Powered By Blogger

Kamis, 21 Juli 2011

Menggenggam Hatimu untuk Lebih Dekat KepadaNYA.

Di naungan angkasa biru, sebuah balon gas besar hasil kretivitas departement advertising sebuah perusahaan rokok menyemarakkan langit kota yang di zaman kolonial disebut Paris van Java. Balon itu mengingatkanku pada balon impian Hindenburg yang jauh terbang menuju angkasa namun akhirnya terbakar, menghancurkan popularitas Zeppelin sang penciptanya. Begitupun dengan diriku yang menciptakan balon impian. O’ betapa malangnya ia yang kubawa terbang tinggi menggunakan mimpi-mimpi kini selalu kupergoki termenung setelah masa pernikahan kami mulai beranjak menuju tahun yang kedua.

Uang tabungan kami semakin menipis, kini bahkan untuk membeli keperluan sehari-hari pun aku tak mampu membantunya. Pekerjaanku sepenuhnya bergantung pada harapan, menunggu-nunggu datangnya honor dari tulisan-tulisan yang sebulan sekali belum tentu dimuat oleh media masa nasional bahkan lokal. Mengharap-harap datangnya keajaiban ketika sebuah penerbitan mengirimkan draft kerjasama untuk meroketkan kumpulan novel dan essai yang akan membantu keuangan keluargaku.

Uh, tidak bisa seperti ini terus. Aku harus berusaha, setidaknya bekerja dengan keahlian kasar fikirku. Aku menscan poster lowongan perkerjaan yang menempel di kampus. Ada lowongan menjadi dentist, memegang kepala divisi informatika sebuah rumah sakit besar, menjadi surveyor geologi sebuah perusahaan perminyakan, atau calon peneliti di lembaga penelitian yang paling diminati di Indonesia. Uh, tak ada satu pun yang memerlukan sarjana humaniora terlebih bagi lulusan D3 yang bidang studinya relative aneh dan pendiriannya berawal pada tahun ketika aku masuk kedalamnya.

Aku menepis nafas, berat dan ada kekecewaan yang mengendap. Aku mulai mengalami delusi yang mengatakan, menyalahkan, menyudutkan bahwa aku sebagai seorang kepala rumah tangga, adalah lelaki ringkih yang tak mungkin mampu menanggung beban keluarga. Kalsium keyakinanku mulai menipis, rapuh dan menunggu ambrukan rangkanya.

“Maafkan aku De,” aku tak tega memandang wajahnya.

Ia nampak berusaha mengalihkan, “Maafkan untuk apa?” sahutnya. Aku tahu ia berusaha menampar kekecewaannya.

Aku menghela nafas, “Uh, seandainya ada lowongan jadi pasukan kuning, mungkin aku akan melamarnya.”

Ia menatapku sayu, menadah daguku menggunakan sepuluh jari-jemarinya yang lembut, “Jangan terlalu difikirkan. Hidup ini kadang naik kadang turun. Aku yakin, nanti akan ada sebuah keajaiban.” Digamitnya tanganku, “Yuk!” katanya mengajakku meninggalkan poser-poster yang menjadi sandaran harapan itu.

Sebelum kami benar-benar melangkah, aku menarik tangannya. Ia menoleh.

“Ada apa?”

“Aku memohon, untuk yang kedua kali semenjak pernikahan Kita. Seandainya suatu saat nanti Kita benar-benar kekurangan, bahkan lebih dari kekurangan yang Kita alami saat ini, jangan mengajukan tuntutan perceraian ya?”

De tertegun, dirinya menjadi patung kriya, hanya matanya yang berkata-kata, berkaca-kace, membulir, lalu jatuh di atas conblock berwarna abu. Tak kuasa, aku melihatnya begitu, selalu tak tega maka tak kulanjutkan perkataan itu. Ku ajak dia pergi. Sayup-sayup kudengar suaranya, yang kurasa, berubah menjadi basah, “Aku wanita yang setia dalam suka dan dukamu! Jangan pernah lagi Aa’ berkata seperti itu.”

Aku sungguh mempercayai kata-katanya. Aku mengangguk.

***

Ia datang begitu saja, seperti berkah dari langit. Dia datang saat aku menyelesaikan lembaran akhir Monte Christo, terlihat di antara sela-sela jemari kaki yang kutaruh di atas meja. Kulihat ia menggunakan baju longgar merah marun, baju yang cocok dengan rok hitam bertekstur yang dikenakannya. Menghisap air dari botol kaca bersoda, ia mengelilingi meja besar yang ada di toko bukuku. Menelisik satu persatu, mebolak-balik buku-buku yang nampaknya menarik perhatiannya.

Aku melemparkan buku di meja tempat kakiku bersandar. Perhatiannya pada buku terusik. Ia menoleh. Sebuah ekspresi murni terproyeksi di wajahnya.

“Oalah,” serunya. “Mas kan!? Benar kan?”

Aku pura-pura tak pernah mengenalnya, “Lho mas yang mana? Benar yang seperti apa?” tapi dia tahu kalau aku mencandainya, lalu kami tertawa.

Sebenarnya perkenalanku dengannya, jauh-jauh hari sebelum dia datang ke toko ini. Sewaktu menyeberangi zebra cross alun-alun kota, aku melihatnya dikemas kaca, duduk di bangku mobil yang entah mereknya apa. Waktu itu, ia kulihat membuka mulutnya lebar-lebar. Matanya sedikit terpejam. Ia menguap cukup panjang. Radiasinya menyeruak dan tanpa sadar aku ikut menguap.

Di balik kemudi, seorang bapak disampingya tertawa kemudian menepuk bahunya dan menunjukku menggunakan gerak kepalanya. Sewaktu melihatku menguap wanita ini tertawa. Kami sama-sama tertawa. Dan sore itu menjadi salah satu sore terindah dalam hidupku.

“Senang bertemu Kau kembali. Sudah berapa lama di kota ini?”

Keningnya berkerenyit, “Lho, bisa tahu kalau aku bukan orang sini?”

“Ya tahu, plat nomor mobilmu F. Bogor?”

“Ya,” Ia tersenyum.

Aku mengulurkan tangan. “Oh ya, namaku Dhani? Nama mu?”

“Sama!”

“Oh Sama!”

Setelah perkenalan itu Kami mulai membuka-buka satu topik. Ia bertanya tentang buku yang kubaca. Aku menceritakan hikmah yang dikandung bukunya, bertutur panjang lebar tentang Alexandre Dumas. Lalu obrolan berkembang menjadi berpanjang-panjang: menyinggung musik, membahas dan memberi saran film apa yang haram jika tidak diapresiasi, juga berbincang tentang impiannya menjadi penulis ternama.

Di dalam toko dengan dia sebagai pengunjungnya, dua jam setengah dipress menjadi pertemuan singkat yang tak terasa lama. Meski masih ingin berbincang denganku ia mengharuskan untuk unjuk diri.

“Dhani, terima kasih pembicaraan penuh maknanya!”

“Terimakasih tak terkira juga. Kalau ke kota ini lagi jangan lupa singgah!”

Ia tersenyum, “Aku takkan kembali ke Bogor. Kami sekeluarga baru saja pindah. Mungkin kedepannya, seminggu tiga kali aku akan ke sini, bertukar fikiran karena Aku adalah manusia sesat yang butuh bimbingan seorang sahabat.”

“Kalau begitu kutunggu kedatanganmu!”

Ia kemudian melipat kertas pembungkus buku yang baru di belinya. Sebelum ia benar-benar menghilang ditelan arus kendaraan, aku memanggilnya, “Hei Sama!”

Ia berbalik, kemudian menunjuk dadanya dengan telunjuk, “Namaku bukan Sama!”

“Tadi Kau bilang namamu Sama?”

“Maksudnya sama, namaku sama dengan namamu. Namaku Dhani, ditambah embel-embel Nita. Dha..nee..ta!” ia mengeja.

Aku menepuk jidatku. Kami tertawa lagi.

Tertawa memang sebuah awalan yang baik dalam sebuah perkenalan. Tertawa akan menjadi prasasti terkuat sebuah perkenalan, lebih dari itu ternyata waktu merekatkan tawa kami dalam hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan.

***

Dalam bincang-bincang tiga kali seminggu yang dijanjikannya, hubungan kami tak terasa semakin dekat dan semakin dekat, hingga akhirnya kami merasa sulit dipisahkan satu sama lainnya. Sama sama merindu, sepakat untuk mengangeni dan tersiksa apabila tak bersua. Roman-roman mulai terbentuk dan mimpi-mimpi Dhanita berkembang untuk terbang. Kemudian pada satu waktu, menjelang tokoku tutup, kukatakan padanya, “Aku ingin bertanggung jawab! Aku ingin menjadikanmu hanya satu-satunya kamu dalam hidupku! Aku mencintaimu dan ingin membahagiakanmu! Menikahlah denganku, hanya dengaku, sebab Kau tak mungkin, mutlak tak akan hidup berlimpah kebahagian jika menafikan untuk hidup bersamaku!”

Tak perlu kujelaskan bagaimana cara dia menjawab lamaranku yang aneh itu. Yang pasti, sebulan kemudian tanpa persiapan kami lantas menikah, dan hengkang menuju sebuah kota di ujung timur Pulau Jawa. Kami membuka sebuah toko buku di kota Malang. Menjalani kehidupan pernikahan dengan aku sebagai seorang lelaki, yang terus menerus menjadi mentor Dhaneeta dalam menemukan makna kebahagiaan. Dan indikasi keberhasilan itu semakin dekat ketika, satu saat aku mengetengahkan sebuah percakapan, “De seandainya Kita memiliki ribuan keping uang emas, kemudian Kita pergi menggembol kepingan-kepingannya ke dalam hutan, sementara Kita tidak membawa makanan. Lantas, apa Kita bakal memakannya seandainya Kita lapar?.”

“Mana mungkin? Kita tak mungkin memakannya!”

Kemudian aku bertanya pada Dhaneeta, “Lalu kebahagiaan itu apa? Jangan-jangan kebahagiaan itu, punya banyak makanan. Ternyata tidak juga kan? Banyak orang yang memiliki makanan, tapi hidupnya resah, gelisah. Jiwanya seperti berada di balik jeruji. Hidupnya seperti terpenjara. Sebenarnya, aku sendiri bingung untuk mendefinisikan kebahagiaan itu apa. Tapi, aku pernah membaca lirik-liriknya penyair Persia bernama Sa’adi. Dia berkata: Aku menangis karena aku tak memiliki sepatu dan aku berhenti menangis saat aku melihat orang yang tak memiliki kaki.”

“Kebahagiaan itu ada manakala kita menggunakan kaus kaki dan memiliki sepatu atau manakala kita memiliki kaki!” ia menjawabnya tetapi kemudian, langsung membatahnya, “Rasanya tidak. Banyak orang yang punya kaki tapi tidak bahagia. Ia kemudian tertawa.

“Apa yang De tertawakan?”

“Dulu, aku sering sekali naik mobil pribadi meski mobil pribadi itu milik Bapakku. Sekarang waktu Mas Dhani mengajakku mengembara, Kita tidak memiliki kendaraan pribadi. Motor tidak, sepeda tidak, bahkan kuda pun tidak,” humornya. Ia kemudian melanjutkan.

“Sekarang seringnya jalan kaki dari kontrakan menuju toko buku tempat Mas kerja. Dan satu waktu Aku pernah merasa capai, tak kuat untuk jalan jauh lagi. Akhirnya, waktu toko tutup, kita menyetop angkot. Dan di dalam kendaraan yang mirip box itu aku merasa gembira. Ah, nggak jalan kaki itu enak juga rupanya.” Ia tertawa, setelah tawanya sirna, di dalam angkutan kota itu Dhaneeta menyimpulkan kebahagiaan dalam versinya. Setelahnya, angkutan kota menjadi sunyi dan aku bahagia karena merasa berhasil membimbingnya.

***

Tapi, kebahagiaan di dalam hatiku perlahan pudar. Usaha toko bukuku gagal. Kesalahan analisis minat baca di kota ini membuat usahaku terpuruk. Kota tempat Kami tinggal memang bukan kota dengan budaya wacana filsafat yang kental seperti Yogyakarta. Kota tempat kami tinggal lebih kental dengan budaya baca yang terkait dengan wacana pop. Itulah sebabnya, setelah dirata-rata selama tujuh bulan, penghasilan kotor tokoku hanya berada dalam kisaran ratusan ribu per bulan. Itupun belum dikurangi uang yang harus kusetorkan pada penerbit setiap bulannya. Penghasilan seminim itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kami, sementara penghasilan Dhaneeta sebagai guru tidak tetap (GTT) tidak begitu bisa diharapkan.

Ada keinginan untuk mengganti dan sedikit kompromi dengan segment toko bukuku ini, tapi rasanya aku kesulitan. Penerbit buku-buku popular hampir semuanya tidak berkenan melakukan kerjasama dengan sistem konsinyasi. Sistem beli putus dan kredit membuatku kehilangan nyali. Oke sebaiknya aku hentikan saja usaha ini, banting setir! Tapi kearah mana setir ini akan kubanting? Aku kebingungan.

Uh aku stress dengan permasalahan ini. Semakin jauh dari pernikahan kami kebahagiaan seolah-olah menjadi pudar. Mengapa? O’ Aku tak ingin membuat Dhaneeta menyesal telah memilihku. Aku tak ingin memergokinya termangu. Tapi apa yang bisa kulakukan? Kegelisahan membuatku hilang kebahagiaan, Lalu kemana konsep kebahagiaan yang berusaha kuajarkan berbuih-buih padanya?”

***

Langit masih biru, sementara hatiku disepuhi kelabu. Kami kembali berjalan, melangkah, menapaki trotoar jalanan, melewati jajar pepohonan di pinggir jalan. Tukang tahu petis, buah seribu tiga, pedagang rokok asongan. Uh, berjayalah kalian yang telah berusaha. Berjayalah kalian yang tak mengenal kata malu, menundukkan ego dalam menyambung hidup! Melihat mereka kekagumanku muncul meski bisa jadi mereka melakukannya hanya karena tidak mempunyai pilihan. Satu saat, waktu bisa membuatku seperti mereka. Dan aku nampaknya harus menyiapkan diri.

Kami meniti tangga, memegangi stainless steel, memasuki sebuah bangunan yang menyediakan mimpi. Swalayan yang selalu membuat gelisah jika berada di dalamnya. Bangunan yang selalu membuatku berfikir, berhitung, berapa sisa uang tabungan kami.

Kami diantarkan escalator menuju lantai kedua. Aku masuk dan meringkuk di dalam diriku. Dalam pada itu, Dhaneeta tak mengatakan apa-apa. perkataanku tadi nampaknya masih berbekas di hatinya. Beberapa saat kemudian, bunyi yang khas, tiba-tiba mengejutkannya. Telepon selularku berbunyi. Kutekan tombol pembicaraan. Di seberang sana seorang wanita menanyakan Dhaneeta. Kutanya dari siapa? Dia menjelaskannya dan aku terkejut. Manakala handphone kuberikan padanya aku mulai berdoa. Wajah Dhaneeta kelihatan tegang. Aku terus berdoa. Semakin doaku panjang semakin wajahnya berubah: menjadi merah, menjadi semakin ekspresif. Matanya membesar, dan mulai berkaca-kaca. Hampir-hampir kaca-kacanya pecah. Aku mendengar Ia mengatakan: oh iya, kalau boleh tahu yang keberapa Mbak? tanggal berapa penyerahannya? nanti nomernya akan kami kirimkan. Telepon ditutup. Dhani memandang diriku. Nampaknya ia diselimuti kebahagiaan yang akan ia tularkan.

“A’ kita diundang ke Jogja!”

“Untuk apa?”

“Novelku menang. Juara dua!” Ia kemudian memelukku. Aku pun memeluknya di tengah keramaian, mengangkat tubuh mungilnya, memutarkannya beberapa kali. Orang-orang melihat kami keheranan. Mereka tahu kalau kami bahagia. Kami langsung keluar dari swalayan, menuju ATM terdekat. Wah betapa bahagianya. untuk sementara kami bisa berbelanja barang kebutuhan yang diinginkan.

Langit masih membiru, balon gas yang mengiklankan rokok merek terbaru masih menggantung di atas sana. Aku melihatnya dan Dhaneeta balas melihatku, “A?”

“Ya?”

“Allah memang maha Aneh ya?” Ia melihat angkasa.

Aku tersenyum, “Mungkin ia mengintip di batas atmosfer sana.” Aku menunjuk angkasa, berteriak pada-Nya “Hei, sebaiknya asmaul husna Kau tambah jadi seratus saja!” beberapa detik aku terdiam, kemudian takzim kuucapkan, “Terima kasih ya Tuhan!” Dhani mengangguk menyetujui apa yang kuungkapkan. Ia kemudian merangkul tanganku. Kami keluar dari swalayan, dan akan kembali berbelanja beberapa menit kemudian.

Ah aku mendapat pelajaran berharga. Nampaknya kali ini akulah yang tidak benar-benar memahami arti kebahagiaan. Nampaknya, sore ini ego masa laluku sebagai seorang lelaki yang ingin membimbing untuk menyelami makna kebahagiaan, ingin menjadi tonggak selamanya, ingin meluruskan seolah-olah Dhaneeta adalah tulang bengkok yang harus diluruskan nampaknya sirna.. Berharganya O Dia. Betapa berharganya O Dhaneeta.

Kami memang ditakdirkan untuk menjalani hidup bersama, bergandengan tangan. Aku, sang lelaki hadir bukan untuk membimbingnya. Aku sang lelaki harus sama-sama belajar untuk saling mengisi, saling membimbing ketika salah seorang di antara kami bimbang. Secara formal laki-lakilah yang memimpin kehidupan keluarga, namun saat berjalan maka tidak ada yang memimpin dan wanita yang dipimpin, jika kepemimpinan itu dilakukan untuk memperbudak salah satu pihak. Yang ada hanya manusia yang sama! Manusia yang terus menerus belajar untuk menyempurnakan dirinya, menggapai impian-impian yang ternyata ada di dalam hati dan dadanya. Menggapai kedamaian jiwa

Sore hari ini kebahagiaan kembali datang saat aku mengingat kesungguhan ucapan yang diperdengarkannya di dalam sebuah angkutan kota,

“Aku tau kebahagiaan itu apa!.”

“Ya apa?”

“Kebahagiaan itu bukan sesuatu yang dapat didefinisikan. Kebahagiaan itu ada di kedalaman hati!?”

Aku tunjuk dadanya. “Berdomisili di sana?”

Dan dengan mantap Dhaneeta mengatakan, “Ya!”

Rabu, 20 Juli 2011

Haram

Bab iii haram…Nyala biru Jamku.
Syartir dengan motor bututnya berjalan menuju diskotik May. Sebenarnya itu motor tidak pantas dikatain berjalan karena tidak punya kaki apalagi koreng kaki, adanya ya obat nyamuk, eh maksudnya roda tiga dikurangi satu. Namun karena motor tersebut melajunya sangat lambat maka pantatlah dikatakan motor itu berjalan, bukan berenang.
Sesampai di depan diskotik terlihat banyak sekali orang berkumpul dengan wajah syadu. Para gerombolan tersebut melihat ke arah datangnya cahaya redup motor Syatir. Kenapa redup, karena lampu motor Syatir mirip dengan lilin, laju motornya pun seperti berjalan. Karena orang-orang itu sudah mengetahui kalau itu Syatir maka berlarilah mereka ke arah motor Syatir. Sungguh membuat jengkel, larilah para kerumunan untuk menyeret Syatir dari motor bututnya. Melihat seperti itu detak jantung Syatir pun semakin kejang-kejang dan tiba-tiba motor itu mendengung di bagian mesinnya, lalu kenalpotnya mulai menyala otomatis mengeluarkan gas biru yang mendorong motor tersebut melaju dari 20km/jam menjadi 80km/jam.
“minggir baja hitam saya ngamuk” teriak Syatir.
Syatir pun sebenarnya juga heran, kenapa setiap detak jantungnya sangat kencang maka jam tangan yang diberikan kakeknya waktu kecil itupun bisa menyala merah, lalu motor yang dikendarainya seperti ada dorongan NOS dari kenalpot lalu melaju dengan kencang.
***
Sesampai di depan kamar May, Syatir merasakan kesunyian yang menguap memenuhi ruangan May. Hening dan hanya hisakan tanggis yang ada dalam ruangan. Syatir tertegun melihat May masih tersimpuh dalam posisi yang sama seperti yang ia lihat terahir kala itu. Hanya saja sekarang May terlihat begitu anggun dengan jubah panjang yang menjuntai sepanjang tubuhnya. Entah siapa yang memasannya, namun pemandangan itu membuat Syatir tidak lagi risau untuk melepaskan pandangan sewajarnya.
May melihat Syatir yang baru datang. Iya tetap melinangkan buliran-buliran air yang membasahi pipi hingga membentur lantai.
“Syatir, aku ingin kembali. Kembali seperti anak yang baru saja hadir menghirup udara di dunia ini”
“aku ingin bersih, sebersih cawan yang belum pernah ditumpahi anggur dan wine”
“May, masih ada detik untuk bersih, untuk berlari dari kegelapan menuju putihnya cahaya pertaubatan”, jawab Syatir pelan.
Dari para wanita yang disekitarnya mencoba melontarkan kata-kata untuk Syatir, “Syatir, jantung dia kambuh, segera bawa dia ke rumah sakit”
Hati Syatir berkehendak untuk membujuk May pergi ke rumah sakit namun May segera menyahut;
“Syatir berjanjilah padaku, biarkan aku bersimpuh di sini, aku merasa sebentar lagi akan dijemput utusan-Nya. Aku tidak ingin mati di jalan dengan kondisi yang tergesah-gesah, aku juga tidak mau menghadap kepada-Nya dengan keadaan tidak sadar di kerumunan para dokter dengan biusan mereka, aku ingin menghadap kepada-Nya di tempat aku mulai membangun tumpukan dosa, dan tempat dimana aku mengakhiri bagunan ini dengan mengharap Ridho-Nya”
Syatirpun luluh dan buliran-buliran jernih mulai menerjang mata, melembabkan pipi dan berguguran ke lantai. Syatir pun tidak banyak berkata, ia paham bahwa lebih baik May mengahiri hidupnya dengan kepasrahan kepada Alloh dari pada harus bertindak gegabah dengan membawanya ke ruang ICU yang justru akan membuatnya gelisa.
“Laillah ha ilallah” terucap dari kedua bibir Syatir dengan lirih
“laillah ha ilallah” May pun melantunkan dengan perasaan yang sejuk mengalir di dadanya.
“Syatir, aku ingin diskotik ini kamu jadikan titik tolak penghapus dosaku, jadikan diskotik ini tempat kolektif kampusmu dan ajak anak-anak jalanan untuk menempah diri mereka menjadi ksatria islam yang tangguh”.
“Insya Allah May, akan aku jalankan amanah mulia ini”
Ruangan tetap dislimuti isakkan para wanita diskotik, sorotan mata dan getaran gendang telinga hanya mengarah pada pemimpin mereka yang bersiap menghadap Allah SWT.
“Ya Rabb, ku pasrahkan jiwaku untuk menghadapmu, bersihkan jiwaku untuk menghadap kepada-Mu ya Rabb, dan terimalah pertaubatanku karena sesungguhnya Engkau Maha Penyayang dan Pengampun”
“….la illah ha…ilallah…”
“Inna lillahi wa inna….ilaihi raji’un…” untaian kalamullah itu terucap dari kata Syatir. Dan entah mengapa sudah tiga kali jam tangan Syatir yang diwarisi dari kakeknya itu menyala biru.
Semua pelayan menghampiri May dan memeluknya.
***
Satu bulan telah berlalu…
Syatir mulai melebarkan kolektifnya tidak hanya di kampus saja. Melainkan juga mengajak anak jalanan dan orang sekitar gang dolly. Tempat yang kini ia singgahi merupakan tempat yang cukup terkenal dan berpengaruh di daerah dukuh kupang tersebut. Kini tempat yang dulu digunakan untuk menjual manusia oleh May telah menjadi tempat yang full kegiatan agama dan kreatifitas untuk berkarya. Kegiatannya sangat padat melebihi padatnya aktivitas yang ada di islamic center. Tempat itu cukup untuk menampung sebanyak 100 orang lebih. Di dalamnya terdapat kolam renang yang bisa digunakan untuk mandi anak jalanan.
“woiii enak euuuuyyy mandi, sini-sini om syatir ikut mandi” teriak salah satu anak jalanan yang sedang mandi di kolam renang.
“gak mau ah, saya udah mandi Cup, tu anak-anak Putat ajak mandi sekalian renang sana”. Syatir membalasnya.
Suasana masih ramai karena anak Putat juga ikut masuk kolam renang. Maklum yang namanya anak punk tidak pernah mandi, semakin kumal semakin nge-punk.
“wah seger Ming airnya, gak sengaja tadi sampek airnya ketelan lewat mulut ama hidung”
“ah maklum baru belajar, tadi aku juga sempet minum sedikit sih” jawab si Parto.
“iya lumayan seger juga, agak asin sih tadi, tapi enak juga ternyata berenang itu” sahut si Toni.
“ah seger ya?? Ah kabur ah”. Tiba-tiba Cupret keluar dari kolam renang dan lari.
“eh Pret, ngapain lu kabur?” tanya si Parto
“tadi aku kencing ma be-ol di situ, sorrryyy” jawab Cupret sambil lari begitu saja dari kolam renang”
“yieeekkkk gue minum tai ama air seni”
“hoeeekk, Janc*k, c*k..”
“hoii kamfret sini loh makan neh tai-ku juga, hoek..cuh..juh..juh…”
Menyaksikan itu Syatir menarik simpul senyumnya lalu melangkah menuju ruang pengurasan kolam renang.
Bersambung…

Haram

Bab ii haram…brutal enemy
Bulan masih bermain petak umpet dengan awan, silih berganti saling menutupi. Debu jalanan yang mengendarai angin pun menyeka wajah muda mereka. Dzikir semesta menggema dalam kalbu yang rindu akan dekapanNya. Masih meresapi sejuknya perjalanan pulang dengan deru motor-motor mereka, tiba-tiba Syatir mengisyaratkan untuk berhenti. Berhenti tepat ditengah padang rerumputan sebelah danau UNESA lidah.
“ada apa mas kok tiba-tiba pengen berhenti di sini? Nanti aja mas pipisnya. Dirumah saja!” seru Adi kepada kakaknya Syatir.
“tenang, bukan pipis ini. Mempersiapkan untuk pertempuran besok. Kalian terus saja ke rumah. Nanti aku tak pulang jalan kaki saja. Lebih baik sejak sekarang saja persiapannya untuk besok, bukankah kejahatan yang dimanajemen bisa ngalahin kebaikan yang berserakan?”. Sahut Syatir dengan mantab.
“kita sama sama aja mas. Bareng-bareng kan lebih cepat selesainya, ya kan?”
“Jangan, sudah ku bilang jangan ikut. Toh ini juga urusan pribadiku sendiri. Insya Allah tidak masalah kalau kalian tinggal. Percayalah padaku, sekarang segera saja kalian pulang ke Asrama. Aku tidak lama kok”. Penjelasan Syatir untuk memantabkan Adi dan rekan-rekannya.
Perlahan Adi dan teman-teman lainnya berpamitan dan menjauh dari posisi Syatir berada. Dalam hati Syatir berujar “terima kasih kawan, kalian pasti tak tega dengan apa yang aku cari sekarang dan yang akan aku lakukan besok. Cukup aku yang berbuat demikian. Suatu saat giliran kalian dengan menggunakan cara yang lebih canggih dari cara sederhanaku ini”
Adanya secercah pijaran lampu handphone membantunya menelusuri gelapnya semak belukar. Kalbunya bertasbih seiring detakan jantungnya. Berharap ia segera menemukan benda-benda yang ia cari. Ya adanya hanya di semak belukar dan di pinggiran danau saja. Bukan di Supermarket, tokoh pojok, warung tegal, bahkan di pedangan kaki lima pun tak ada. Ya ini adalah misi rahasianya. Tak boleh ada seorang dari Kolektifnya yang tau apa rencananya. Karena mereka pasti tak tega dan membiarkan apa yang akan dilakukan Syatir. Dengan merancang rencananya malam itu, dapat memperkecil kemungkinan untuk diketahui secara detail apa yang akan dia lakukan.
***
“Adi, dek tolong bukain pintu!”. Suara Syatir membangunkan adeknya setelah menyelesaikan persiapannya hingga larut malam, 03.00 am.
“iya mas, bentar” sambil berjalan adi menyahut seruan kakaknya.
“habis sholat ya. Ya sudah lanjutkan munajat kamu, aku mau ke kamar mandi bentar. Badan ku gatal gatal habis dari sana tadi”
“loh mas, mana jaket kamu? Gak ketinggalan kan?
“enggak, tak simpen kok tenang aja” Jawab Syatir sambil mengambil handuk dan membuka pintu kamar mandinya.
Keesokan harinya…
“Inilah saatnya aku menghadapi mereka, semilyar cara sudah aku kerahkan untuk menekuk lutut mereka dihadapan ku karena kelembutan Nya, ya semilyar cara, karena aku bukan berhadapan dengan suasana Mall yang bertebaran permata-permata yang dibalut sederhana, tapi aku berhadapan dengan permata yang tanpa balutan busana” dia berujar kepada Adi sambil menuju samping rumah untuk mengambil kuda besinya.
“aku percaya kemampuanmu mas, aku tetap akan mendoakanmu. Apa perlu aku mengikutimu hingga di depan diskotik itu”
“Jangan Di, kamu tetap berjaga saja di 4 perempatan dari diskotik itu. Nanti kalau aku telepon, langsung saja ke diskotik, mungkin aku dalam bahaya. Walaupun dalam bahaya tolong kalian tidak bertindak anarkis! Paham maksudku?”
“ya paham Mas, setelah ini aku kumpulkan teman-teman untuk mengikuti saranmu”
“baik, aku brangkat dulu, ini sudah pukul 11.15. wassalam”
“alaikum salam. Allah bersamamu mas”
Langit masih menyajikan kerlap kerlip bintang yang berpijar. Embun malam menyejukkan kulit Syatir yang tak mengenakan jaket. Syatir meluncur menuju rumah temannya untuk mengambil jaket yang sengaja ia titipkan disana. Masih dengan hati berdzikir dan semilyar tawakal ia melanjutkan untuk meluncur menuju diskotik.
***
“ Syatir sudah datang, pemuda itu mau masuk diskotik, segera panggil May untuk berada di ruang yang sudah kita siapkan special untuk Syatir”
“ya, ya segera beritahu May”
Sahut menyahut antara bodyguard diskotik yang berada di depan untuk mengabarkan kedatangan Syatir. Syatir melangkah pelan, mengenakan jaket hitam, kaca mata hitam dan tas ransel biru.
“Saudara Syatir, langsung ikuti aku! Pengawal, pegang dia!” seru salah seorang yang berkaca mata hitam.
Syatir mulai melangkah memasuki pintu. Kini musik hip hop berdengung di telinganya bersaingan dengan teriakan takbir dan dzikir di hatinya. Tawa canda para wanita terdengar mengiringi lirik musik diskotik, aroma wine dan rokok menyisip dalam indra pembau Syatir. Sejenak Syatir sudah berada didepan pintu kamar May.
“Silahkan masuk, May sudah menunggumu di dalam. Bersenang-senanglah pemuda, dia wanita nomer satu di Surabaya. Jangan sia siakan. Mumpung ada potongan 100% buat mu untuk menikmatinya, kapan lagi coba?” seorang penjaga pintu berbisik kepada Syatir.
Dari aroma rokok dan wine berganti dengan parfum yang begitu lembut untuk membuat nyaman manusia. Lampu ruangan pun tak lagi segelap suasana diskotik. Kini di depan Syatir berdiri seorang perempuan dengan mengenakan kerudung modern dan pakaian seksi. Syatir seolah olah menatap sang perempuan namun sesungguhnya ia memejamkan matanya yang ada di balik kaca mata hitamnya. Sementara itu May bertutur pada Syatir.
“Selamat datang pemuda tampan. Berani juga kau menerima tawaranku. Bagaimana suasana tempatku? Sudah mulai beradaptasikah dengan nuansa seperti ini sekarang? Ternyata kau gagah dan tampan juga bila ku lihat dari dekat. Aku jadi berubah pikiran, aku ingin kau melupakan tawaranku. Sekarang aku milikmu Syatir, aku pasrahkan tubuh ini untukmu. Sudalah temanmu tak ada yang tau, aku pun juga berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini ke orang lain. Aku berhak kau miliki kapan saja kau mau. Bagaimana? Ayo ini adalah cara lembut ku Syatir. Buka kacamatamu sayang, buka sekarang juga. Lihatlah bidadari yang ada didepanmu ini.”
“baik akan ku buka kacamataku” kata Syatir sambil melepaskan kacamatanya dan melemparnya kelantai
Sementara itu May tidak ingin menyianyiakan kesempatan ketika mata Syatir terbuka. Ia mulai membuka kerudung dan membuka kancing bajunya. Saat itu juga Syatir langsung bereaksi dengan santai
“Baiklah May, ku ijin kan kau membuka baju dihadapanku dan ijinkan aku membuka kado yang ku bawakan untukmu” Syatir membuka tas dan mengeluarkan tas kresek berwarna hitam, sementara May yang sudah membuka dua kancing bajunya berhenti sejenak.
“Silahkan teruskan untuk membuka bajumu, ku bawakan kau seekor bangkai tikus yang sudah dihuni ratusan belatung di dalamnya” ujar Syatir sambil membuka bungkusan kreseknya.sontak May laksana pohon yang tersengat halilintar.
“bajingan! Bau Anj**ng! bau! Buang bangkai itu, Buang!. Teriak May.
Ruangan yang tadinya laksana taman bunga yang penuh kabut dan sinar mentari dengan aroma tulip yang semerbak tiba-tiba serasa tempat pembuangan sampah bahkan layaknya tempat penyedot wc saja. May pun tak jadi melucuti balutan kain di tubuhnya.
Tanpa diduga seorang pengawal menyahut bangkai tikus itu dari tangan Syatir dan langsung membungkusnya dengan kresek lain, lalu pengawal yang lain pun mengambil parfum ruangan lalu menyemprotkan pada ruangan dan membuka pintu kamar agar mendapatkan udara penganti.
“hah, satu langkah kau mulai curang May, kamu menggunakan pengawalmu untuk merebut paksa senjataku” jawab Syatir singkat.
“Sekarang mau apa lagi? Masih adakah bangkai tikus di tasmu? Pengawal ambil tas Syatir!” lalu pengawal pun melangkah menuju Syatir, namun Syatir menyerahkan tasnya terlebih dahulu sebelum pengawal mengambil langsung dari pundaknya.
“dua kali kamu menggunakan bodyguard mu untuk menaklukkanku”
“baik, akan aku suruh keluar para pengawal pria ku, dan aku ganti dengan pendampingku yang perempuan”
“terserah apa maumu” jawab Syatir dengan santai.
Lalu para pengawal pria pun keluar dan masuklah para gadis-gadis muda masuk ke kamar May. 20 gadis tersebut menggunakan pakaian yang sangat minim. Lalu Syatir pun benar-benar menundukkan pandangan.
“Syatir kamu berjanji untuk ceramah pada kami, dan kamu pun berjanji untuk tidak menggunakan kekerasan pada kami. Wajar kalau kami melanggar janji yang sudah kita sepakati. Ya karena kami sudah biasa berbuat dusta. Tapi kamu kan orang alim, jadi tak pantas kamu untuk melanggar janjimu itu. Baiklah sekarang aku akan gunakan cara kasar tapi lembut. Kalau kamu tak mau menikmati tubuhku aku akan menikmati tubuhmu sayang. Adek-adek cantikku, pegangi dia dengan penuh kelembutan. Aku akan datang kepadamu Syatir. Ingat kamu harus menepati janjimu untuk tidak menggunakan kekerasan pada kami”. Rayuan May terus digulirkan ke telinga Syatir yang sedang menunduk.
“Tak semuda yang kalian kira untuk menyentuhku, Arrrrggggghhhhh”. teriak Syatir, lalu…
Tar..
Plak..
Ctak..
Plak..
Syatir memukuli tubuhnya sendiri dengan rata, mulai dari kedua tangannya, badannya, kedua kakinya dan punggungnya. Lalu keluarlah caritan kuning putih dari jaket dan celananya hingga membasahi tubuhnya. Sontak para gadis yang ada disitu berteriak
“Bangs*t kau Syatir, bau busuk, dasar sint**g!”
“Biad*p kau pemuda busuk” umpatan para gadis dan May pun bersahutan.
Bau itu berasal dari telur busuk yang ia cari dekat danau, ia masukkan kedalam jaketnya dan saku celananya, lalu ia pukul untuk membasahi tubuhnya dengan cairan busuk. Ya lumayan jitu dan sederhana untuk sebuah perlindungan.
“Ayo maju! Kalian takut dengan telur busuk dalam diriku. Baik aku tambahi satu lagi”. Syatir lalu mengeluarkan plastic putih dan..
Pyar…
Cairan hijau itu mengalir dari rambutnya lalu menyapu wajah, leher dan dada Syatir.
“Yang kedua tadi adalah kotoran manusia yang sudah aku lembutkan”.
Bau busuk telur dan juga busuknya kotoran manusia mulai memenuhi ruangan. Semua gadis termasuk May menutup hidung mereka. Kemudian Syatir langsung melontarkan kata-katanya..
“May, bukankah kau menggebu-ngebu untuk menyetubuhiku. Kenapa tidak mendatangiku sekarang?”
“May, apa kamu hanya mau dengan yang bersih saja, namun yang busuk kau tinggalkan?”
“Apakah aku harus berwudlu untuk membasuh tanganku saat ini? Atau harus mandi junub sekalian untuk mensucikan tubuhku? Bukankah kesucian dan kebersihan tubuhku yang kau inginkan?”
“hah, ternyata standart mu begitu rendah. Orang paling cantik sesurabaya ternyata hanya menginginkan sesuatu yang dangkal saja”
“Taukah kamu, masyarakat telah menganggapmu sebagai Tai bahkan sampah yang sangat busuk, tapi aku tak menganggap kalian sedemikian kejihnya hingga aku mau mendekati kalian. Tapi ironisnya, ketika kalian mendapati aku yang busuk ternyata kalian lari, seolah-olah akulah kebusukan yang sesungguhnya”
“Kita sama-sama diciptakan dari sesuatu yang hina, sesuatu yang tak ada nilainya. Ya setetes sperma, dan dari sana aku tidak ingin kalian menjadi penentang yang nyata. Aku tidak ingin kalian buta padahal kalian melihat, aku juga tak mau kalian bisu padahal kalian berbicara, tak ingin kalian tuli padahal kalian mendengar, tak ingin kalian “mati” padahal kalian memiliki hati”.
“aku tak ingin kalian ketika melihat wanita dihargai dengan murah, hanya dengan materi tapi ternyata kalian membutakan diri, ku tak ingin ketika kalian melihat seorang yang menjaga diri dengan agamanya tetapi kalian malah memejamkan mata untuk tidak meneladani. Ku juga tak ingin kalian mendengar ayat-ayat Allah namun tetap saja merasa tuli. Menghirup ruangan yang wangi lalu mewarnainya dengan perbuatan zina seolah olah berada dalam taman bunga, padahal dalam pandangan Allah pada hal itu bagaikan busuknya kotoran manusia yang saat ini. Bahkan ada yang mengetahui hikmah seperti ini ternyata masih saja hati itu mati dan tak berdetak lagi, ya aku tak ingin bila kalian seperti ini.”
“belum terlambat, kalian masih bisa membasuh diri kalian dengan sebersih bersihnya. Layaknya aku yang juga akan membasuh kotoran ini hingga tak tercium lagi baunya. Selagi kalian masih bernafas, kesempatan kalian untuk mengambil air masih terbuka, begitu pula denganku kesempatan itu masih ada. Pilihan ada ditanganku untuk membasuh bau telur busuk dan kotoran manusia yang ada dikepalahku ini atau membiarkannya bau. Itu terserah padaku. Bukankah itu sama juga dengan kalian untuk memilih? Menjadi tetap bersih atau berbalut noda. Ya Allah saksikanlah aku sudah mengingatkan hamba-hambaMu”.
Hingar bingar bunyi musik dalam diskotik tetap berdengung, walaupun begitu suasana kamar tersebut seolah-olah sunyi senyap. Bau menyengat telur busuk dan kotoran manusia juga masih menyelimuti ruangan, tapi nuansa ruangan seolah-olah wangi kasturi yang semerbak mewangi hingga para perempuan di sana tak lagi menutup hidung mereka. Mereka menangis hingga tak dapat berbicara sepatah kata pun dan seolah tempat itu bukan diskotik lagi, melainkan taman bunga yang penuh kupu kupu indah disekitarnya.
“saya pamit dulu, waslm”. Syatir melangkah menuju pintu masuk ruang diskotik.
“tunggu, keluar saja melalui pintu ini, kau bisa leluasa keluat melalui pintu itu” suara serak May yang bertekuk lutut dengan linangan air mata.
Syatirpun melangkah meninggalkan diskotik dan mengambil sepedahnya kembali. Setelah Syatir menaiki kuda besinya tiba-tiba lampu diskotik mati, ya malampun menjadi sunyi. Ternyata May telah berani mengambil keputusan untuk mengahiri cerita kelamnya. Ya begitulah Syatir, dia mendapatkan cara untuk tidak dipenaruhi oleh rayuan May, namun berbanding terbalik untuk mempengaruhi dan mengontrol mereka. Ya mengontrol mereka dengan teknik Brutal Enemy, yakni menghancurkan musuh dengan mengorbankan atau menghancurkan diri sendiri. Syatir berfikir bila dia tidak boleh anarkis pada orang maka mengapa dalam kondisi tertentu dia tidak menjadikan dirinya sebagai korban untuk menaklukkan lawan? ya, sekali lagi Syatir menggunakan dirinya sendiri untuk dijadikan ‘tumbal’ agar lawanya sadar. Laiknya game terkenal dalam menaklukkan lawannya, teknik Brutal Enemy. Malam pun berlalu dengan dipenuhi bintang bintang yang bertasbih memuji Rabb semesta Alam.
***
Malam berikutnya Syatir yang sedang berdzikir ba’da sholat isya menerima telephon dari seorang wanita
“Syatir, cepat kesini, gawat Syatir”
“tenang, ini siapa tolong beritahu aku ada apa memangnya?”
“saya Suri teman baiknya May, tolong May Syatir. Dia tidak ada hentinya menangis di tempat terahir kali kamu beri hikmah kepada kami semua” jawab Suri dengan suara serak-serak.
“iya, saya segera kesana..”
Syatir mulai kawatir dengan apa yang terjadi pada keadaan May bila itu berlanjut. Dan apa yang harus dilakukannya untuk memecahkan masalah tersebut.
Bersambung…

Haram.

Bab i haram… Taman Kebangkitan
Jalan raya Dukuh Kupang masih tetap dihinggapi kuda-kuda besi yang memancarkan cahaya putih dari sorotan mata depannya. Agil duduk menatap lekat laju warna kuda yang meluncur seolah mampu mengais memorinya 5 tahun silam. Tempat hiburan Hot yang santer di Surabaya itulah yang kini ia singgahi bersama dengan istrinya tiap malam minggu. Seolah mereka berdua tersengat listrik yang mampu menyalahkan letupan semangat dalam diri mereka berdua.
“Dek, kalau anak kita lahir nanti, kita akan ceritakan kalau tempat hiburan ini adalah tempat kebangkitan pemuda Kota Surabaya, gimana?” kata Agil dengan bangga kepada istrinya.
“He’em, iya mas, toh gak jauh beda kok sama nama aslinya dulu. Dulu Gang Dolly sekarang Gang HolyQ (quran), haha menarik kan Mas?” istrinya melempar jawaban sambil menyandarkan kepalanya dibahu Agil.
“Tumben kamu cerdas, gara-gara nikah ma aku ya sekarang jadi cerdas?”goda Agil spontan (uhuiii).
“Yeee ini mesti kePDan, dari dulu ku udah cerdas ya!! Buktinya semua lomba udah berhasil tak taklukin. Mulai lomba makan ujung pulpen, eh makan krupuk yang di ikat di ujung pulpen maksudnya, (hihi, dasar istri Agil agak gil gil gil, ah gak jdi deh), lomba musik daster (dulu kan jamannya musik rock, sekarang ganti aliran), lomba makan pizza (dikibulin penjual pizza mau ja, padahal akhirnya disuruh bayar), dan masih banyak yang lain deh mas” serunya dengan degup kagum akan critanya.
“Hah, Pengalaman kok kayak tutup panci jeleknya. Ah jadi gak kenal ah ma kamu. Kabur ah, kabuuuurrr.” Goda Agil sambil melompat dari tempat duduk dan lari menjauh dari Sherly, istrinya.
“Hayooo, mau kemana Maass. Tak lempar klompennya mbahku loh!! Ayo kembali kepelukan ketiak ku, sini sayaang.” Sherly mengayunkan kakinya ingin meraih si Agil dalam ketiaknya. (duh penulis aja kudu muntah nulisin crita ini).
Malam masih menayangkan ribuan cahaya yang bertaburan di atas awan, rembulan pun masih setia menyantunkan cahaya untuk semua produk-Nya. Orkestra insekta bumi dan langit masih nyaring dengan dengungan yang wanginya menyerbak telinga. Begitulah keseharian alam dalam menampakkan kreativitas Allah Azza Wa Jalla. Namun kondisi Gang HolyQ ini berbeda jauh dengan Gang Dolly yang dulu dalam agenda hariannya. Kini para pengunjung Gang Dolly adalah muda-mudi yang sudah menikah. Ya sebagaimana Sherly dan Gila (eh, maaf maksudnya Agil) yang menghabiskan sejenak waktu mereka untuk singgah di Gang ini mendengarkan kajian keluarga sakinah. Anak-anak pun diajak orang tua mereka untuk mendengarkan kisah-kisah orang terhebat dalam masa keemasan dunia. Seperti kisah Muhammad Al-Fatih ketika menundukkan Konstantinopel, kota adi daya kala itu. Mereka merekam bagaimana seorang Al-Fatih tak pernah meninggakan sholat rawatib dan tahajud dalam hidupnya, menggerakkan pasukan-pasukan muslimin sehingga mampu melesatkan puluhan kapal dari lautan menerobos bukit yang menjulang hanya dalam satu malam, dan penaklukan itupun begitu elok dihirup telinga. Itulah selayang pandang aktifitas Gang HolyQ saat ini, Mei 2015.
***
“Dek, sini deh. Nih liat tuh masih ada kan?” Agil menculik perhatian Sherly (asal jangan menculik Miyabi) dengan telunjuknya yang mengarah kebawah.
“Apa sih Mas? Kakinya Mas yang korengan dan kemarin kenak jepret nya tikus itu toh? Jangan bilang keluar darah lagi ya? Gak mau lagi aku ngrawat! Gak mau!” kata Sherly yang nampak jengah dengan kondisi suaminya.
‘Cetuik’ dijitaklah Sherly dengan lembut (biasanya kan ‘Cetuak’),“Hiiiihh, bukan. Makanya tah jangan negative thinking terus sama Mas, yang ikhlas dunk kalau ngrawat. Tuh liat deh ternyata masih belum ilang tulisan yang ngatain Syatir Gila (mungkin maksudnya Ganteng, Imut, Lan Asoy). ‘Mendem gadung, hidung kayak cebok kamar mandi, telinga kayak betadine, mata kayak gantungan kunci.’ Liat gak, bener kan masih ada? Harus segera dilaporin neh ke tukang pembersih” selidik Agil kala menelusuri tulisan di bawah meja yang samar-samar di sebelah kakinya.
“Iyaaaa, tadi kan bercanda Mas. Jangan dijitik lagi ya! (kalau keras jitak bukan jitik-red). Mungkin bukan salah tukang pembersihnya Mas, lah ini tempat tulisannya ada di cepitan kursi gini. Yup sepakat, laporin aja deh sekarang. Oke tak emailkan ja ke tukang pembersihnya. Eh, gimana kalo langsung ke Fb nya aja ya.” celetuk Sherly berapi-api memijat keybord netbooknya dengan ujung-ujung jarinya.
“Ah ku jadi semakin bangga dengan Syatir. Dia selalu berpesan padaku ‘Allah itu Maha Kreatif, maka jadikan Allah itu inspirasi kalian buat bikin dakwah ini sekreatif mungkin, jadikan dakwah ini menyenangkan, menantang, dan terus hidup kawan!’, kadang kata-kata itu ditentang, tapi dia selalu bisa membuktikan kalau dia bisa bertahan, bahkan kemenangan pun berpijar” mata Agil berlinang-linang mengingat kenangan yang tampil memesona di pelupuk matanya.
“Aku sih taunya cuma secuil aja kisah tentang dia. Gak sampek mendetail. Hmmm…katanya Mas dulu mau cerita ke aku gitu versi lengkapnya. Ayoo Mas critain ke aku. Ya, ya, ya!” untaian gombal Sherly mulai menggema di telinga Agil.
“Bayar dulu donk!! Ayo!! Hehe..Iya2, kamu itu lebih seneng klo dengerin kisahnya orang dari pada kisahku sendiri.”
“Halah Mas, lha kisahnya Mas gak sedap dipandang mata gitu kok. Males aku.”
“Lha salah sendiri mau sama aku. Dulu aku gak maksa Adek buat suka sama aku kan?” kata Agil.
“Kepaksa Mas ku suka sama Mas dulu. Lha Mas gak jemu-jemu ngejar aku walau udah tak tolak berkali-kali lamaran Mas. Akhirnya karena kasihan, ya udah tak trimaa ja.” Tersenyum sambil menjulurkan lidahnya pertanda meledek ke arah Agil.
“Arrrggghhhh, ini istri kok bandel banget seeehh! Ya ya tak critain detailnya.”
“Syatir. Sebuah nama yang sesuai dengan arti yang disematkannya. Seorang dengan segudang cara untuk keluar dari masalah. Namun tetap dalam koridor syara’. Ah terlalu sombong untuk diceritakan sebenarnya.
***
“Komitmen saya adalah meratakan Gang Dolly Surabaya dengan Islam!! Mereka adalah pemuda yang punya potensi untuk dinyalakan dengan ideology hingga pijarannya menerangi malam!!” kata Syatir dalam sebuah training motivasi di Surabaya. Saat itu semua temannya mengamini apa yang dia impikan.
Satu minggu kemudian dia mulai memikirkan langkah untuk mewujudkan impiannya. Mulai melihat secara pasti bagaimana kondisi lapangan disana.
“Kalau aku berjuang sendirian, jelas aku tak mampu. Satu-satunya jalan adalah menciptakan team” ungkapnya dalam hati.
Dalam beberapa kali rapat dengan kolektif kampusnya, ia menawarkan beberapa ide. Salah satunya berkaitan dengan Gang Dolly untuk disentuh dengan islam.
Tentu saja, menurut Syatir dia tidak ingin memulai aksinya di Gang Dolly dulu, melainkan di taman Bungkul. Karena menurutnya lebih baik melakukan pemanasan dulu di taman Bungkul.
Seminggu kemudian…
Dalam redupnya langit tanpa sang surya hanya ada sang luna. Segerombolan orang yang kira-kira berjumlah 30an menuju Taman Bungkul. Membawa poster bertuliskan ‘Nikah saja Mbak!’, ‘Jangan mau di ajak berduan!!’, ‘Percayalah pada saya, jangan ikuti kata-kata gombal pasangan anda!’.Bahkan ada yang agak ekstrim tulisannya; ‘Kabur saja Mbak, jangan mau dijamah ya!!!’, ‘Grepe-Grepenya setelah nikah aja mbak!’. Dengan membawa poster mereka berdiri menatap terangnya lampu taman yang menyinari para muda mudi yang duduk berpasang-pasangan.
“Kawan-kawan jangan pernah gentar untuk menyerukan ini. Allah melindungi kita. Polisi juga sudah mau menjaga aksi kita, tenang saja.” Kata Syatir lirih sebelum mulai berorasi. Memang dia sudah minta ijin pihak kepolisian untuk melakukan aksi pada Sabtu malam minggu di Taman bungkul, oleh karena itu polisi dengan senjata dan water canon pun siap berada di belakang mereka.
Orasi pun dimulai, Syatir mengawali orasinya: “Mbak2, kalian adalah mutiara, kalian adalah perhiasan dunia. Bukankah Rasul kita pernah bersabda kalau perhiasan yang paling berharga adalah wanita sholehah. Jadi kalian adalah perhiasan. Perhiasan itu mahal Mbak harganya. Susah mendapatkannya. Mbak2 disini jangan mau dibeli dengan rayuan gombal lelaki Mbak. Bohong itu, Bohong!. Perhiasan itu seharusnya disimpan Mbak, bukan malah di obral di gratiskan, dijamah layaknya gorengan!”
“Takbir!” seru salah seorang teman Syatir.
“Allahu Akbar!!” serentak bak microvon yang meledak
“Saya lanjutkan Mbak, Mbak tau, bidadari itu disimpan di langit oleh Allah dan tidak di pertontonkan saat ini, karena mereka mahal harganya. Mereka layaknya permata dan marjan. Berarti mereka itu special Mbak. Ayo Mbak kabur saja dari pacar sampean! Kabur sekarang juga! Takbir!! Allahu Akbar… Allahu Akbar..” Syatir mulai menggemakan takbir.
“Janc**k, lapo koen C*k, ojo Takbiran nang kene! Iki ngunu durung lebaran C*k! (umpatan, knapa kamu –umpatan lagi-, jangan takbiran disini ya! Ini tuh belum lebaran!)” Salah seorang laki-laki tegak menantang dengan lantang kepada Syatir dan kelompoknya
Taman bungkul mulai panas, ketenangan mereka mulai terganggu, mereka mulai risih, semuanya pasangan berdiri. Seolah mereka kompak membuat satu gerakan. Lepas sepatu, angkat tinggi tinggi dan
now loading…
please wait…
loading completed…
Press Start button (kayak PSan aja)
Throw your sandals now!!!
Hahaha sungguh mengenaskan. Sandal pun berterbangan mengarah ke kelompok Syatir. Tidak hanya satu. Tapi banyak sandal. Entah mengapa sandal mereka direlakan begitu saja untuk dilempar. Kelompok Syatir mulai awas.
“Hei jangan kurang ajar ya! Belum tau rasanya makan sedotan WC ya kalian!! Tak sedot pakek sedotan WC mulut sampean!” ungkapan sepontan kelompok Syatir. Mungkin terasa kasar, ya namannya juga manusia dalam kondisi kepepet.
Plak… Ya Allah
Plak… Aduuh…
Satu dua sandal mulai mendarat di kepala Syatir.
“Pak Polisiiiii, perang telah dimulai, kami diserang Pak. Ayo Paaak, tembakkan meriam air nya!!!, teman-teman segera mundur!!! Lakukan formasi satu nol, nol, dan nol”. Teriak Syatir.
“Baik Jendral, kami siap melaksanakan formasi langkah satu nol, nol dan nol (langkah seribu).” salah seorang anggota Syatir menanggapi.
Lemparan tidak hanya sandal. Sekarang mulai dengan batu yang mengarah ke mobil polisi. Kelompok Syatir masuk ke mobil box polisi. Kondisi yang genting membuat polisi terpaksa menembakkan meriam air.
“Ayo pak, dimandiin aja mereka. Jangan mau kalah pak!! Siram terus biar pulang dan gak jadi pacaran! Ha ha ha, hu hu hu..lanjutkan pak”. Seru kelompok Syatir.
“Lumayan juga cara kamu Jendral Syatir. Ngundang polisi buat demo. Saat kita diserang mereka, polisilah yang nglawan. Hahaha, penghematan energi nih. Lumayan liat tontonan orang mandi rame2. sukurin.” kata Adi, adek Syatir yang ikut demo.
Suasana masih gaduh, tiba-tiba ada teriakan dari salah seorang pengunjung Taman bungkul.
“Stop-stop! Kami menyerah!!!” teriak salah seorang perempuan yang di Taman Bungkul tersebut.
Namun water canon terus menampar tubuh mereka yang sudah basah kuyup. Mendengar teriakan itu Syatir pun berteriak kepada Polisi.
“Pak, tolong hentikan Pak. Mereka sudah tak berdaya.” seru Syatir. Dan polisipun menghentikan tembakannya.
Wanita tadi lalu kembali berteriak kepada Syatir, tapi kali ini dengan nada yang keras dan marah “Hey, kamu pemuda yang sok suci! Aku mau mendengarkan ceramahmu asal kamu mau ceramah di diskotik dan panti pijat plus-plus ku. Berani kamu hey pemuda sok suci!!!”
Suasana pun hening menunggu jawaban dari Syatir.
“Tempat kamu dimana?”
“Gang Dolly!” kata wanita tersebut
“Baik, besok malam jam 12 saya akan datang ke tempat yang kamu minta” jawab Syatir dengan tegas.
Syatirpun berkata dalam hati, “wah sesuai dengan target ku ini”.
“Tapi ingat Mbak, kita harus sepakat kalau nanti kita hanya adu argument, bukan adu kekerasan, sepakat Mbak?!” lanjut Syatir.
“Baik. Sepakat, tak tunggu kamu di tempatku” jawab perempuan muda itu.
Teman-teman Syatir mulai panik. “Hah, yang bener kamu Mas, mau masuk dunia hitam besok? Hati-hati mas, apa kuat nafsu kamu? Lebih baik jangan Mas, jangan!”
“tenang ada 1001 cara untuk menghadapi mereka. Aku tau dia adalah pemimpin salah satu genk di gang sana. Ini kesempatan, jadi gak boleh disia-siakan. Akan ku persiapkan benar-benar”.
Sebuah malam yang meriah, malam yang indah bagi kawan-kawan Syatir. Malam minggu yang tak seperti biasanya. Malam yang seharusnya menjadi malam yang penuh tawa para pemuda pemudi yang bercengkrama menjadi malam yang penuh kegundahan bagi mereka. Satu malam itu taman yang harusnya ramai sampai pagi dengan pesta, bercumbunya para remaja, menjadi sunyi begitu saja. Kalian menang kawan!
Bersambung…

Selasa, 19 Juli 2011

Kisah Heroik Sayyid Quthb: Ditolak Wanita Pujaan, Namun Bergeming Ditawari Pelacur

Makin tinggi derajat keimanan seseorang, semakin tinggi pula ujiannya. Mungkin itulah kalimat yang pas bagi Sayyid Quthb. Doa dan goresan pengalamannya memberi pelajaran bagi kita tentang arti keimanan yang sejati. Iman yang tak tergadai meski lautan dunia sudah siap menanti.

Bayangkan di tengah ikhtiarnya untuk memperbaiki diri, ujian datang silih berganti. Sayyid Quthb yang baru saja ditolak cinta oleh pujaan hatinya untuk dipersunting menjadi istri, harus mengalami ujian sulit ketika sosok wanita cantik justru mengajaknya untuk berbuat haram lagi bersedia untuk ditiduri.

Kisah ini terjadi ketika Sayyid Quthb masih dalam perjalanan di atas kapal laut menuju Amerika, setelah ditugaskan Departemen Pendidikan Mesir meneliti di negeri Paman Sam tersebut.

Di atas kapal, orang-orang Amerika telah tahu keberadaan Sayyid. Iya, anak muda dari Kairo, pengarang buku Keadilan Sosial dalam Islam itu. Pemuda itu terkenal gigih akan perlawanannya terhadap Sekularisme, ia tidak menyetujui bahwa Agama dan Kehidupan haruslah terpisah.

Kaum Kuffar itu mengenali dengan jelas siapa pemuda berjas itu. Iya itu pasti Sayyid Quthb, tidak salah, gumam mereka. Sayyid Quthb yang terkenal seantero Mesir sebagai pemuda pintar dan soleh.

Kenapa mereka sampai ingin menjebak Sayyid Quthb? Sebab bagi bangsa jahili itu, Sayyid bisa berubah menjadi musuh Amerika setibanya di negeri Paman Sam. Didasari atas kekhawatiran itu, mereka tak hilang akal. Mereka tahu titik lemah pria pada umumnya, termasuk pria Mesir.

Orang-orang Amerika itu kemudian menyusun skenario untuk melumpunkan iman Sayyid. Mereka memperalat seorang wanita untuk membujuk dan merayunya hingga terjatuh di dalam lumpur kehina-dinaan. Hal ini justru terjadi setelah Sayyid bertekad untuk menjadi tentara Allah.

Setelah Sayyid berinteraksi dan benar-benar merasakan limpahan rahmat Allah hingga berkata: “Saya bermaksud menjadi orang kedua, yakni orang Islam yang loyal dan kukuh, dan Allah berkehendak menguji saya: apakah maksud dan niat saya ini benar, atau hanya sekedar bisikan hati saja?”

Ujian dari Allah kepadanya terjadi beberapa menit setelah Sayyid bertekad memilih jalan Islam, yakni ketika baru saja beliau memasuki kamarnya di atas kapal. Inilah ujian sesungguhnya. Ujian yang datang dari suara seseorang mengetuk pintu.

Sayyid Quthb lalu membukanya. Ia membuka pintu secara penuh ketabahan, sampai pada beberapa waktu, ternyata di hadapannya, telah berdiri seorang wanita cantik lagi semampai dan setengah telanjang dengan gaya merangsang. Sang wanita itu menyapa Sayyid lewat bahasa Inggris, "bolehkah saya menjadi tamu tuan malam ini?"

Sang Sayyid terperangah. Ia hampir saja kalap. Namun bukan Sayyid Quthb namanya jika tidak tahu bahwa inilah jawaban yang diberikan oleh Allah ketika ia betul-betul berjanji ingin memperbaiki diri.

Sang Sayyid lekas mengangkat kepalanya, lalu menolak rayuan wanita itu secara halus. Namun Wanita itu bergeming. Melihat gelagat kondisi tidak berubah ke arah lebih baik, Sayyid mengatakan, “Di kamar hanya ada satu tempat tidur, maaf.”

Namun sapanyanya, mendengar jawaban Sayyid, wanita itu semakin mendesak untuk masuk. Ia bak singa lapar ingin menerkam mangsa di hadapannya lewat tampilan sensual penuh godaan. Pada titik itulah, Sayyid bersikap lebih tegas, lewat iman yang teguh, ia mengusir sang wanita itu keluar menjauh dari kamar.

Beberapa saat kemudian wanita itu terjatuh di lantai papan. Saat itu, Sayyid sadar bahwa wanita itu sedang mabuk. Inilah gadis Amerika pada umumnya. Terbetik dalam hatinya, akan wanita solehah nun jauh di ujung Kairo sana.

Begitu lulus dari ujian yang pertama, Sayyid Quthb segera mengucap: “Alhamdulillah… saya merasa bangga dan bahagia, karena saya telah berhasil memerangi hawa nafsu. Dengan demikian nafsu itu berjalan di atas jalan tekad yang saya tentukan.”

Wanita itulah senjata pertama yang dirancang Amerika untuk menggoda dan meruntuhkan iman Sayyid. Akan tetapi, Allah lebih mengetahui ketetapan jalan yang beliau pilih, yakni jalan Allah, jalan keimanan, jalan cahaya Rabbani yang terang menyala-nyala hingga Allah memberinya taufik dan pertolongan dalam memenangkan ujian itu.

Namun bukan Amerika namanya jika masih belum jera memasukkan tiap muslim ke lubang galian mereka. Lagi, mereka kembali memperalat seorang gadis guna menaklukan iman Sayyid. Mereka menguntit dari satu universitas ke universitas lain setibanya Sayyid di Amerika dan mulai bergerilya meneliti kampus-kampus di sana.

Sampai suatu ketika, datang cobaan kedua menghampiri jiwa syahdu Sayyid. Kini, seorang wanita yang berdebat dengannya tentang perlunya free sex di Institut Keguruan di Colorado dan Galersi.

Wanita itu menjelasakan tentang indahnya kehidupan seks bebas beserta segala racun dunianya. Namun lagi-lagi, godaan itu hanyalah isapan jempol semata. Sayyid bergeming dan tidak tergoda akan kenikmatan dunia fana. Ia kembali lolos lubang dari durjana.

Sudah selesaikah ujian untuk Sayyid? Ternyata tidak. Cobaan ketiga itu datang dari seorang pegawai hotel yang dengan promosi cabulnya menawarkan hostes-hostes dan wanita-wanita cantik, baik yang masih polos maupun yang over acting. Sembari menahan beratnya ujian, Sayyid hanya tersentum dan menolak tawaran memikat itu.

Bayangkan itu semua terjadi di tengah kondisi negara bebas seperti Amerika dan dalam kondisi Sayyid sedang rindu akan sosok pendamping. Tak sedikit pemuda muslim terjebak berada di sana, hanya dalam waktu satu hingga dua bulan.

Padahal Sayyid berada di Amerika selama 2,5 tahun. Inilah hasil dari tarbiyah sejati dari seorang pecinta sejati, yang sejak kecil telah dididik oleh ibunya lewat untaian rabbani.

Hingga cobaan keempat itu kembali datang, kali ini seorang pemuda Arab yang mencoba mempengaruhi Sayyid dengan ceritanya tentang pergaulan bebas yang dilakukannya dengan wanita-wanita Amerika.

Pemuda itu menceritakan bak setan tengah mempengaruhi manusia untuk menjajal perilaku tercela, walau hanya sedetik berselimut syahwat jelata. Lagi-lagi, Sayyid bersyukur. Ia mengucapkan alhamdulillah, betapa Allah amat sayang kepadanya. Godaan demi godaan mampu ia tepis lewat sebongkah cahaya Iman yang terpatri dalam hati.

Ternyata itu bukan kasus terakhir, kali ini berasal dari seorang perawat ketika Sayyid sedang terbaring di rumah sakit. Perawat itu mendekati Sayyid yang tengah berbaring tak berdaya. Ia menceritakan kelebihan-kelebihan yang didamba oleh setiap laki-laki.

Juga upaya seorang mahasiswi untuk menghapus rasa jijik pada pikiran beliau terhadap hubungan seksual yang kotor. Ia menganggap bahwa hubungan seksual tidak lebih dari praktek hubungan biologis yang tidak ada alasan bagi seorang manusia untuk mencelanya, baik dari segi etika maupun lainnya.

Sekali lagi, iman Sayyid sangat tebal. Itulah kunci ia mampu menjadi pria sejati walaupun hingga akhir hayat ia tidak beristri. Kebathilan demi kebathilan tersebut, tak mampu menghanyutkannya kepada dunia. Subhanallah.

Itulah Sayyid Quthb yang kelak sepulangnya dari Amerika, beliau bergabung dengan barisan Ikhwan dan disebut-sebut sebagai ideologi kedua Ikhwan sekaligus mujahid yang tercecer darah syuhada dalam hidupnya. Semoga Allah memberikan menempatkan Asy Syahid Sayyid Quthb bersama kafilah Syuhada di jannah nanti. Allahuma amin. (pz)

***

Note:Membaca tulisan ini, saya jadi malu. Terus terang hampir bisa dipastikan 60-70 persen kemungkinan, ketika peristiwa itu terjadi di hadapan saya, saya sangat, sangat kesulitan menolaknya.

Terus terang saja, dengan kelemahan, kengeresan saya akhir-akhir ini, menjadikan saya kadang kepikiran untuk bercinta dengan wanita-wanita cantik dan menggetarkan yang kadang saya temui.

Allah mudah-mudahan mengampuni saya. Dan mudah-mudahan saya bisa segera mengelola ketidak beresan ini. :). Mudah-mudahan ketika saya tidak bisa menjaga diri ada sahabat-sahabat yang mau menjaga diri, mengingatkan saya ketika lengah. Amin.

Mudah-mudahan cobaan ini bisa segera berlalu.

Diluar itu, terbayang kan? Karena saya jarang menulis panjang-panjang di akhir tulisan orang. Ini tulisan yang baik, luar biasa dari pemikir muda bernama Pizaro N. T.

Alhamdulillah muncul satu lagi pelanjut estafet risalah kenabian yang berkualitas di dunia penulisan.

Siapakah Yang Kita Sembah..

Sebuah ayat kubuka, ayat al Taubah 9: 31.

Bagaimana bunyinya sahabat-sahabatku?

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib (pendeta-pendeta) mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; Tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.(QS. At-Taubah [9] : 31)

Pada satu saat, Baginda Rasulullah yang mulia, yang kita cintai dengan darah dan kerinduan hingga sesak itu berbisik di telinga, menyentuh hati kita dengan kehangatan ucapannya.

Apa yang beliau katakan?

Melalui Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Adi bin Hatim Ath-Thai, bahwa Adi bin Hatim mengahadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan di lehernya ada salib, sementara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membacakan ayat Al Taubah 9:31.

Ia (Adi bin Hatim) berkata:
"Maka aku interupsi, mereka tidak pernah menyembah (para pendeta)."

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Ya (mereka menyembah para pendeta). Jika (para pendeta) mengharamkan kepada mereka sesuatu yang halal dan menghalalkan sesuatu yang haram, mereka mengikuti (para pendeta itu) maka itulah cara mereka menyembah pendeta mereka”.

(Ibnu Katsir, Maktabah Dar al-Salam, 1994, 2/459).

Saudaraku, siapakah yang kita sembah? Allah-kah? Atau partai, atau pemimpin politikmu? atau hawa nafsu?

Ketika kita menyatakan Ahmadiyah sesat, karena mereka memiliki wahyu Mirza Ghulam dalam 'kitab suci' Tadzkirahnya, karena kaum Ahmadiyah itu menjadikan Tadzkirah sebagai sumber hukum.

Maka tidak sesatkah kita, ketika kita mengambil sumber hukum tidak berdasarkan hukum Allah, diluar itu kita malah memusuhi manusia-manusia yang rindu syariat-Nya ditegakkan? membuat fitnah atas mereka?

Lantas, siapakah yang kita sembah? Allah kah? atau ... ke-ilahian itu telah berpindah pada sosok manusia dan perangkat hukum yang dibuatnya.