Powered By Blogger

Rabu, 20 Juli 2011

Haram

Bab iii haram…Nyala biru Jamku.
Syartir dengan motor bututnya berjalan menuju diskotik May. Sebenarnya itu motor tidak pantas dikatain berjalan karena tidak punya kaki apalagi koreng kaki, adanya ya obat nyamuk, eh maksudnya roda tiga dikurangi satu. Namun karena motor tersebut melajunya sangat lambat maka pantatlah dikatakan motor itu berjalan, bukan berenang.
Sesampai di depan diskotik terlihat banyak sekali orang berkumpul dengan wajah syadu. Para gerombolan tersebut melihat ke arah datangnya cahaya redup motor Syatir. Kenapa redup, karena lampu motor Syatir mirip dengan lilin, laju motornya pun seperti berjalan. Karena orang-orang itu sudah mengetahui kalau itu Syatir maka berlarilah mereka ke arah motor Syatir. Sungguh membuat jengkel, larilah para kerumunan untuk menyeret Syatir dari motor bututnya. Melihat seperti itu detak jantung Syatir pun semakin kejang-kejang dan tiba-tiba motor itu mendengung di bagian mesinnya, lalu kenalpotnya mulai menyala otomatis mengeluarkan gas biru yang mendorong motor tersebut melaju dari 20km/jam menjadi 80km/jam.
“minggir baja hitam saya ngamuk” teriak Syatir.
Syatir pun sebenarnya juga heran, kenapa setiap detak jantungnya sangat kencang maka jam tangan yang diberikan kakeknya waktu kecil itupun bisa menyala merah, lalu motor yang dikendarainya seperti ada dorongan NOS dari kenalpot lalu melaju dengan kencang.
***
Sesampai di depan kamar May, Syatir merasakan kesunyian yang menguap memenuhi ruangan May. Hening dan hanya hisakan tanggis yang ada dalam ruangan. Syatir tertegun melihat May masih tersimpuh dalam posisi yang sama seperti yang ia lihat terahir kala itu. Hanya saja sekarang May terlihat begitu anggun dengan jubah panjang yang menjuntai sepanjang tubuhnya. Entah siapa yang memasannya, namun pemandangan itu membuat Syatir tidak lagi risau untuk melepaskan pandangan sewajarnya.
May melihat Syatir yang baru datang. Iya tetap melinangkan buliran-buliran air yang membasahi pipi hingga membentur lantai.
“Syatir, aku ingin kembali. Kembali seperti anak yang baru saja hadir menghirup udara di dunia ini”
“aku ingin bersih, sebersih cawan yang belum pernah ditumpahi anggur dan wine”
“May, masih ada detik untuk bersih, untuk berlari dari kegelapan menuju putihnya cahaya pertaubatan”, jawab Syatir pelan.
Dari para wanita yang disekitarnya mencoba melontarkan kata-kata untuk Syatir, “Syatir, jantung dia kambuh, segera bawa dia ke rumah sakit”
Hati Syatir berkehendak untuk membujuk May pergi ke rumah sakit namun May segera menyahut;
“Syatir berjanjilah padaku, biarkan aku bersimpuh di sini, aku merasa sebentar lagi akan dijemput utusan-Nya. Aku tidak ingin mati di jalan dengan kondisi yang tergesah-gesah, aku juga tidak mau menghadap kepada-Nya dengan keadaan tidak sadar di kerumunan para dokter dengan biusan mereka, aku ingin menghadap kepada-Nya di tempat aku mulai membangun tumpukan dosa, dan tempat dimana aku mengakhiri bagunan ini dengan mengharap Ridho-Nya”
Syatirpun luluh dan buliran-buliran jernih mulai menerjang mata, melembabkan pipi dan berguguran ke lantai. Syatir pun tidak banyak berkata, ia paham bahwa lebih baik May mengahiri hidupnya dengan kepasrahan kepada Alloh dari pada harus bertindak gegabah dengan membawanya ke ruang ICU yang justru akan membuatnya gelisa.
“Laillah ha ilallah” terucap dari kedua bibir Syatir dengan lirih
“laillah ha ilallah” May pun melantunkan dengan perasaan yang sejuk mengalir di dadanya.
“Syatir, aku ingin diskotik ini kamu jadikan titik tolak penghapus dosaku, jadikan diskotik ini tempat kolektif kampusmu dan ajak anak-anak jalanan untuk menempah diri mereka menjadi ksatria islam yang tangguh”.
“Insya Allah May, akan aku jalankan amanah mulia ini”
Ruangan tetap dislimuti isakkan para wanita diskotik, sorotan mata dan getaran gendang telinga hanya mengarah pada pemimpin mereka yang bersiap menghadap Allah SWT.
“Ya Rabb, ku pasrahkan jiwaku untuk menghadapmu, bersihkan jiwaku untuk menghadap kepada-Mu ya Rabb, dan terimalah pertaubatanku karena sesungguhnya Engkau Maha Penyayang dan Pengampun”
“….la illah ha…ilallah…”
“Inna lillahi wa inna….ilaihi raji’un…” untaian kalamullah itu terucap dari kata Syatir. Dan entah mengapa sudah tiga kali jam tangan Syatir yang diwarisi dari kakeknya itu menyala biru.
Semua pelayan menghampiri May dan memeluknya.
***
Satu bulan telah berlalu…
Syatir mulai melebarkan kolektifnya tidak hanya di kampus saja. Melainkan juga mengajak anak jalanan dan orang sekitar gang dolly. Tempat yang kini ia singgahi merupakan tempat yang cukup terkenal dan berpengaruh di daerah dukuh kupang tersebut. Kini tempat yang dulu digunakan untuk menjual manusia oleh May telah menjadi tempat yang full kegiatan agama dan kreatifitas untuk berkarya. Kegiatannya sangat padat melebihi padatnya aktivitas yang ada di islamic center. Tempat itu cukup untuk menampung sebanyak 100 orang lebih. Di dalamnya terdapat kolam renang yang bisa digunakan untuk mandi anak jalanan.
“woiii enak euuuuyyy mandi, sini-sini om syatir ikut mandi” teriak salah satu anak jalanan yang sedang mandi di kolam renang.
“gak mau ah, saya udah mandi Cup, tu anak-anak Putat ajak mandi sekalian renang sana”. Syatir membalasnya.
Suasana masih ramai karena anak Putat juga ikut masuk kolam renang. Maklum yang namanya anak punk tidak pernah mandi, semakin kumal semakin nge-punk.
“wah seger Ming airnya, gak sengaja tadi sampek airnya ketelan lewat mulut ama hidung”
“ah maklum baru belajar, tadi aku juga sempet minum sedikit sih” jawab si Parto.
“iya lumayan seger juga, agak asin sih tadi, tapi enak juga ternyata berenang itu” sahut si Toni.
“ah seger ya?? Ah kabur ah”. Tiba-tiba Cupret keluar dari kolam renang dan lari.
“eh Pret, ngapain lu kabur?” tanya si Parto
“tadi aku kencing ma be-ol di situ, sorrryyy” jawab Cupret sambil lari begitu saja dari kolam renang”
“yieeekkkk gue minum tai ama air seni”
“hoeeekk, Janc*k, c*k..”
“hoii kamfret sini loh makan neh tai-ku juga, hoek..cuh..juh..juh…”
Menyaksikan itu Syatir menarik simpul senyumnya lalu melangkah menuju ruang pengurasan kolam renang.
Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar