Powered By Blogger

Rabu, 20 Juli 2011

Haram.

Bab i haram… Taman Kebangkitan
Jalan raya Dukuh Kupang masih tetap dihinggapi kuda-kuda besi yang memancarkan cahaya putih dari sorotan mata depannya. Agil duduk menatap lekat laju warna kuda yang meluncur seolah mampu mengais memorinya 5 tahun silam. Tempat hiburan Hot yang santer di Surabaya itulah yang kini ia singgahi bersama dengan istrinya tiap malam minggu. Seolah mereka berdua tersengat listrik yang mampu menyalahkan letupan semangat dalam diri mereka berdua.
“Dek, kalau anak kita lahir nanti, kita akan ceritakan kalau tempat hiburan ini adalah tempat kebangkitan pemuda Kota Surabaya, gimana?” kata Agil dengan bangga kepada istrinya.
“He’em, iya mas, toh gak jauh beda kok sama nama aslinya dulu. Dulu Gang Dolly sekarang Gang HolyQ (quran), haha menarik kan Mas?” istrinya melempar jawaban sambil menyandarkan kepalanya dibahu Agil.
“Tumben kamu cerdas, gara-gara nikah ma aku ya sekarang jadi cerdas?”goda Agil spontan (uhuiii).
“Yeee ini mesti kePDan, dari dulu ku udah cerdas ya!! Buktinya semua lomba udah berhasil tak taklukin. Mulai lomba makan ujung pulpen, eh makan krupuk yang di ikat di ujung pulpen maksudnya, (hihi, dasar istri Agil agak gil gil gil, ah gak jdi deh), lomba musik daster (dulu kan jamannya musik rock, sekarang ganti aliran), lomba makan pizza (dikibulin penjual pizza mau ja, padahal akhirnya disuruh bayar), dan masih banyak yang lain deh mas” serunya dengan degup kagum akan critanya.
“Hah, Pengalaman kok kayak tutup panci jeleknya. Ah jadi gak kenal ah ma kamu. Kabur ah, kabuuuurrr.” Goda Agil sambil melompat dari tempat duduk dan lari menjauh dari Sherly, istrinya.
“Hayooo, mau kemana Maass. Tak lempar klompennya mbahku loh!! Ayo kembali kepelukan ketiak ku, sini sayaang.” Sherly mengayunkan kakinya ingin meraih si Agil dalam ketiaknya. (duh penulis aja kudu muntah nulisin crita ini).
Malam masih menayangkan ribuan cahaya yang bertaburan di atas awan, rembulan pun masih setia menyantunkan cahaya untuk semua produk-Nya. Orkestra insekta bumi dan langit masih nyaring dengan dengungan yang wanginya menyerbak telinga. Begitulah keseharian alam dalam menampakkan kreativitas Allah Azza Wa Jalla. Namun kondisi Gang HolyQ ini berbeda jauh dengan Gang Dolly yang dulu dalam agenda hariannya. Kini para pengunjung Gang Dolly adalah muda-mudi yang sudah menikah. Ya sebagaimana Sherly dan Gila (eh, maaf maksudnya Agil) yang menghabiskan sejenak waktu mereka untuk singgah di Gang ini mendengarkan kajian keluarga sakinah. Anak-anak pun diajak orang tua mereka untuk mendengarkan kisah-kisah orang terhebat dalam masa keemasan dunia. Seperti kisah Muhammad Al-Fatih ketika menundukkan Konstantinopel, kota adi daya kala itu. Mereka merekam bagaimana seorang Al-Fatih tak pernah meninggakan sholat rawatib dan tahajud dalam hidupnya, menggerakkan pasukan-pasukan muslimin sehingga mampu melesatkan puluhan kapal dari lautan menerobos bukit yang menjulang hanya dalam satu malam, dan penaklukan itupun begitu elok dihirup telinga. Itulah selayang pandang aktifitas Gang HolyQ saat ini, Mei 2015.
***
“Dek, sini deh. Nih liat tuh masih ada kan?” Agil menculik perhatian Sherly (asal jangan menculik Miyabi) dengan telunjuknya yang mengarah kebawah.
“Apa sih Mas? Kakinya Mas yang korengan dan kemarin kenak jepret nya tikus itu toh? Jangan bilang keluar darah lagi ya? Gak mau lagi aku ngrawat! Gak mau!” kata Sherly yang nampak jengah dengan kondisi suaminya.
‘Cetuik’ dijitaklah Sherly dengan lembut (biasanya kan ‘Cetuak’),“Hiiiihh, bukan. Makanya tah jangan negative thinking terus sama Mas, yang ikhlas dunk kalau ngrawat. Tuh liat deh ternyata masih belum ilang tulisan yang ngatain Syatir Gila (mungkin maksudnya Ganteng, Imut, Lan Asoy). ‘Mendem gadung, hidung kayak cebok kamar mandi, telinga kayak betadine, mata kayak gantungan kunci.’ Liat gak, bener kan masih ada? Harus segera dilaporin neh ke tukang pembersih” selidik Agil kala menelusuri tulisan di bawah meja yang samar-samar di sebelah kakinya.
“Iyaaaa, tadi kan bercanda Mas. Jangan dijitik lagi ya! (kalau keras jitak bukan jitik-red). Mungkin bukan salah tukang pembersihnya Mas, lah ini tempat tulisannya ada di cepitan kursi gini. Yup sepakat, laporin aja deh sekarang. Oke tak emailkan ja ke tukang pembersihnya. Eh, gimana kalo langsung ke Fb nya aja ya.” celetuk Sherly berapi-api memijat keybord netbooknya dengan ujung-ujung jarinya.
“Ah ku jadi semakin bangga dengan Syatir. Dia selalu berpesan padaku ‘Allah itu Maha Kreatif, maka jadikan Allah itu inspirasi kalian buat bikin dakwah ini sekreatif mungkin, jadikan dakwah ini menyenangkan, menantang, dan terus hidup kawan!’, kadang kata-kata itu ditentang, tapi dia selalu bisa membuktikan kalau dia bisa bertahan, bahkan kemenangan pun berpijar” mata Agil berlinang-linang mengingat kenangan yang tampil memesona di pelupuk matanya.
“Aku sih taunya cuma secuil aja kisah tentang dia. Gak sampek mendetail. Hmmm…katanya Mas dulu mau cerita ke aku gitu versi lengkapnya. Ayoo Mas critain ke aku. Ya, ya, ya!” untaian gombal Sherly mulai menggema di telinga Agil.
“Bayar dulu donk!! Ayo!! Hehe..Iya2, kamu itu lebih seneng klo dengerin kisahnya orang dari pada kisahku sendiri.”
“Halah Mas, lha kisahnya Mas gak sedap dipandang mata gitu kok. Males aku.”
“Lha salah sendiri mau sama aku. Dulu aku gak maksa Adek buat suka sama aku kan?” kata Agil.
“Kepaksa Mas ku suka sama Mas dulu. Lha Mas gak jemu-jemu ngejar aku walau udah tak tolak berkali-kali lamaran Mas. Akhirnya karena kasihan, ya udah tak trimaa ja.” Tersenyum sambil menjulurkan lidahnya pertanda meledek ke arah Agil.
“Arrrggghhhh, ini istri kok bandel banget seeehh! Ya ya tak critain detailnya.”
“Syatir. Sebuah nama yang sesuai dengan arti yang disematkannya. Seorang dengan segudang cara untuk keluar dari masalah. Namun tetap dalam koridor syara’. Ah terlalu sombong untuk diceritakan sebenarnya.
***
“Komitmen saya adalah meratakan Gang Dolly Surabaya dengan Islam!! Mereka adalah pemuda yang punya potensi untuk dinyalakan dengan ideology hingga pijarannya menerangi malam!!” kata Syatir dalam sebuah training motivasi di Surabaya. Saat itu semua temannya mengamini apa yang dia impikan.
Satu minggu kemudian dia mulai memikirkan langkah untuk mewujudkan impiannya. Mulai melihat secara pasti bagaimana kondisi lapangan disana.
“Kalau aku berjuang sendirian, jelas aku tak mampu. Satu-satunya jalan adalah menciptakan team” ungkapnya dalam hati.
Dalam beberapa kali rapat dengan kolektif kampusnya, ia menawarkan beberapa ide. Salah satunya berkaitan dengan Gang Dolly untuk disentuh dengan islam.
Tentu saja, menurut Syatir dia tidak ingin memulai aksinya di Gang Dolly dulu, melainkan di taman Bungkul. Karena menurutnya lebih baik melakukan pemanasan dulu di taman Bungkul.
Seminggu kemudian…
Dalam redupnya langit tanpa sang surya hanya ada sang luna. Segerombolan orang yang kira-kira berjumlah 30an menuju Taman Bungkul. Membawa poster bertuliskan ‘Nikah saja Mbak!’, ‘Jangan mau di ajak berduan!!’, ‘Percayalah pada saya, jangan ikuti kata-kata gombal pasangan anda!’.Bahkan ada yang agak ekstrim tulisannya; ‘Kabur saja Mbak, jangan mau dijamah ya!!!’, ‘Grepe-Grepenya setelah nikah aja mbak!’. Dengan membawa poster mereka berdiri menatap terangnya lampu taman yang menyinari para muda mudi yang duduk berpasang-pasangan.
“Kawan-kawan jangan pernah gentar untuk menyerukan ini. Allah melindungi kita. Polisi juga sudah mau menjaga aksi kita, tenang saja.” Kata Syatir lirih sebelum mulai berorasi. Memang dia sudah minta ijin pihak kepolisian untuk melakukan aksi pada Sabtu malam minggu di Taman bungkul, oleh karena itu polisi dengan senjata dan water canon pun siap berada di belakang mereka.
Orasi pun dimulai, Syatir mengawali orasinya: “Mbak2, kalian adalah mutiara, kalian adalah perhiasan dunia. Bukankah Rasul kita pernah bersabda kalau perhiasan yang paling berharga adalah wanita sholehah. Jadi kalian adalah perhiasan. Perhiasan itu mahal Mbak harganya. Susah mendapatkannya. Mbak2 disini jangan mau dibeli dengan rayuan gombal lelaki Mbak. Bohong itu, Bohong!. Perhiasan itu seharusnya disimpan Mbak, bukan malah di obral di gratiskan, dijamah layaknya gorengan!”
“Takbir!” seru salah seorang teman Syatir.
“Allahu Akbar!!” serentak bak microvon yang meledak
“Saya lanjutkan Mbak, Mbak tau, bidadari itu disimpan di langit oleh Allah dan tidak di pertontonkan saat ini, karena mereka mahal harganya. Mereka layaknya permata dan marjan. Berarti mereka itu special Mbak. Ayo Mbak kabur saja dari pacar sampean! Kabur sekarang juga! Takbir!! Allahu Akbar… Allahu Akbar..” Syatir mulai menggemakan takbir.
“Janc**k, lapo koen C*k, ojo Takbiran nang kene! Iki ngunu durung lebaran C*k! (umpatan, knapa kamu –umpatan lagi-, jangan takbiran disini ya! Ini tuh belum lebaran!)” Salah seorang laki-laki tegak menantang dengan lantang kepada Syatir dan kelompoknya
Taman bungkul mulai panas, ketenangan mereka mulai terganggu, mereka mulai risih, semuanya pasangan berdiri. Seolah mereka kompak membuat satu gerakan. Lepas sepatu, angkat tinggi tinggi dan
now loading…
please wait…
loading completed…
Press Start button (kayak PSan aja)
Throw your sandals now!!!
Hahaha sungguh mengenaskan. Sandal pun berterbangan mengarah ke kelompok Syatir. Tidak hanya satu. Tapi banyak sandal. Entah mengapa sandal mereka direlakan begitu saja untuk dilempar. Kelompok Syatir mulai awas.
“Hei jangan kurang ajar ya! Belum tau rasanya makan sedotan WC ya kalian!! Tak sedot pakek sedotan WC mulut sampean!” ungkapan sepontan kelompok Syatir. Mungkin terasa kasar, ya namannya juga manusia dalam kondisi kepepet.
Plak… Ya Allah
Plak… Aduuh…
Satu dua sandal mulai mendarat di kepala Syatir.
“Pak Polisiiiii, perang telah dimulai, kami diserang Pak. Ayo Paaak, tembakkan meriam air nya!!!, teman-teman segera mundur!!! Lakukan formasi satu nol, nol, dan nol”. Teriak Syatir.
“Baik Jendral, kami siap melaksanakan formasi langkah satu nol, nol dan nol (langkah seribu).” salah seorang anggota Syatir menanggapi.
Lemparan tidak hanya sandal. Sekarang mulai dengan batu yang mengarah ke mobil polisi. Kelompok Syatir masuk ke mobil box polisi. Kondisi yang genting membuat polisi terpaksa menembakkan meriam air.
“Ayo pak, dimandiin aja mereka. Jangan mau kalah pak!! Siram terus biar pulang dan gak jadi pacaran! Ha ha ha, hu hu hu..lanjutkan pak”. Seru kelompok Syatir.
“Lumayan juga cara kamu Jendral Syatir. Ngundang polisi buat demo. Saat kita diserang mereka, polisilah yang nglawan. Hahaha, penghematan energi nih. Lumayan liat tontonan orang mandi rame2. sukurin.” kata Adi, adek Syatir yang ikut demo.
Suasana masih gaduh, tiba-tiba ada teriakan dari salah seorang pengunjung Taman bungkul.
“Stop-stop! Kami menyerah!!!” teriak salah seorang perempuan yang di Taman Bungkul tersebut.
Namun water canon terus menampar tubuh mereka yang sudah basah kuyup. Mendengar teriakan itu Syatir pun berteriak kepada Polisi.
“Pak, tolong hentikan Pak. Mereka sudah tak berdaya.” seru Syatir. Dan polisipun menghentikan tembakannya.
Wanita tadi lalu kembali berteriak kepada Syatir, tapi kali ini dengan nada yang keras dan marah “Hey, kamu pemuda yang sok suci! Aku mau mendengarkan ceramahmu asal kamu mau ceramah di diskotik dan panti pijat plus-plus ku. Berani kamu hey pemuda sok suci!!!”
Suasana pun hening menunggu jawaban dari Syatir.
“Tempat kamu dimana?”
“Gang Dolly!” kata wanita tersebut
“Baik, besok malam jam 12 saya akan datang ke tempat yang kamu minta” jawab Syatir dengan tegas.
Syatirpun berkata dalam hati, “wah sesuai dengan target ku ini”.
“Tapi ingat Mbak, kita harus sepakat kalau nanti kita hanya adu argument, bukan adu kekerasan, sepakat Mbak?!” lanjut Syatir.
“Baik. Sepakat, tak tunggu kamu di tempatku” jawab perempuan muda itu.
Teman-teman Syatir mulai panik. “Hah, yang bener kamu Mas, mau masuk dunia hitam besok? Hati-hati mas, apa kuat nafsu kamu? Lebih baik jangan Mas, jangan!”
“tenang ada 1001 cara untuk menghadapi mereka. Aku tau dia adalah pemimpin salah satu genk di gang sana. Ini kesempatan, jadi gak boleh disia-siakan. Akan ku persiapkan benar-benar”.
Sebuah malam yang meriah, malam yang indah bagi kawan-kawan Syatir. Malam minggu yang tak seperti biasanya. Malam yang seharusnya menjadi malam yang penuh tawa para pemuda pemudi yang bercengkrama menjadi malam yang penuh kegundahan bagi mereka. Satu malam itu taman yang harusnya ramai sampai pagi dengan pesta, bercumbunya para remaja, menjadi sunyi begitu saja. Kalian menang kawan!
Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar