Powered By Blogger

Rabu, 20 Juli 2011

Haram

Bab ii haram…brutal enemy
Bulan masih bermain petak umpet dengan awan, silih berganti saling menutupi. Debu jalanan yang mengendarai angin pun menyeka wajah muda mereka. Dzikir semesta menggema dalam kalbu yang rindu akan dekapanNya. Masih meresapi sejuknya perjalanan pulang dengan deru motor-motor mereka, tiba-tiba Syatir mengisyaratkan untuk berhenti. Berhenti tepat ditengah padang rerumputan sebelah danau UNESA lidah.
“ada apa mas kok tiba-tiba pengen berhenti di sini? Nanti aja mas pipisnya. Dirumah saja!” seru Adi kepada kakaknya Syatir.
“tenang, bukan pipis ini. Mempersiapkan untuk pertempuran besok. Kalian terus saja ke rumah. Nanti aku tak pulang jalan kaki saja. Lebih baik sejak sekarang saja persiapannya untuk besok, bukankah kejahatan yang dimanajemen bisa ngalahin kebaikan yang berserakan?”. Sahut Syatir dengan mantab.
“kita sama sama aja mas. Bareng-bareng kan lebih cepat selesainya, ya kan?”
“Jangan, sudah ku bilang jangan ikut. Toh ini juga urusan pribadiku sendiri. Insya Allah tidak masalah kalau kalian tinggal. Percayalah padaku, sekarang segera saja kalian pulang ke Asrama. Aku tidak lama kok”. Penjelasan Syatir untuk memantabkan Adi dan rekan-rekannya.
Perlahan Adi dan teman-teman lainnya berpamitan dan menjauh dari posisi Syatir berada. Dalam hati Syatir berujar “terima kasih kawan, kalian pasti tak tega dengan apa yang aku cari sekarang dan yang akan aku lakukan besok. Cukup aku yang berbuat demikian. Suatu saat giliran kalian dengan menggunakan cara yang lebih canggih dari cara sederhanaku ini”
Adanya secercah pijaran lampu handphone membantunya menelusuri gelapnya semak belukar. Kalbunya bertasbih seiring detakan jantungnya. Berharap ia segera menemukan benda-benda yang ia cari. Ya adanya hanya di semak belukar dan di pinggiran danau saja. Bukan di Supermarket, tokoh pojok, warung tegal, bahkan di pedangan kaki lima pun tak ada. Ya ini adalah misi rahasianya. Tak boleh ada seorang dari Kolektifnya yang tau apa rencananya. Karena mereka pasti tak tega dan membiarkan apa yang akan dilakukan Syatir. Dengan merancang rencananya malam itu, dapat memperkecil kemungkinan untuk diketahui secara detail apa yang akan dia lakukan.
***
“Adi, dek tolong bukain pintu!”. Suara Syatir membangunkan adeknya setelah menyelesaikan persiapannya hingga larut malam, 03.00 am.
“iya mas, bentar” sambil berjalan adi menyahut seruan kakaknya.
“habis sholat ya. Ya sudah lanjutkan munajat kamu, aku mau ke kamar mandi bentar. Badan ku gatal gatal habis dari sana tadi”
“loh mas, mana jaket kamu? Gak ketinggalan kan?
“enggak, tak simpen kok tenang aja” Jawab Syatir sambil mengambil handuk dan membuka pintu kamar mandinya.
Keesokan harinya…
“Inilah saatnya aku menghadapi mereka, semilyar cara sudah aku kerahkan untuk menekuk lutut mereka dihadapan ku karena kelembutan Nya, ya semilyar cara, karena aku bukan berhadapan dengan suasana Mall yang bertebaran permata-permata yang dibalut sederhana, tapi aku berhadapan dengan permata yang tanpa balutan busana” dia berujar kepada Adi sambil menuju samping rumah untuk mengambil kuda besinya.
“aku percaya kemampuanmu mas, aku tetap akan mendoakanmu. Apa perlu aku mengikutimu hingga di depan diskotik itu”
“Jangan Di, kamu tetap berjaga saja di 4 perempatan dari diskotik itu. Nanti kalau aku telepon, langsung saja ke diskotik, mungkin aku dalam bahaya. Walaupun dalam bahaya tolong kalian tidak bertindak anarkis! Paham maksudku?”
“ya paham Mas, setelah ini aku kumpulkan teman-teman untuk mengikuti saranmu”
“baik, aku brangkat dulu, ini sudah pukul 11.15. wassalam”
“alaikum salam. Allah bersamamu mas”
Langit masih menyajikan kerlap kerlip bintang yang berpijar. Embun malam menyejukkan kulit Syatir yang tak mengenakan jaket. Syatir meluncur menuju rumah temannya untuk mengambil jaket yang sengaja ia titipkan disana. Masih dengan hati berdzikir dan semilyar tawakal ia melanjutkan untuk meluncur menuju diskotik.
***
“ Syatir sudah datang, pemuda itu mau masuk diskotik, segera panggil May untuk berada di ruang yang sudah kita siapkan special untuk Syatir”
“ya, ya segera beritahu May”
Sahut menyahut antara bodyguard diskotik yang berada di depan untuk mengabarkan kedatangan Syatir. Syatir melangkah pelan, mengenakan jaket hitam, kaca mata hitam dan tas ransel biru.
“Saudara Syatir, langsung ikuti aku! Pengawal, pegang dia!” seru salah seorang yang berkaca mata hitam.
Syatir mulai melangkah memasuki pintu. Kini musik hip hop berdengung di telinganya bersaingan dengan teriakan takbir dan dzikir di hatinya. Tawa canda para wanita terdengar mengiringi lirik musik diskotik, aroma wine dan rokok menyisip dalam indra pembau Syatir. Sejenak Syatir sudah berada didepan pintu kamar May.
“Silahkan masuk, May sudah menunggumu di dalam. Bersenang-senanglah pemuda, dia wanita nomer satu di Surabaya. Jangan sia siakan. Mumpung ada potongan 100% buat mu untuk menikmatinya, kapan lagi coba?” seorang penjaga pintu berbisik kepada Syatir.
Dari aroma rokok dan wine berganti dengan parfum yang begitu lembut untuk membuat nyaman manusia. Lampu ruangan pun tak lagi segelap suasana diskotik. Kini di depan Syatir berdiri seorang perempuan dengan mengenakan kerudung modern dan pakaian seksi. Syatir seolah olah menatap sang perempuan namun sesungguhnya ia memejamkan matanya yang ada di balik kaca mata hitamnya. Sementara itu May bertutur pada Syatir.
“Selamat datang pemuda tampan. Berani juga kau menerima tawaranku. Bagaimana suasana tempatku? Sudah mulai beradaptasikah dengan nuansa seperti ini sekarang? Ternyata kau gagah dan tampan juga bila ku lihat dari dekat. Aku jadi berubah pikiran, aku ingin kau melupakan tawaranku. Sekarang aku milikmu Syatir, aku pasrahkan tubuh ini untukmu. Sudalah temanmu tak ada yang tau, aku pun juga berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini ke orang lain. Aku berhak kau miliki kapan saja kau mau. Bagaimana? Ayo ini adalah cara lembut ku Syatir. Buka kacamatamu sayang, buka sekarang juga. Lihatlah bidadari yang ada didepanmu ini.”
“baik akan ku buka kacamataku” kata Syatir sambil melepaskan kacamatanya dan melemparnya kelantai
Sementara itu May tidak ingin menyianyiakan kesempatan ketika mata Syatir terbuka. Ia mulai membuka kerudung dan membuka kancing bajunya. Saat itu juga Syatir langsung bereaksi dengan santai
“Baiklah May, ku ijin kan kau membuka baju dihadapanku dan ijinkan aku membuka kado yang ku bawakan untukmu” Syatir membuka tas dan mengeluarkan tas kresek berwarna hitam, sementara May yang sudah membuka dua kancing bajunya berhenti sejenak.
“Silahkan teruskan untuk membuka bajumu, ku bawakan kau seekor bangkai tikus yang sudah dihuni ratusan belatung di dalamnya” ujar Syatir sambil membuka bungkusan kreseknya.sontak May laksana pohon yang tersengat halilintar.
“bajingan! Bau Anj**ng! bau! Buang bangkai itu, Buang!. Teriak May.
Ruangan yang tadinya laksana taman bunga yang penuh kabut dan sinar mentari dengan aroma tulip yang semerbak tiba-tiba serasa tempat pembuangan sampah bahkan layaknya tempat penyedot wc saja. May pun tak jadi melucuti balutan kain di tubuhnya.
Tanpa diduga seorang pengawal menyahut bangkai tikus itu dari tangan Syatir dan langsung membungkusnya dengan kresek lain, lalu pengawal yang lain pun mengambil parfum ruangan lalu menyemprotkan pada ruangan dan membuka pintu kamar agar mendapatkan udara penganti.
“hah, satu langkah kau mulai curang May, kamu menggunakan pengawalmu untuk merebut paksa senjataku” jawab Syatir singkat.
“Sekarang mau apa lagi? Masih adakah bangkai tikus di tasmu? Pengawal ambil tas Syatir!” lalu pengawal pun melangkah menuju Syatir, namun Syatir menyerahkan tasnya terlebih dahulu sebelum pengawal mengambil langsung dari pundaknya.
“dua kali kamu menggunakan bodyguard mu untuk menaklukkanku”
“baik, akan aku suruh keluar para pengawal pria ku, dan aku ganti dengan pendampingku yang perempuan”
“terserah apa maumu” jawab Syatir dengan santai.
Lalu para pengawal pria pun keluar dan masuklah para gadis-gadis muda masuk ke kamar May. 20 gadis tersebut menggunakan pakaian yang sangat minim. Lalu Syatir pun benar-benar menundukkan pandangan.
“Syatir kamu berjanji untuk ceramah pada kami, dan kamu pun berjanji untuk tidak menggunakan kekerasan pada kami. Wajar kalau kami melanggar janji yang sudah kita sepakati. Ya karena kami sudah biasa berbuat dusta. Tapi kamu kan orang alim, jadi tak pantas kamu untuk melanggar janjimu itu. Baiklah sekarang aku akan gunakan cara kasar tapi lembut. Kalau kamu tak mau menikmati tubuhku aku akan menikmati tubuhmu sayang. Adek-adek cantikku, pegangi dia dengan penuh kelembutan. Aku akan datang kepadamu Syatir. Ingat kamu harus menepati janjimu untuk tidak menggunakan kekerasan pada kami”. Rayuan May terus digulirkan ke telinga Syatir yang sedang menunduk.
“Tak semuda yang kalian kira untuk menyentuhku, Arrrrggggghhhhh”. teriak Syatir, lalu…
Tar..
Plak..
Ctak..
Plak..
Syatir memukuli tubuhnya sendiri dengan rata, mulai dari kedua tangannya, badannya, kedua kakinya dan punggungnya. Lalu keluarlah caritan kuning putih dari jaket dan celananya hingga membasahi tubuhnya. Sontak para gadis yang ada disitu berteriak
“Bangs*t kau Syatir, bau busuk, dasar sint**g!”
“Biad*p kau pemuda busuk” umpatan para gadis dan May pun bersahutan.
Bau itu berasal dari telur busuk yang ia cari dekat danau, ia masukkan kedalam jaketnya dan saku celananya, lalu ia pukul untuk membasahi tubuhnya dengan cairan busuk. Ya lumayan jitu dan sederhana untuk sebuah perlindungan.
“Ayo maju! Kalian takut dengan telur busuk dalam diriku. Baik aku tambahi satu lagi”. Syatir lalu mengeluarkan plastic putih dan..
Pyar…
Cairan hijau itu mengalir dari rambutnya lalu menyapu wajah, leher dan dada Syatir.
“Yang kedua tadi adalah kotoran manusia yang sudah aku lembutkan”.
Bau busuk telur dan juga busuknya kotoran manusia mulai memenuhi ruangan. Semua gadis termasuk May menutup hidung mereka. Kemudian Syatir langsung melontarkan kata-katanya..
“May, bukankah kau menggebu-ngebu untuk menyetubuhiku. Kenapa tidak mendatangiku sekarang?”
“May, apa kamu hanya mau dengan yang bersih saja, namun yang busuk kau tinggalkan?”
“Apakah aku harus berwudlu untuk membasuh tanganku saat ini? Atau harus mandi junub sekalian untuk mensucikan tubuhku? Bukankah kesucian dan kebersihan tubuhku yang kau inginkan?”
“hah, ternyata standart mu begitu rendah. Orang paling cantik sesurabaya ternyata hanya menginginkan sesuatu yang dangkal saja”
“Taukah kamu, masyarakat telah menganggapmu sebagai Tai bahkan sampah yang sangat busuk, tapi aku tak menganggap kalian sedemikian kejihnya hingga aku mau mendekati kalian. Tapi ironisnya, ketika kalian mendapati aku yang busuk ternyata kalian lari, seolah-olah akulah kebusukan yang sesungguhnya”
“Kita sama-sama diciptakan dari sesuatu yang hina, sesuatu yang tak ada nilainya. Ya setetes sperma, dan dari sana aku tidak ingin kalian menjadi penentang yang nyata. Aku tidak ingin kalian buta padahal kalian melihat, aku juga tak mau kalian bisu padahal kalian berbicara, tak ingin kalian tuli padahal kalian mendengar, tak ingin kalian “mati” padahal kalian memiliki hati”.
“aku tak ingin kalian ketika melihat wanita dihargai dengan murah, hanya dengan materi tapi ternyata kalian membutakan diri, ku tak ingin ketika kalian melihat seorang yang menjaga diri dengan agamanya tetapi kalian malah memejamkan mata untuk tidak meneladani. Ku juga tak ingin kalian mendengar ayat-ayat Allah namun tetap saja merasa tuli. Menghirup ruangan yang wangi lalu mewarnainya dengan perbuatan zina seolah olah berada dalam taman bunga, padahal dalam pandangan Allah pada hal itu bagaikan busuknya kotoran manusia yang saat ini. Bahkan ada yang mengetahui hikmah seperti ini ternyata masih saja hati itu mati dan tak berdetak lagi, ya aku tak ingin bila kalian seperti ini.”
“belum terlambat, kalian masih bisa membasuh diri kalian dengan sebersih bersihnya. Layaknya aku yang juga akan membasuh kotoran ini hingga tak tercium lagi baunya. Selagi kalian masih bernafas, kesempatan kalian untuk mengambil air masih terbuka, begitu pula denganku kesempatan itu masih ada. Pilihan ada ditanganku untuk membasuh bau telur busuk dan kotoran manusia yang ada dikepalahku ini atau membiarkannya bau. Itu terserah padaku. Bukankah itu sama juga dengan kalian untuk memilih? Menjadi tetap bersih atau berbalut noda. Ya Allah saksikanlah aku sudah mengingatkan hamba-hambaMu”.
Hingar bingar bunyi musik dalam diskotik tetap berdengung, walaupun begitu suasana kamar tersebut seolah-olah sunyi senyap. Bau menyengat telur busuk dan kotoran manusia juga masih menyelimuti ruangan, tapi nuansa ruangan seolah-olah wangi kasturi yang semerbak mewangi hingga para perempuan di sana tak lagi menutup hidung mereka. Mereka menangis hingga tak dapat berbicara sepatah kata pun dan seolah tempat itu bukan diskotik lagi, melainkan taman bunga yang penuh kupu kupu indah disekitarnya.
“saya pamit dulu, waslm”. Syatir melangkah menuju pintu masuk ruang diskotik.
“tunggu, keluar saja melalui pintu ini, kau bisa leluasa keluat melalui pintu itu” suara serak May yang bertekuk lutut dengan linangan air mata.
Syatirpun melangkah meninggalkan diskotik dan mengambil sepedahnya kembali. Setelah Syatir menaiki kuda besinya tiba-tiba lampu diskotik mati, ya malampun menjadi sunyi. Ternyata May telah berani mengambil keputusan untuk mengahiri cerita kelamnya. Ya begitulah Syatir, dia mendapatkan cara untuk tidak dipenaruhi oleh rayuan May, namun berbanding terbalik untuk mempengaruhi dan mengontrol mereka. Ya mengontrol mereka dengan teknik Brutal Enemy, yakni menghancurkan musuh dengan mengorbankan atau menghancurkan diri sendiri. Syatir berfikir bila dia tidak boleh anarkis pada orang maka mengapa dalam kondisi tertentu dia tidak menjadikan dirinya sebagai korban untuk menaklukkan lawan? ya, sekali lagi Syatir menggunakan dirinya sendiri untuk dijadikan ‘tumbal’ agar lawanya sadar. Laiknya game terkenal dalam menaklukkan lawannya, teknik Brutal Enemy. Malam pun berlalu dengan dipenuhi bintang bintang yang bertasbih memuji Rabb semesta Alam.
***
Malam berikutnya Syatir yang sedang berdzikir ba’da sholat isya menerima telephon dari seorang wanita
“Syatir, cepat kesini, gawat Syatir”
“tenang, ini siapa tolong beritahu aku ada apa memangnya?”
“saya Suri teman baiknya May, tolong May Syatir. Dia tidak ada hentinya menangis di tempat terahir kali kamu beri hikmah kepada kami semua” jawab Suri dengan suara serak-serak.
“iya, saya segera kesana..”
Syatir mulai kawatir dengan apa yang terjadi pada keadaan May bila itu berlanjut. Dan apa yang harus dilakukannya untuk memecahkan masalah tersebut.
Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar