang foya-foya.
Kemudian juga kisah para artis yang mati dengan cara bunuh diri setelah merasakan ketenarannya seperti Pada 21 Januari 2007, UNee gantung diri dirumahnya di Seogu, Incheon, Korea Selatan. Jung Da Bin mengalami depresi, sama seperti yang dialami Unee. Pada 22 February 2005, malam hari. Lee Eun Joo .bunuh diri di apartementnya,  Bundang, Seongnam, hanya selang beberapa hari setelah ia lulus dari Universitas. Artis Woo Seung Yun, berusia 24 tahun ditemukan meninggal pada pagi hari tanggal 27 April 2009 di rumahnya. Artis yang diperkirakan meninggal karena bunuh diri ini ditemukan menggantung diri di lemari pakaian. Depresi dituduh sebagai alasan dari bunuh diri tersebut. Kim Ji Hoo gantung diri di rumahnya di Jamsil, Korea Selatan pada 6 Oktober 2008. Sebuah catatan ditemukan di TKP yang berisi: Aku kesepian dan dalam situasi yang sulit. Tolong mengkremasi tubuh saya. Begitu juga dengan Seorang artis korea bernama Jang Ja-yeon ditemukan bunuh diri menggantung diri di rumahnya pada tanggal 7 Maret 2009. Artis yang membintangi Boys Before Flowers yang memerankan karakter Sunny adalah artis yang lebih mencengangkan, ternyata dia dijadikan budak sex oleh agensinya. Termasuk kematian Park Yong Hwa juga karena depresi.
Termasuk pengakuan Shelly Luben juga di tampilakan. Seorang mantan PSK papan atas yang merupakan bintang film porno luar negeri itu memaparkan bahwa PSK itu kebanyakan tidak menyukai seks, melainkan kecintaannya kepada uang dan kekuasaan. Mereka hanyalah berpura-pura dalam setiap pembuatan film-film porno. Tidak ada diantara mereka para PSK yang menyukai orang-orang asing yang tentu tidak peduli terhadap mereka, dan tentu dengan menjadi PSK maka ia telah merendahkan harga dirinya. Ditampilkan diatas lcd itu bahwa Shelly mengakui bahwa ia dan para PSK lainnya begitu benci dengan bau busuk keringat lelaki bahkan Shelly dan PSK lainnya sampai sering muntah di kamar mandi saat break syuting film panas yang mereka bintangi. Ada pula yang menenangkan diri dengan menghabiskan batang-batang rokok marlboro dengan tiada hentinya.
Para penonton film porno mengira kalau para pemain di sana begitu mencintai seks padahal kenyataannya begitu ironis. Shelly kembali menuturkan bahwa kebanyakan dari mereka juga menderita penyakit AIDS karena profesinya, atau tertular berbagai penyakit kelamin dan herpes yang sulit disembuhkan. Diceritakan pula olehnya kalau ada salah seorang artis film porno setelah syuting dengan menahan sakit sepanjang hari setelah sampai dirumah ia menembak kepalanya dengan pistol. Kebanyakan dari artis porno berasal dari keluarga yang berantakan dan pernah mengalami pelecehan seksual dan perkosaan dari tetangganya sendiri. Diantara mereka ada yang meluapkannya dengan kata-kata “ saat kami kecil kami hanya ingin bermain boneka, bukan mendapatkan trauma saat seorang laki-laki menodai kami”
Dari tayangan tersebut dipaparkan pengakuan-pengakuan mereka seperti “dengan semua pengalaman mengerikan itu kami menipu kalian di depan kamera padahal sebenarnya kami membenci di setiap menitnya.
Dikisahkan pula dalam pengakuan shelly, dikarenakan trauma yang seperti itu artis porno hidupnya tergantung kepada alkohol dan narkotika. Dan hidup mereka juga diliputi ketakutan akan terjangkit HIV atau penyakit kelamin lainnya seperti herpes, gonorrhea, syphilis, chalamydia, dll. Menurutnya pula kebanyakan bintang porno grafi mati karena HIV, bunuh diri, pembunuhan dan obat pada tahun 2007. Antara 2003 dan 2005 sebanyak 976 orang pemain dilaporkan dengan 1.153 hasil positif STD. 66% dari pemain pornografi terkena herpes, penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Sekalipun ada pemeriksaan kesehatan setiap bulannya namun hal tersebut bagi mereka tidak dapat mencegah tertularnya penyakit-penyakit mematikan itu.
Harapan besar diungkapkan oleh Shelly dan teman-temannya bahwa mereka menginginkan kehidupan yang normal, namun begitu sulit untuk berhubungan dengan laki-laki biasa, maka dari itu kebanyakan dari mereka menikah dengan sutradara film porno atau menjalani hidup sebagai lesbian.
Dalam kehidupan sehari-hari bagi para pemain porno yang memiliki anak, mereka menganggap bahwa mereka adalah ibu yang paling buruk, mereka terkadang pulang seperti zombie dengan botol bir dikanan dan gelas wisky ditangan kiri. Mereka juga tidak senang dengan bersih-bersih hingga mereka menyewa pembantu untuk membersihkan kotoran mereka. Selain itu mereka juga membenci memasak. Biasanya mereka memesan makanan yang kemudian mereka muntahkan lagi karena kebanyakan dari mereka menderita bulimia, semacam gejala lapar yang tidak pernah terpuaskan. Bahkan ketika ada tamu terkait dengan seks maka mereka harus mengunci anak mereka dulu dikamar dan menyuruh mereka untuk diam.
Di akhir kisah Shelly, dia mengatakan langsung dengan nada memohon dan dengan hembusan nafas yang begitu dalam.
“semua itu TIPUAN para kapitalis, kalau kamu bisa melihat lebih dalam kehidupan artis film porno mungkin kamu akan kehilangan minat untuk menonton film porno dan melakukannya dengan pasangan ilegalmu! Kenyataan sebenarnya kami artis film porno ingin mengakhiri semua rasa malu ini dan semua trauma dalam hidup kami. Tapi sayangnya kami tidak bisa melakukannya sendiri.
Kami berharap kalian para kaum pria membantu kami, memperjuangkan kebebasan dan kehormatan kami. Kami ingin kalian kalian menyembuhkan hati kami dengan menjaga ikut bersama mengajak kaum kami untuk kembali menjadi wanita sejati, wanita yang wajar dan layak menjadi ibu serta membesarkan anak sebagaimana masyarakat pada umumnya. Kami juga berharap kalian mau berdoa untuk kami dan semoga Tuhan akan mendengar dan mengampuni semua kesalahan kami di masa lalu.
Sekali lagi percayalah, bahwa industri film porno dan praktek prostitusi itu tidak lebih dari “seks Palsu” dan “tipuan kamera”, Percayalah lalu bergeraklah untuk menggembalikan bersama-sama berjuang mengembalikan kehormatan kami dari jurang yang hina dan kelam ini.....!
Keheningan mulai menyelimuti para perkumpulan lelaki-lelaki itu. Awal film itu telah membuat hati mereka benar-benar terbelah untuk menerima cahaya selanjutnya. Perlahan mereka mulai menyadari betapa kesenangan dunia ini hanyalah permainan, hanyalah bualan, hanyalah untaian rayuan gombal sebagaimana sering mereka lakukan untuk menaklukkan lawan jenis mereka. Mereka mulai berfikir lantas untuk apa hidup di dunia ini jika yang selama ini mereka lakukan nanti juga ujung-ujungnya adalah kesengsaraan seperti yang mereka saksikan. Maka film itu pun masih berlanjut dengan iringan musik yang sudah menyeka lembut hati mereka.
Kini film itu berganti dengan suasana yang semangat, suasana yang mebara, membakar untuk membuat mereka bangkit. Film yang mungkin hanya mengingatkan mereka akan kisah-kisah yang perna diceritakan oleh ustads-ustads mereka saat mereka belajar membaca iqra, kisah para Nabi. Kisah para nabi yang sekalipun hidup mereka sederhana, namun mereka tetap bahagia, tetap membara. Kisah para nabi yang sekalipun hidup mereka dicemooh, dilecehkan, ditentang bahkan diperangi juga ada yang dipenjarakan maka mereka tetap berahir dengan kemenangan. Kisah para nabi yang sekalipun mereka dikepung dengan makar-makar yang akan membunuh mereka, membakar mereka, dan meruntuhkan mereka, maka mereka justru terheran-heran dan tersenyum penuh dengan kebahagiaan setelah makar-makar itu justru berbalik kepada sang pembuat makar.
Begitulah kisah manusia pilihan yang kemudian diarahkan bahwa kehidupan para nabi adalah kehidupan yang penuh perjuangan hanya untuk Allah Swt. Kehidupan yang apabila dilihat begitu banyak cobaan akan tetapi bila dilakukan maka kemudahan-kemudahan akan mengantarkan mereka pada kemenangan-kemenangan yang mengejutkan. Kisah yang mengerucutkan untuk senantiasa menyandingkan Allah Swt dalam setiap aktivitasnya dengan maksud untuk beribadah hanya kepada-Nya.
Film itu masih tetap berbicara, ayat-ayat yang menyatakan kenikmatan yang senyata-nyatanya. Kenikmatan yang tidak akan perna ada di dunia. Kenikmatan yang penuh rahasia hingga mata pun tak mampu untuk mencercapnya. Itula kenikmatan-kenikmatan surga dengan para penghuninya. Penghuni yang saat itu juga diadakan oleh sang Maha Pencipta, Allah Swt. Penghuni yang menjual senyuman dan tatapan yang tidak ada tarif untuk membelinya, hanya Ridhonyalah yang menjadikan semua itu Cuma-Cuma. Merekalah bidadari dimana orang-orang beriman begitu bersemangat untuk mengkhibah lalu menikahinya.
Seketika itu mereka mulai membasahi lantai gedung dengan air mata mereka, air mata penyesalan sekaligus keteguhan untuk tidak kembali kebelakang menengok kegelapan. bersambung...


Tunas Yang Menjulang Keatas

Bab iv


Base camp itu kini semakin ramai dengan celotehan anak-anak jalanan. Mendidik anak jalan dengan pengalaman hidup mereka yang keras bukanlah hal yang mudah. Karakter mereka harus diarahkan dengan membongkar pondasi pemikiran mereka dulu. Membongkar hingga akar-akarnya. Tidak ada paksaan kepada mereka untuk sholat, yang ada adalah pemahaman sholat dan akidah yang cemerlang untuk menggerakkan mereka. Sekali tekanan emosional kepada mereka maka mereka akan kembali ke jalan dan sulit untuk menarik ulang. Maka pengarahan mereka adalah dengan hikmah dan pendekatan sosial pada permasalahan-permasalahan aktual di masyarakat.
“gimana makanannya? Ada yang gak beres?” tanya Syatir.
“mantab Bang!” jawab si baju merah.
“kalau ntar makanannya tahu ama sambel aja, masih mau?”
“ya mau bang, asalkan ada nasinya”
“hahaha...dasar wong katrok” serentak menjawab.
“okelah, mau tak kasih cerita?” Tanya Syatir dengan ringan.
“pokoknya gak cerita kancil nyuri dompet di bus ja bang!”
“wah itu kan elo Ton”. Teriak Cupret.
Syatir langsung memulai untuk mendongeng, “okeh gak boleh berteman ya, hehe. Ini kisah bukan karangan bunga, maksudnya karanganku sendiri. Ini nyata terjadi di Jerman. Seorang anak direktur perusahaan terkenal, OPEL. kira-kira hidupnya enak apa enggak? Tanya Syatir.
“Ya pastilah Bang”
“Hidupnya gini, kalau sarapan dia di Berlin, makan siang di London, dan makan malamnya di Paris”
“Warkop mana tu bang Berlin, londo ma pak ri?”
“Tegal sana, hahaha”. jawab si Cupret pada Toni
“Itu nama ibu kota negara Ton, jadi makannya bukan antar warung lagi, tapi antar pulau melewati gunung”.
“Wah laper lagi dong bang tu Anak. Habis makan naik gunung. Lagian mana ada warung di gunung”. Teriak Toni
“Bego banget sih elu Ton. Itu naik pesawat bego”. Sahut si Parto
“Ya, betul tuh Parto, jadi pesawat terbang bisa melewati gunung dan lautan Ton. Jadi dia tu bosnya orang tajir. Kalau orang tajir naik mobil, kalau dia mobilnya dinaikin pesawat Ton. Kalau masalah cewek, ceweknya banyak banget bisa ganti-ganti semau dia”. Syatir menjabarkannya pada Tono.
“Wah enak donk Bang, saya aja nembak cewek malah di lempar piring waktu di warkop pojok kemarin”. Tono mengadu begitu saja
“hahaha... Bego kok diternak toh Ton, ya kamu sih nggak nyadar kalau Bimoli (bibir monyong lima Mil)” sahut si Parto lagi.
“sudah-sudah, sekarang mau tak tanya, kira-kira kalau hidup kayak anak direktur gitu enak apa enggak?” tanya si Syatir pada semua Anjal (anak jalanan).
“Ya enak lah kang, kan bisa nguasai tambal ban se-Surabaya”.
“Betul, bisa beli celana dalam tuh. Dari pada tiap hari gantian pakek ama Cupret, ih bisa kenak panunya, ih”. Jawab Tono.
“Hwe..hwe..” Syatirpun tersenyum melihat reaksi mereka.
“Ah gak selamanya yang kaya itu mesti seneng kayak anggapan kalian. Dan gak selamanya yang bisa dapetin apa aja di dunia ini bisa nemukan rasa bahagia di hatinya. Anak direktur OPEL itu pun akhirnya mati bunuh diri, kepalanya ditembak sendiri pake pistol”. Syatir bercerita dan keheninganpun tercipta.
“Goblog tu orang. Aku yang pernah 1 kali dicium wadam aja gak pengen mati dulu, ih jijay ngingetnya”. Sahut salah satu Anjal.
Syatir melanjutkan, “Dia bilang di surat yang ditulis sebelum dia mati, kalau dia nyari kebahagian di piknik tapi gak ketemu, di banyaknya wanita juga gak dia temukan, di makanan yang enak juga gak ia temukan, katanya mungkin dia bisa nemukan kebahagiaan di kematiannya. Jadi yang selama ini dia cari tu bukan makanannya, bukan ceweknya, bukan juga uangnya yang banyak, tapi rasa senang yang tulus atau bahagia itulah yang ia cari selama ini”.
Suasana pun semakin membisu, padahal tidak ada yang namanya suasana di ruangan itu. Nampaknya para anjal saat itu sedang menyelami pikiran dan perasaannya masing-masing untuk memahami satu realita yang baru bagi mereka.
Kesenyapan itu Syatir gunakan untuk mengambil Hp yang di sakunya lalu menunjukkannya ke mereka, “Ayo siapa yang tau orang yang ada di Foto ini?”.  Dan mereka pun menjawab,
“Orang mati tu Bang”. Sahut diantara mereka.
“Dia itu Firaun di jaman nabi Musa, jasadnya masih utuh, juga keretanya ditemukan di Laut Merah. Jadi ini bukan dongeng, ini kisah nyata kayak yang tadi”. Syatir menjelaskan dengan pendek.
“Wah tak kirain nenekku bohong waktu itu”. Salah satu anjal masih terheran-heran.
“Sekarang kalian pasti sudah tau kan siapa nabi Musa dan Firaun itu, kira-kira Firaun itu hartanya banyak atau sedikit?”. Syatir pun mulai melontarkan pertanyaan retoris.
“Ea banyak lah Bang, orang raja gitu loh”
“Ok, kalau begitu Nabi Musa hartanya banyak atau sedikit?”
“Ea sedikit lah Bang, tapi lebih dikit kita kayaknya bang”.
“Bagus, nah kalau prajuritnya Firaun dibandingin pasukannya Nabi Musa siapa yang lebih banyak?”
“Yang lebih mahal banyak, eh maksudnya Firaun Bang yang pasukannya lebih banyak. Nabi Musa mah pasukannya beberapa orang ja termasuk penyihir yang tobat”
“Oke, Kalau begitu secara logika nih, kalau Firaun lebih banyak harta dan pasukannya maka siapa yang bakal menang?”
“Ah ya Firaun lah Bang”. Jawab salah seorang Anjal yang mukanya lumayan kayak artis.
“Bener sekali, lantas kenapa Musa bisa menang padahal waktu itu Musa gak bisa kemana-mana waktu dikejar Firaun,  kan di depannya ada lautan, apalagi Nabi Musa harta saja tidak memadai, pasukan juga gak ada apa-apanya dengan Firaun. Menurut kalian nih, apa yang dipunyai Nabi Musa tapi tidak dipunyai Firaun?”
“Barangkali Firaun gak punya jenggot kayak abang kali, nah Nabi Musa punya tuh”
“Alamak, malah bercanda. Udah ya, deal gak ada yang tau? Jadi begini, ada satu hal yang gak dipunyai Firaun tapi dipunyai Nabi Musa. Dan satu itu bisa mengalahkan apa saja yang dipunyai Firaun. Yang dipunyai Musa adalah keimanan kepada Allah SWT, dan jelas inilah yang gak dipunyai sama Firaun.”
“Ibaratnya gini bro, kalau orang yang memiliki iman dan tujuan hidup yang bener maka orang tadi dapat dikasih nilai 1 (satu). Nah kalau dia punya harta yang banyak kita bisa kasih lagi angka 0 dibelakangnya, jadi 10. Kalau dia punya lagi kedudukan yang tinggi maka nih orang bisa kita kasih lagi angka 0 dibelakangnya, jadi 100. Kalau dia lebih hebat lagi punya fisik yang bagus maka patut dikasih lagi angka 0 dibelakangnya, jadi 1000. Nah enakkan. Tapi seandainya dia memiliki semuanya itu namun dia gak punya yang pertama, iman ama takwa maka nilai 1000 akan kehilangan angka 1nya, dan menjadi 000.”
“oke sekarang aku mau tanya, firaun punya iman atau enggak?”
“enggak punya Bang”
“kalau begitu berapapun yang dimiliki firaun maka nilainya berapa?”
“enyol bang enyol”. Kata salah satu anjal yang paling kecil.
“Musa punya iman maka nilainya 1, kalau Musa itu satu sedangkan firaun itu 0000000 maka siapakah yang menang?” ungkap Syatir sambil ia menuliskannya di papan.
“Musa yang menang bang, Piraun yang kalah”
“Betul sekali, Firaun dan anak direktur Opel tadi keduanya memiliki Nol (0) yang banyak dalam kehidupannya, karena Nolnya tidak memiliki 1 maka berapapun harta, kedudukan dan fisiknya tidak bernilai sedikitpun kecuali iman bersemayam dalam jiwanya. Sedangkan Musa ia telah memiliki Iman, maka dengan begitu dia hidup dalam dekapan Allah SWT.”
“Jika demikian, hidup kalian untuk mencari angka 1 atau angka 0?”
“Untuk mencari angka 1 bang”
“kalau begitu, siapkah kalian untuk hidup hanya untuk Allah SWT?”
“siap bang,” jawab mereka serentak
“Andaikan suatu saat kalian hidup dijalan Allah lalu kehilangan harta, kedudukan dan juga jiwa kalian, apakah kalian siap?
“Siap Bang, kami siap kehilangan angka Nol-Nol tadi, asalkan kita gak kehilangan angka 1, iman kepada Allah SWT”. Jawab mereka dengan tegas dan kompak.
“Bagus, kita tancapkan iman kita dan tujuan hidup kita hanya untuk Allah SWT, baru kita mencari Nol-Nol dibelakang angka 1 hanya untuk Allah SWT, kalaupun kehilangan Nol-Nol tadi, itupun tidak masalah, asalkan kita tetap punya Allah Swt dalam diri dan kehidupan kita, karena Nol memang tidak ada nilainya bila angka 1 tidak ada didepannya!”
Sore itu begitu menggetarkan hati anak-anak yang ada di gang Dolly saat itu. Mereka mulai menampakkan tunas-tunas iman yang siap tumbuh menjulang seperti bambu yang lurus menengadahkan tatapannya ke birunya langit. Dan bambu-bambu itu siap di arahkan untuk dijadikan penopang-penopang rumah peradaban yang memberikan keteduhan pada umat di sekitarnya.
Bersambung...