Powered By Blogger

Minggu, 09 Januari 2011

Cerpen Pertamaku (kana sang outlier)

Hoi...met nangkring di blog ku yang asyik ni. Selama beberapa minggu kedepan, aku bakal menampilkan beberapa tulisan dari minimagz OPENMIND. Tapi ni aku ada cerpen pertamaku yang dibukukan. Tapi ada yang aneh dalam cerita ini silahkan diamati. Judulnya aku Dolly.
Apa anehnya ya?..selamat menikmati.


AKU DOLLY
Desember. Saatnya musim dingin di UK. Hawa dingin serasa menikam tubuhku yang ngilu. Kubalut tubuhku dengan coat yang biasa kupakai keluar rumah. Tapi tetap saja dingin. Kupakai syal dan long jhon, alat termal untuk menghangatkan tubuh, tapi beku itu masih ada. Mataku mulai melihat ke luar. Jalan-jalan tampak lengang. Hanya sekali dua kali ada mobil lewat. Selebihnya adalah pejalan kaki dengan pakaian tebal. Badan mereka menggigil. Tapi semburat wajah mereka tak sedikitpun mengisyaratkan kemalasan bekerja. Dasar workaholic!!.

Bundaran salju putih berkilau turun kecil-kecil seperti air mata. Jatuh ke genting lalu ke tanah. Menyembunyikan jalan-jalan besar. Aku masih berada di flat. Hanya sesekali melongok ke bawah, barangkali Prof Albert datang. Mataku masih berat. Semalam aku terjaga. Tak tahu kenapa akhir-akhir ini aku susah sekali tidur. Kuarahkan pandanganku ke sudut kamar. Lampu duduk kubiarkan padam. Aku ingin bermalasan hari ini. Menikmati musim dingin yang parau.

If I see u next or never
How can we see forever
Wherever You go
Whatever you do
I’ll be right here waiting for you
I’ll be right here waiting for you


Alunan musik Richard Marx itu semakin menyayat hati. Waiting for whom?. I did’nt know. Suasana flat semakin sunyi. Hanya sesekali terdengar suara ribut di seberang. Mungkin Lucy. Gadis kecil malang yang setiap pagi menangis. Aku tidak seberapa menghiraukan. Toh setelah ini pasti lucy sudah menghentikan tangisannya. Dasar anak kecil. Disuap coklat sudah cukup baginya untuk merelakan mamanya pergi bekerja. Aku hanya berfikir, kenapa musti menangis? Aku sudah terbiasa hidup sendiri, jadi tidak tahu bagaimana rasanya ditinggal mama bekerja padahal kita sedang ingin bermain. Jangankan merasakan hal itu, mamaku sendiri aku belum pernah melihatnya.

Perutku mulai lapar. There’s nothing. Roti panggang bekas kemarin pun tak luput dari sasaran mulutku. Kulumat dengan sangat cepat kemudian aku berbaring lagi. Kertas-kertas berserakan di kamar. Kuambil salah satu. Terpampang banyak resep yang harus aku tebus. Hah…aku mendesah, Nafasku berat. Wajah Prof. Albert kembali membayangiku. Apa benar semudah itu memvonis mati seseorang? Bukankah itu hanya prediksi manusia? Aku seringkali membaca banyak pasien yang divonis mati tapi ternyata mereka masih hidup dalam waktu yang lama. Bukankah hidup semuanya ada di tangan Tuhan? Ya ditangan Tuhan, setidaknya itulah ucapan yang sering aku dengar dari Maria, gadis Moslem yang telah 2 tahun terakhir ini menempati flat atas. Senyumnya senantiasa merekah tiap kali aku ketemu. Padahal kami tidak saling kenal waktu itu. Keluarga Maria sangat bahagia. Setidaknya begitulah menurut pndanganku. Mrs. Nanny, mama Maria, tidak bekerja. Dia mengurusi Maria dan 3 adiknya. Seorang mama yang perilakunya tidak banyak aku temui di Inggris ini. Kebanyakan mama, menitipkan anak mereka ke penitipan anak atau diasuh oleh pembantu mereka di rumah. Tapi Mrs. Nanny tidak. Setiap pagi aku selalu melihat dia dan 4 anaknya duduk disekitar taman kota dan seringkali mereka menghafal sesuatu. Saat aku tanyakan ke Maria. Dia menjawab bahwa mereka sedang menghafalkan kitab sucinya. Maria sendiri telah menghafal 30 surat. Ketika kulihat kitab sucinya, ternyata tebal juga.

“Jane, kamu percaya Tuhan tidak?”
Pertanyaan yang menurutku konyol itu pernah Maria ungkapkan kepadaku saat aku mengantarnya ke ORIENTAL CITY Food Court. Aku hanya mengangguk ragu. Dia tersenyum sambil memandangiku. Aku tidak paham apa yang ada dalam pikirannya.
“Maria, kenapa orang Moslem suka hidup susah?
“What do you mean, Jane?”
“Misalnya, belanja saja, kamu mesti datang ke sini. Bukankah di dekat flat juga ada supermarket?”
Dia menoleh padaku. Kemudian tersenyum lagi. Tangan kanannya memegang tangan kiriku lalu mengajakku duduk di waiting room.
“Jane, apa hidupmu bahagia?”
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Bibirku tidak bergerak sama sekali. Selama ini aku masih memikirkan, seperti apa bahagia itu.
“Jane, bagi seorang moslem, kebahagiaan itu adalah saat semua aktivitas kita bisa terikat dengan seluruh hukum Tuhan. Hukum Allah. Salah satunya adalah masalah makanan. Moslem harus makan makanan yang diperbolehkan Tuhan. Makanan yang halal namanya. Perhaps, next time we could discuss it, okay?”
Aku mengangguk. Ku arahkan pandangan ke sekitar. Saat itu ORIENTAL CITY Food Court sangat ramai. Pusat makanan di 399 Edgware Road, Colindale, LONDON, ini selain terdapat food court makanan Asia, juga memiliki supermarket yang menjual produk-produk halal. Pantesan Maria sering kesini.

Jam dinding berdentang 7 kali menyadarkan aku dari lamunan tentang Maria. Aku mulai bersandar di sofa. Berusaha menegakkan badanku yang sudah mulai rapuh. Ya, badanku terasa rapuh, ringkih. Padahal bulan depan, usiaku baru menginjak 17 tahun. Aku mulai merasa takut. Jangan-jangan apa yang dikatakan Maria itu benar. Bahwa saat kita mati, maka akan ada malaikat yang membawa kita dan menanyai satu persatu tentang apa saja yang telah kita lakukan selama ini. Kata Maria akan ada surga tempat orang-orang baik berada disana. Dan neraka, tempat yang aku merasa ngeri kalau memikirkannya. Entahlah, kata-kata Maria sangat mempengaruhiku. Padahal selama ini aku tidak mengenal Tuhan. Prof. Albert selalu mendidikku dengan science, science dan science. Semuanya berlogika.

Suara bel berbunyi. “Come in,.” aku sudah yakin itu pasti prof. Albert. Karena memang tidak ada kemungkinan yang lain. Jam segini, prof. Albert pasti kesini sambil membawakan seplastik obat untuk aku konsumsi.
“Hi, Jane. Morning”
Aku hanya tersenyum kecut. Badanku panas. Pusing.
“This is your medicine. You have to eat twice a day, okay?”
Aku hanya terdiam, tidak seberapa merespon apa yang dia katakan.
“Jane, whats the matter? Don’t worry. Everthing will gonna be fine. Okay. Now, you have to get breakfast first then get your medicine”
Prof. Albert menyodorkan roti daging dan sebungkus obat. Mataku tidak melirik sama sekali.
“Prof, please tell me, what’s happen with me exactly?” prof. Albert masih terdiam.
“Apa yang sebenarnya terjadi prof? Kenapa tubuhku semakin hari semakin ringkih. Kurus. Pipiku semakin tirus. Apa yang terjadi? Apa sebenarnya penyakit yang sedang aku derita? Please tell me, I’m afraid, please……”
Prof. Albert hanya terdiam. Bibirnya terkunci. Aku menatap matanya. Meminta penjelasan. Dia hanya memandangi wajahku. Membelai rambutku dengan halus. Tidak pernah aku dibelainya sedemikian rupa. Seperti ada yang aneh. Seakan ini adalah pertemuan terakhir kami.
“Jane, I’m sorry…., Mungkin kamu sudah berhak mngetahui suatu rahasia.”
“Rahasia apa? Apa yang prof rahasiakan dariku?”
“Sebenarnya…kamu…kamu ..kamu adalah ciptaanku?”
“What do you mean? I don’t understand”
“Ya, kamu adalah ciptaanku. Aku yang membuatmu. Kamu adalah manusia kloning.”
“Apa? Manusia kloning? Aku manusia kloning? Lantas siapa ibuku? Siapa ayahku? Siapa aku? Aku darimana?” aku tidak percaya. Tubuhku semakin lemas. Air mataku menetes tak terbendung.
Prof Albert mendekat kepadaku. Memeluk tubuhku. Kemudian menatapku dengan rasa bersalah yang memuncak.
“Jane, listen to me. You are my girl. You are my daughter.” Prof Albert kemudian berdiri. Mengambil dompet di tas kerjanya. Lalu memperlihatkan sebuah foto.
“This your Mom”
Aku pandangi foto itu. Oh Tuhan,…foto itu sama persis dengan diriku. Aku tidak bisa membedakan sedikitpun antara foto itu dengan aku. Bentuk matanya, hidung, wajah, postur tubuh. “it’s me, isn’t it?”

“Bukan, itu adalah istriku. Her name is Jane, too. Kami menikah di usia yang masih sangat muda. Dia masih berusia 25 tahun saat itu. Ketika pernikahan kami masuk pada tahun ke 5, dia divonis oleh dokter tidak bisa melahirkan. Rahimnya diangkat karena penyakit kanker. Saat itu, aku bekerja di Roslin Institue, Skotlandia, tempat kolega Ian Wilmuth, ‘pencipta’ domba dolly, domba hasil kloning yang pertama kali. Akhirnya, ibumu meyakinkan aku, bahwa sebenarnya dia bisa punya anak dengan cara kloning. Seperti yang telah dilakukan oleh Ian Wilmuth saat menciptakan Dolly. Awalnya aku menolak. Tapi dia memaksa. Hingga akhirnya aku melakukannya. Aku ambil inti sel yang berisi DNA nya, kemudian aku suntikkan ke sel telur seorang ibu sukarelawan yang intinya sudah kubuang. Hingga akhirnya proses itu menjadi embrio. Dan kamulah embrio itu sekarang.”
Aku hanya terperangah. Tidak bisa mengatakan apa-apa. Kami saling terdiam. Baru kemudian aku berkata “Now, where is Jane? Where is my mom? Is she still alive?”

Prof. albert tidak menjawab. Aku semakin mengeraskan suaraku “Is she still alive?”
“Yeah…dia masih hidup. Namun kondisinya semakin mengerikan. Dia terkena kanker yang sangat kronis. Aku sengaja menyembunyikan hal itu dari kamu. Jika kamu ingin melihatnya, mungkin memang sudah saatnya. Akan aku ajak kau kesana.”
Salju di pusat kota New York semakin memadat. Yang ada hanya pemandangan serba putih dan hiasan merry cristmas dijalan-jalan. Aku dibopong prof Albert…maksudku papaku atau penciptaku atau apalah aku tidak tahu harus menyebutnya apa. Karena aku memang bukan anak siapa-siapa.

London, Still in Desember.
Tepi sungai Thames di sebelah selatan kota London tampak tertutupi salju. Meskipun beberapa ruas jalan disekitarnya sudah dibersihkan petugas jalan, namun karena salju yang sangat deras, hanya dalam hitungan detik, jalan-jalan itu hilang kembali. Bersembunyi dibalik salju. Jika jalan-jalan darat saja seperti itu, bagaimana dengan terowongan bawah tanah. Aku jadi teringat Maria. Ya, Desember tahun lalu, aku dan Maria sempat pergi bersama melalui London underground. Jaringan kereta bawah tanah tertua dan tersibuk didunia ini memang sangat ramai. Bayangkan saja, 3 juta pengguna perhari. Rindu rasanya aku dengan kesempatan itu. Pasti sangat menyenangkan, berputar-putar di kawasan Metropolitan Railway yang sekarang rutenya dilayani oleh Circle Line dan Hammersmith & City Line. Jaringan ini memiliki 274 stasiun serta 253 mil atau 408 km rel aktif. Keren pokoknya.

Saat kereta melaju dengan kecepatan tinggi, maria bertanya kepadaku “Jane, apa kamu takut mati?”
“Hi, come on don’t say like that. Are you joking? Of course everyone afraid with it. You do too, don’t you?”
“No, I’m not. Karena kematian itu sesuatu yang pasti. Pasti datang. Kematian itu sesuatu yang sangat dekat. Bahkan lebih dekat jika dibandingkan dengan urat nadi kita”
Ya, kematian. Apakah itu yang saat ini sedang kutunggu? Dadaku terasa sesak. Prof Albert masih tertidur pulas disampingku. Ruangan ini baunya sangat khas. Bau obat. Yah, begitulah rumah sakit.
“Jane, kau sudah bangun?”
Mata Prof Albert sangat sipit. Menandakan keletihan dan kepayahan yang sangat.
“What about my Mom? Is she still alive? I wanna meet her”
“Jane, I’m sorry. Your Mom was dead an hour ago. Its okay. Everything will gonna be fine”
“Prof. Lantas kapan giliranku? Bukankah aku hasil kloning dari Jane juga?”
“Jangan mengatakan itu. Kamu masih muda. Kamu bisa bertahan menghadapi penyakit ini”
“Prof jujur saja padaku, apa sebenarnya penyakitku ini?”
“Kamu hanya kecapekan, daya tahan tubuhmu sedang menurun. Itu saja”

“Prof. jangan berbohong. Aku sudah tahu semuanya. Aku adalah manusia kloning seperti yang kau katakan. Usiaku sebenarnya adalah usia genetik. Seperti halnya domba Dolly hasil kloning pertama kali. Profesor sangat tahu, sangat paham bukan. Bahwa Dolly tidak bisa bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama. Dolly lahir tahun 1996. Ia berasal dari kloning sel ambing seekor domba jenis Finn Dorset dewasa yang saat itu sudah berumur enam tahun. Ketika Dolly berumur tiga tahun, ia mulai terkena radang sendi, penyakit yang biasanya menyerang domba usia tua. Setelah itu berbagai penyakit lain mendera termasuk radang paru-paru kronis. Penyakit ini pula yang akhirnya membuat seorang dokter hewan diminta "menidurkan" Dolly selama-lamanya. Para ahli di Roslin Institute telah gagal menyembuhkannya. Dolly mati pada umur sekitar 6 tahun, Jumat petang 14 Februari 2003. Karena Dolly berasal dari sel induk yang sudah berusia 6 tahun, maka sebenarnya dia akan mengalami penuaan dini dihitung dari usia kelahirannya. Sehingga umur dia seharusnya dihitung dengan menjumlahkannya dengan usia sel induknya. Dengan demikian umur Dolly sampai dengan kematiannya adalah lebih kurang 12 tahun. Ini sesuai dengan umur domba jenis Finn Dorset, yang rata-rata mencapai 11 tahun.”

Aku menghela nafas panjang. Menghirup kembali kemudian melepaskannya.
“Prof, saat ini usiaku sekitar 17 tahun. Dan ketika Jane, mamaku atau istrimu atau siapalah dia aku tidak bisa menyebutnya sebagai apaku, saat dia mengkloningkan diri, usianya ketika itu 30 tahun bukan? Satu jam yang lalu, dia sudah meninggal, tepat diusianya yang ke 47 tahun. Itu berarti bahwa usiaku sebenarnya sudah 30 tahun ditambah 17 tahun. Yah, usiaku sudah 47 tahun. Pantas saja tubuhku sudah merasa sakit-sakitan. Ya..usiaku adalah usia genetic. Bukan begitu Prof? Kenapa kau tidak jujur padaku?”

Mataku mulai kabur. Aku hanya bisa sedikit meraba wajah prof Albert yang penuh dengan air mata. Aku berusaha mengumpulkan tenaga untuk menghabiskan kata-kataku.
“Jika Dolly ditidurkan selamanya, kenapa kau tidak melakukan itu padaku? Apakah kau takut? Sebenarnya dengan menciptakan aku, engkau telah melawan hak Tuhan. Bagaimana jika saat itu, aku tidak lahir normal? Apakah kau akan membunuhku?”
Kata-kataku tersangkut di tenggorokan. Aku sudah tidak bisa meneruskan kata-kataku. Salju terus turun. Sungai Thames mulai tak nampak lagi kilaunya. Burung-burung enggan terbang. Langit nampak putih. Beku. Aku sudah pergi, ………menyusul Dolly.
(THE END)

...gIMANA ADA YANG ANEH GA? Betul nih cerita settingnya di kota London, tapi kok ada kota New York ya? New York kan ga di London, New York kan sebelahnya Nyugyorkarta, hehehe...apa di Sumenep ya? Waduh OI...NEW YORK DIMANA? ??? Sorri geografi dapet enem. Btw, yang penting nih buku dah nangkring di kumpulan cerpen terbitan BINA ILMU judul kumpulan cerpennya KUTEMUKAN CINTA DALAM TAHAJUDKU. My first short story. BELI YAAA...^_^... (nyopet punyae dek kana) hahahahahahaha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar