Powered By Blogger

Sabtu, 24 September 2011

Tunas Yang Menjulang Keatas

Bab iv


Base camp itu kini semakin ramai dengan celotehan anak-anak jalanan. Mendidik anak jalan dengan pengalaman hidup mereka yang keras bukanlah hal yang mudah. Karakter mereka harus diarahkan dengan membongkar pondasi pemikiran mereka dulu. Membongkar hingga akar-akarnya. Tidak ada paksaan kepada mereka untuk sholat, yang ada adalah pemahaman sholat dan akidah yang cemerlang untuk menggerakkan mereka. Sekali tekanan emosional kepada mereka maka mereka akan kembali ke jalan dan sulit untuk menarik ulang. Maka pengarahan mereka adalah dengan hikmah dan pendekatan sosial pada permasalahan-permasalahan aktual di masyarakat.
“gimana makanannya? Ada yang gak beres?” tanya Syatir.
“mantab Bang!” jawab si baju merah.
“kalau ntar makanannya tahu ama sambel aja, masih mau?”
“ya mau bang, asalkan ada nasinya”
“hahaha...dasar wong katrok” serentak menjawab.
“okelah, mau tak kasih cerita?” Tanya Syatir dengan ringan.
“pokoknya gak cerita kancil nyuri dompet di bus ja bang!”
“wah itu kan elo Ton”. Teriak Cupret.
Syatir langsung memulai untuk mendongeng, “okeh gak boleh berteman ya, hehe. Ini kisah bukan karangan bunga, maksudnya karanganku sendiri. Ini nyata terjadi di Jerman. Seorang anak direktur perusahaan terkenal, OPEL. kira-kira hidupnya enak apa enggak? Tanya Syatir.
“Ya pastilah Bang”
“Hidupnya gini, kalau sarapan dia di Berlin, makan siang di London, dan makan malamnya di Paris”
“Warkop mana tu bang Berlin, londo ma pak ri?”
“Tegal sana, hahaha”. jawab si Cupret pada Toni
“Itu nama ibu kota negara Ton, jadi makannya bukan antar warung lagi, tapi antar pulau melewati gunung”.
“Wah laper lagi dong bang tu Anak. Habis makan naik gunung. Lagian mana ada warung di gunung”. Teriak Toni
“Bego banget sih elu Ton. Itu naik pesawat bego”. Sahut si Parto
“Ya, betul tuh Parto, jadi pesawat terbang bisa melewati gunung dan lautan Ton. Jadi dia tu bosnya orang tajir. Kalau orang tajir naik mobil, kalau dia mobilnya dinaikin pesawat Ton. Kalau masalah cewek, ceweknya banyak banget bisa ganti-ganti semau dia”. Syatir menjabarkannya pada Tono.
“Wah enak donk Bang, saya aja nembak cewek malah di lempar piring waktu di warkop pojok kemarin”. Tono mengadu begitu saja
“hahaha... Bego kok diternak toh Ton, ya kamu sih nggak nyadar kalau Bimoli (bibir monyong lima Mil)” sahut si Parto lagi.
“sudah-sudah, sekarang mau tak tanya, kira-kira kalau hidup kayak anak direktur gitu enak apa enggak?” tanya si Syatir pada semua Anjal (anak jalanan).
“Ya enak lah kang, kan bisa nguasai tambal ban se-Surabaya”.
“Betul, bisa beli celana dalam tuh. Dari pada tiap hari gantian pakek ama Cupret, ih bisa kenak panunya, ih”. Jawab Tono.
“Hwe..hwe..” Syatirpun tersenyum melihat reaksi mereka.
“Ah gak selamanya yang kaya itu mesti seneng kayak anggapan kalian. Dan gak selamanya yang bisa dapetin apa aja di dunia ini bisa nemukan rasa bahagia di hatinya. Anak direktur OPEL itu pun akhirnya mati bunuh diri, kepalanya ditembak sendiri pake pistol”. Syatir bercerita dan keheninganpun tercipta.
“Goblog tu orang. Aku yang pernah 1 kali dicium wadam aja gak pengen mati dulu, ih jijay ngingetnya”. Sahut salah satu Anjal.
Syatir melanjutkan, “Dia bilang di surat yang ditulis sebelum dia mati, kalau dia nyari kebahagian di piknik tapi gak ketemu, di banyaknya wanita juga gak dia temukan, di makanan yang enak juga gak ia temukan, katanya mungkin dia bisa nemukan kebahagiaan di kematiannya. Jadi yang selama ini dia cari tu bukan makanannya, bukan ceweknya, bukan juga uangnya yang banyak, tapi rasa senang yang tulus atau bahagia itulah yang ia cari selama ini”.
Suasana pun semakin membisu, padahal tidak ada yang namanya suasana di ruangan itu. Nampaknya para anjal saat itu sedang menyelami pikiran dan perasaannya masing-masing untuk memahami satu realita yang baru bagi mereka.
Kesenyapan itu Syatir gunakan untuk mengambil Hp yang di sakunya lalu menunjukkannya ke mereka, “Ayo siapa yang tau orang yang ada di Foto ini?”.  Dan mereka pun menjawab,
“Orang mati tu Bang”. Sahut diantara mereka.
“Dia itu Firaun di jaman nabi Musa, jasadnya masih utuh, juga keretanya ditemukan di Laut Merah. Jadi ini bukan dongeng, ini kisah nyata kayak yang tadi”. Syatir menjelaskan dengan pendek.
“Wah tak kirain nenekku bohong waktu itu”. Salah satu anjal masih terheran-heran.
“Sekarang kalian pasti sudah tau kan siapa nabi Musa dan Firaun itu, kira-kira Firaun itu hartanya banyak atau sedikit?”. Syatir pun mulai melontarkan pertanyaan retoris.
“Ea banyak lah Bang, orang raja gitu loh”
“Ok, kalau begitu Nabi Musa hartanya banyak atau sedikit?”
“Ea sedikit lah Bang, tapi lebih dikit kita kayaknya bang”.
“Bagus, nah kalau prajuritnya Firaun dibandingin pasukannya Nabi Musa siapa yang lebih banyak?”
“Yang lebih mahal banyak, eh maksudnya Firaun Bang yang pasukannya lebih banyak. Nabi Musa mah pasukannya beberapa orang ja termasuk penyihir yang tobat”
“Oke, Kalau begitu secara logika nih, kalau Firaun lebih banyak harta dan pasukannya maka siapa yang bakal menang?”
“Ah ya Firaun lah Bang”. Jawab salah seorang Anjal yang mukanya lumayan kayak artis.
“Bener sekali, lantas kenapa Musa bisa menang padahal waktu itu Musa gak bisa kemana-mana waktu dikejar Firaun,  kan di depannya ada lautan, apalagi Nabi Musa harta saja tidak memadai, pasukan juga gak ada apa-apanya dengan Firaun. Menurut kalian nih, apa yang dipunyai Nabi Musa tapi tidak dipunyai Firaun?”
“Barangkali Firaun gak punya jenggot kayak abang kali, nah Nabi Musa punya tuh”
“Alamak, malah bercanda. Udah ya, deal gak ada yang tau? Jadi begini, ada satu hal yang gak dipunyai Firaun tapi dipunyai Nabi Musa. Dan satu itu bisa mengalahkan apa saja yang dipunyai Firaun. Yang dipunyai Musa adalah keimanan kepada Allah SWT, dan jelas inilah yang gak dipunyai sama Firaun.”
“Ibaratnya gini bro, kalau orang yang memiliki iman dan tujuan hidup yang bener maka orang tadi dapat dikasih nilai 1 (satu). Nah kalau dia punya harta yang banyak kita bisa kasih lagi angka 0 dibelakangnya, jadi 10. Kalau dia punya lagi kedudukan yang tinggi maka nih orang bisa kita kasih lagi angka 0 dibelakangnya, jadi 100. Kalau dia lebih hebat lagi punya fisik yang bagus maka patut dikasih lagi angka 0 dibelakangnya, jadi 1000. Nah enakkan. Tapi seandainya dia memiliki semuanya itu namun dia gak punya yang pertama, iman ama takwa maka nilai 1000 akan kehilangan angka 1nya, dan menjadi 000.”
“oke sekarang aku mau tanya, firaun punya iman atau enggak?”
“enggak punya Bang”
“kalau begitu berapapun yang dimiliki firaun maka nilainya berapa?”
“enyol bang enyol”. Kata salah satu anjal yang paling kecil.
“Musa punya iman maka nilainya 1, kalau Musa itu satu sedangkan firaun itu 0000000 maka siapakah yang menang?” ungkap Syatir sambil ia menuliskannya di papan.
“Musa yang menang bang, Piraun yang kalah”
“Betul sekali, Firaun dan anak direktur Opel tadi keduanya memiliki Nol (0) yang banyak dalam kehidupannya, karena Nolnya tidak memiliki 1 maka berapapun harta, kedudukan dan fisiknya tidak bernilai sedikitpun kecuali iman bersemayam dalam jiwanya. Sedangkan Musa ia telah memiliki Iman, maka dengan begitu dia hidup dalam dekapan Allah SWT.”
“Jika demikian, hidup kalian untuk mencari angka 1 atau angka 0?”
“Untuk mencari angka 1 bang”
“kalau begitu, siapkah kalian untuk hidup hanya untuk Allah SWT?”
“siap bang,” jawab mereka serentak
“Andaikan suatu saat kalian hidup dijalan Allah lalu kehilangan harta, kedudukan dan juga jiwa kalian, apakah kalian siap?
“Siap Bang, kami siap kehilangan angka Nol-Nol tadi, asalkan kita gak kehilangan angka 1, iman kepada Allah SWT”. Jawab mereka dengan tegas dan kompak.
“Bagus, kita tancapkan iman kita dan tujuan hidup kita hanya untuk Allah SWT, baru kita mencari Nol-Nol dibelakang angka 1 hanya untuk Allah SWT, kalaupun kehilangan Nol-Nol tadi, itupun tidak masalah, asalkan kita tetap punya Allah Swt dalam diri dan kehidupan kita, karena Nol memang tidak ada nilainya bila angka 1 tidak ada didepannya!”
Sore itu begitu menggetarkan hati anak-anak yang ada di gang Dolly saat itu. Mereka mulai menampakkan tunas-tunas iman yang siap tumbuh menjulang seperti bambu yang lurus menengadahkan tatapannya ke birunya langit. Dan bambu-bambu itu siap di arahkan untuk dijadikan penopang-penopang rumah peradaban yang memberikan keteduhan pada umat di sekitarnya.
Bersambung...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar